Kisah Suka Duka Perjalanan Pendidikan Spesialis Dokter

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Kisah Suka Duka Perjalanan Pendidikan Spesialis Dokter Kisah perjuangan menyelesaikan pendidikan ahli Obgyn di FKUI.(Dok. MI)

RABBANIA Hiksas menjadi sorotan dalam aktivitas pelepasan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Senin (26/8). Ia sukses menyelesaikan pendidikan spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna 4,00.

Pencapaian ini diakui Rabbania jauh di luar ekspektasinya. Baginya, nilai sempurna bukanlah sasaran utama sejak awal menempuh pendidikan di FKUI maupun saat mengambil gelar Bachelor of Medical Science and Nursing di Melbourne. Ia menyebut kunci keberhasilannya terletak pada konsistensi mengelola tugas tanpa menunda pekerjaan.

"Yang paling krusial adalah gimana kita bisa konsisten berupaya buat tidak menunda pekerjaan. Karena deadline pasti datang bertubi-tubi. Jadi, apa nan bisa dikerjakan, dikerjakan dulu saja," ungkap Rabbania di sela-sela aktivitas penyambutan Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) baru tersebut.

Menurutnya, menempuh pendidikan ahli bukan sekadar menghafal materi medis. Kemampuan intrapersonal dan komunikasi dengan pasien serta pembimbing menjadi aspek krusial. Ia menekankan bahwa seorang master kudu bisa menyampaikan info dengan tepat sesuai dengan kondisi musuh bicaranya.

Meski terlihat mulus, perjalanan Rabbania tidak lepas dari rasa lelah. Beban kerja tinggi dan agenda jaga malam nan padat menuntut profesionalisme tanpa kompromi.

"Capek dan mengeluh itu pasti ada, apalagi di Obgyn ada jaga malam dan besoknya kudu siap sedia lagi, tidak boleh terlihat capek di depan pasien," tambahnya.

Salah satu pengalaman paling membekas baginya adalah saat menghadapi situasi kritis nan menakut-nakuti nyawa ibu dan janin. Ia menyadari bahwa dalam hitungan detik, keputusan seorang master sangat menentukan. Hal ini membuatnya merefleksikan tanggung jawab besar pekerjaan master nan kudu dijalani dengan hati.

Terkait rumor kesehatan nasional, Rabbania menyoroti pentingnya persiapan kehamilan sejak awal untuk menekan nomor kematian ibu dan anak. Ia berpesan kepada rekan sejawat nan tetap berjuang agar tetap konsentrasi pada proses masing-masing tanpa perlu membandingkan diri dengan orang lain.

"Jangan lupakan keluarga. Pendidikan ini mungkin hanya lima alias enam tahun, tapi family adalah tempat kita kembali. Jangan sampai dalam proses ini kita melupakan mereka nan selalu ada saat kita jatuh," pungkasnya. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia