Sharfina Diah Nuratika, jemaah haji autis asal Indonesia, sukses menuntaskan ibadah haji 2026.(Dok. MCH 2026)
SLOGAN "Haji 2026 Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan" bukan sekadar jargon. Sharfina Diah Nuratika (30), jemaah haji penyandang disabilitas autis asal Indonesia, membuktikan bahwa keterbatasan mental bukan penghalang untuk meraih kewenangan spiritual nan setara di Tanah Suci.
Kehadiran Sharfina di tengah jutaan jemaah haji tahun ini menjadi catatan sejarah penting. Ia diyakini sebagai salah satu jemaah haji autis pertama dari Indonesia nan sukses menuntaskan seluruh rangkaian rukun haji, mulai dari tawaf, sa'i, hingga fase krusial di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND), Deka Kurniawan, menegaskan bahwa setiap penduduk negara mempunyai kewenangan nan sama dalam setiap lini kehidupan, termasuk keagamaan
. "Penyandang disabilitas di Indonesia tetap sering mendapatkan stigma negatif seakan tidak setara. Kisah Sharfina ini menembus pemisah kemustahilan," ujar Deka di Mekah, Senin (8/6).
Persiapan Belasan Tahun
Keberhasilan Sharfina tidak datang secara instan. Sang ibu, Lilis Ardifiyanti, mengungkapkan bahwa persiapan telah dilakukan sejak 2008 melalui uji coba ibadah umrah. Keyakinan family semakin kuat setelah memandang Sharfina bisa beradaptasi dengan kerumunan tanpa mengalami tantrum.
Begitu Sharfina mempunyai KTP pada 2013, family langsung mendaftarkannya ke Kemenag Tangsel. Setelah menanti selama 13 tahun akibat antrean reguler dan pandemi Covid-19, asa itu akhirnya terwujud pada musim haji 2026.
Sebelum berangkat, Sharfina dilatih menghadapi penerbangan jarak jauh, perjalanan grup wisata, hingga menjalani umrah kedua pada Desember 2023 sebagai penyegaran memori sebelum puncak haji.
Barikade Kasih Sayang di Lapangan
Selama menjalankan ibadah di Masjidil Haram, family menerapkan strategi perlindungan khusus. Sang ayah, Andre, menjelaskan bahwa pinggang Sharfina dipasangi sabuk pengaman nan ditautkan ke sabuk ibunya. Sementara itu, Andre dan putra sulungnya, Aditya Kemal, bertindak sebagai barikade hidup di baris belakang.
Strategi ini terbukti efektif. Pada 10 Dzulhijjah, Sharfina apalagi sanggup melangkah kaki dari tenda Mina menuju Jamarat untuk melempar jumrah aqabah. Untuk menjaga kondisi fisiknya, prosesi lempar jumrah pada hari tasyrik kemudian dibadalkan oleh sang kakak.
Kisah perjalanan spiritual Sharfina mengirimkan pesan kuat bahwa Baitullah memanggil siapa saja nan dikehendaki-Nya. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa dengan manajemen persiapan nan matang dan sistem pendukung family nan kuat, keterbatasan bentuk maupun mental dapat teratasi dalam menunaikan rukun Islam kelima.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·