
Rachel Robertson bermimpi bisa bersaing di arena balap Formula One. (Foto: Instagram/rachelrobertsonracing)
BANYAK yang mengira Rachel Robertson tampak seperti remaja Inggris pada umumnya nan doyan berkumpul berbareng teman-temannya. Namun, begitu dia mengenakan baju balap dan duduk di kembali kemudi mobil berkekuatan 174 tenaga kuda, Rachel berubah menjadi salah satu penguasa kecepatan.
Remaja berumur 18 tahun ini adalah bagian dari golongan elit wanita nan sedang berjuang meruntuhkan tembok tebal berjulukan tradisi dan biaya dalam olahraga otomotif.
Melalui F1 Academy, sebuah kejuaraan unik wanita nan diprakarsai oleh Formula 1 (F1) Group, Rachel dan rekan-rekannya membawa misi besar, menjadi wanita pertama dalam 50 tahun terakhir nan bisa menembus kasta tertinggi Formula 1. Perjalanan ini tidak mudah, mengingat sejarah mencatat bahwa Lella Lombardi adalah wanita terakhir nan betul-betul berkompetisi di grid F1 pada tahun 1976 silam.
1. Melawan Stigma
Bagi banyak pembalap wanita, tantangan terbesar bukan hanya soal teknis di lintasan, melainkan sentimen meremehkan dari lingkungan sekitar. Esmee Kosterman, pembalap asal Belanda, mengenang masa kecilnya saat dia lebih memilih sirkuit balap daripada menari seperti kemauan ibunya.
Kosterman pun seringkali mendapat hinaan dari pembalap laki-laki nan menyebut bahwa balapan bukanlah olahraga untuk perempuan. Hal serupa dialami Rachel Robertson. Sejak memulai karting di usia 14 tahun, dia kerap dianggap sebagai gangguan oleh musuh pria, bukan pesaing serius.
Rachel Robertson. (Foto: Instagram/rachelrobertsonracing)
Rachel mengungkapkan sebuah realita pahit, jika dia kalah, para pembalap laki-laki bakal bersikap ramah, namun jika dia menang dan melewati garis finis lebih dulu, suasana seketika menjadi hening tanpa pengakuan. Padahal, secara teoritis, balapan adalah salah satu dari sedikit olahraga di mana laki-laki dan wanita dapat bersaing secara setara.
"Seringkali dalam pikiran mereka, ‘oh, itu hanya seorang wanita di depanku, saya bakal menyingkirkannya dari lintasan'. Mereka tidak mau mengakui bahwa sebenarnya Anda lebih baik. Jika Anda kalah dari beberapa dari mereka, maka mereka bakal berkata, 'Itu bagus'. Tapi jika Anda menang? Mereka tidak bakal mengatakan apa pun,” kata Rachel, melansir dari BBC, Minggu (15/3/2026).
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·