Kisah Rehan/Melati di Ujung Tanduk, Pelatih Siap Lakukan Perombakan Usai Gagal Juara di Pontianak Indonesia Masters 2026

Sedang Trending 34 menit yang lalu

Kisah Rehan/Melati di Ujung Tanduk, Pelatih Siap Lakukan Perombakan Usai Gagal Juara di Pontianak Indonesia Masters 2026

Ganda campuran Indonesia, Rehan Naufal Kusharjanto/Melati Daeva Oktavianti. (Foto: PBSI)

PERJALANAN ganda campuran debutan PB Djarum, Rehan Naufal Kusharjanto/Melati Daeva Oktavianti, kudu terhenti di babak semifinal Pontianak Indonesia Masters 2026. Bertanding di GOR Terpadu A. Yani, Kalimantan Barat, pasangan anyar ini takluk dua gim langsung dari wakil muda China, Liao Pin Yi/Zhang Jia Han.

Kekalahan dengan skor 18-21 dan 18-21 tersebut langsung memancing sorotan dari sang pelatih, Vita Marissa, mengenai masa depan duet tersebut. Terlebih lagi, rekam jejak kedua pemain di panggung bulu tangkis internasional sebenarnya tergolong sudah sangat berpengalaman.

1. Evaluasi Tegas dari Pelatih Vita Marissa

Menanggapi hasil minor tersebut, Vita Marissa dengan terbuka menyatakan bahwa pencapaian anak asuhnya tetap berada di bawah sasaran awal. Vita menilai dengan pengalaman nan sudah dimiliki Rehan/Melati semestinya mereka bisa mencapai final, apalagi juara.

"Hasil ini di luar dari angan nan diinginkan. Seharusnya dengan pengalaman nan mereka punya berbareng pasangan-pasangan sebelumnya, hasil di sini bisa lebih dari semifinal," ujar Vita, dikutip dari laman resmi PB Djarum, Senin (7/9/2026).

Meskipun demikian, Vita tetap memberikan sedikit pemakluman mengingat status mereka nan baru pertama kali disandingkan dalam sebuah turnamen resmi. Ia juga memandang Rehan/Melati bermain cukup baik hingga membikin lawan-lawannya kerepotan.

 PBSI) Rehan Naufal berbareng Melati Daeva. (Foto: PBSI)

"Tetapi, saya sendiri tetap memakluminya lantaran ini pertama kali mereka dipasangkan, dan kalahnya pun tidak mudah begitu saja. Lawan kesulitan untuk bisa mengalahkan Rehan/Melati," tambahnya.

Dalam laga semifinal tersebut, Vita juga menyoroti kelemahan krusial anak asuhnya nan kerap kehilangan konsentrasi menjelang akhir pertandingan. Faktor ketenangan di poin-poin kritis dinilai menjadi pembeda utama nan membikin kemenangan di depan mata kudu sirna.

"Di semifinal tadi saya memandang Rehan kurang tenang menghadapi poin-poin kritis nan akhirnya membikin keadaan berbalik. Dari nan selalu unggul, di akhir-akhir justru lenyap konsentrasi dan akhirnya kalah," jelas sang pelatih.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com