Ilustrasi kebakaran rimba dan lahan (karhutla).(Dok. Antara)
BMKG memprakirakan puncak musim kemarau di wilayah DI Yogyakarta (DIY) terjadi pada Agustus 2026. Masyarakat pun diimbau waspada terhadap potensi kejadian kebakaran rimba dan lahan (karhutla).
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan, BNPB mengimbau pemerintah wilayah dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi musibah hidrometeorologi selama musim kemarau, khususnya karhutla.
"Pemerintah wilayah diharapkan terus memperkuat kesiapsiagaan, pemantauan, serta penemuan awal terhadap potensi karhutla dan memastikan kesiapan sarana prasarana pemadaman," terang dia dalam siaran pers, Senin (27/7).
Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran di wilayah nan rawan terbakar. Apabila masyarakat mengetahui alias memandang kejadian kebakaran, segera lapor kepada otoritas wilayah setempat agar penanganan dapat dilakukan secara sigap dan efektif.
Di DIY, karhutla tercatat banyak terjadi di Kabupaten Bantul. Dua peristiwa karhutla belakangan ini terjadi di Bukit Putat, Kalurahan Selopamioro serta Kelurahan Wukirsari pada Minggu (26/7). Karhutla nan terjadi di dua wilayah tersebut mencapai sekitar lima hektar di Bukit Putat dan tiga hektar di Wukirsari.
Kepala Bidang Damkarmat BPBD Bantul, Kristanto Kurniawan mengimbau masyarakat agar masyarakat lebih waspada terhadap potensi karhutla. Pasalnya, pihaknya mencatat, selama Juni 2026 sebanyak delapan kejadian karhutla. Pada bulan Juli, hingga 22 Juli, 17 karhutla telah terjadi.
Selain Kabupaten Bantul, dua Karhutla juga terjadi di Kabupaten Kulonprogo. Keduanya terjadi di Kecamatan Pengasih, Kulonprogo pada Sabtu dan Minggu (25/7). Luas lahan nan terbakar sekitar satu hektar.
"Kami imbau lebih waspada dan tidak membakar sampah sembarangan agar terhindar dari kejadian kebakaran," pesan.Setiawan Tri Widada, Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·