Cikal Bintang
, Jurnalis-Rabu, 15 Juli 2026 |01:01 WIB

Tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie. (Foto: PBSI)
TOKYO - Tunggal putra jagoan Indonesia, Jonatan Christie, kudu terhenti prematur di arena Japan Open 2026. Pemain nan berkawan disapa Jojo ini mengaku kesulitan mengendalikan jalannya pertandingan akibat laju shuttlecock nan tidak sesuai prediksi serta responsnya nan kurang sigap di lapangan.
Jonatan Christie resmi tersingkir setelah kalah dari wakil Thailand, Panitchaphon Teeraratsakul, di babak 32 besar Japan Open 2026. Dia kalah dalam dua gim langsung dengan skor 16-21 dan 14-21 di Tokyo Metropolitan Gymnasium, Tokyo, Jepang pada Selasa 14 Juli 2026.
Berlaga sebagai unggulan keempat pada turnamen BWF Super 750 tersebut, Jonatan tak bisa membendung permainan garang Panitchaphon. Peraih lencana emas Asian Games 2018 itu pun kudu mengakui kehebatan Panitchaphon.
Jonatan mengungkapkan perubahan karakter shuttlecock menjadi salah satu aspek nan menyulitkannya sepanjang pertandingan. Menurutnya, laju kok jauh lebih sigap dibandingkan saat sesi latihan resmi sehingga memaksanya mengubah strategi di tengah laga.
1. Kendala Adaptasi Strategi di Lapangan
"Jadi, tadi juga sebenarnya sedikit berubah langkah mainnya, pola strateginya, tetapi tadi tetap kurang bisa mengatasi perubahan langkah bermainnya itu," ujar Jonatan dikutip dari rilis resmi PBSI, Rabu (15/7/2026).
Jonatan Christie
Sebenarnya, Jonatan mengawali gim pertama dengan cukup meyakinkan. Dia sempat memimpin 5-0, kemudian menjaga kelebihan hingga 7-4 sebelum Panitchaphon bangkit membalikkan keadaan dengan rentetan tujuh poin.
Selepas interval, Jonatan sempat memangkas ketertinggalan lewat tiga poin beruntun. Namun, Panitchaphon tetap bisa menjaga konsistensi permainannya hingga mengamankan kemenangan pada gim pembuka.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·