Dari nan sebelumnya hanya mengikuti kebiasaan, perempuan petani sawit sekarang mulai beralih bentuk menjadi pengelola nan lebih berdikari dan percaya diri. Di beragam wilayah sentra sawit rakyat, wanita sekarang semakin aktif terlibat dalam pengelolaan kebun.
Mulai dari memilih bibit, menentukan waktu pemupukan, hingga memastikan proses panen dilakukan petani wanita dengan benar. Peran ini tumbuh seiring meningkatnya kesadaran bahwa keberhasilan kebun tidak hanya ditentukan oleh tenaga, tetapi juga pengetahuan.
Namun, perjalanan menuju perubahan tersebut tidak selalu mulus. Banyak petani wanita sebelumnya menghadapi keterbatasan akses info dan minimnya pendampingan teknis. Praktik bertani pun kerap dilakukan berasas kebiasaan turun-temurun, tanpa pemahaman nan cukup mengenai standar budidaya nan baik.
Ida Farida, petani sawit dari Desa Mendik, Paser, Kalimantan Timur, menjadi salah satu contoh. Ia mengaku sebelumnya memanen tandan buah segar (TBS) tanpa betul-betul memahami tingkat kematangan nan ideal. Buah nan dipanen sering kali belum matang sempurna, sehingga nilai jual nan diterima pun tidak optimal saat dijual ke pabrik kelapa sawit.
“Saya betul-betul baru mengetahui jika sawit nan tetap mini itu tidak boleh dipotong dulu. Sebelumnya saya belum tahu, jadi asal panen saja. Sekarang jadi tahu ilmunya, jadi lebih mengerti mana nan sudah layak dipanen dan mana nan belum, agar hasilnya juga bisa lebih bagus,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (21/4).
Perubahan dalam langkah pandang tersebut mulai dirasakan setelah Ida mengikuti training PERKASA (Petani Berkualitas dan Sejahtera) dari PT Muaratoyu Subur Lestari, personil of PT Triputra Agro Persada Tbk, nan berfokus pada peningkatan kapabilitas petani melalui pembelajaran praktis di lapangan. Melalui training tersebut, Ida tidak hanya memahami soal kriteria panen, tetapi juga aspek perawatan kebun nan sebelumnya kerap terabaikan.
“Saya juga baru tahu jika pohon sawit nan sudah meninggal tidak boleh dibiarkan. Dulu saya biarkan saja lantaran tidak tahu. Setelah dijelaskan, rupanya itu bisa jadi sumber penyakit dan menular ke tanaman lain, jadi sekarang langsung ditebang,” ungkapnya.
Pelatihan PERKASA merupakan bagian dari inisiatif TAP untuk Negeri sebagai sahabat petani dari PT Triputra Agro Persada Tbk nan konsisten dan konsentrasi dalam meningkatkan kualitas agronomi. Melalui program ini, produktivitas kebun petani diharapkan meningkat seiring tumbuhnya kesejahteraan secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan manifestasi nilai luhur nan ditanamkan oleh Bapak T.P. Rachmat sebagai salah satu pendiri perusahaan, dengan filosofi menjadi perusahaan nan lahir dari, oleh, dan untuk Indonesia.
Program training PERKASA dirancang dengan memadukan 40 persen teori dasar dan 60 persen praktik langsung di lapangan secara intensif selama tiga hari. Harapannya, petani peserta dapat langsung mempraktikkan langkah merawat tanaman secara presisi, sehingga mereka pulang dengan kepercayaan diri untuk menjadi mahir di kebun sendiri.
Syarifah, peserta training PERKASA dari PT Gawi Bahandep Sawit Mekar, member of PT Triputra Agro Persada Tbk sekaligus Sekretaris Desa Sembuluh Dua menjelaskan banyak petani, tak terkecuali petani wanita di desanya selama ini mengelola kebun sawit seadanya lantaran keterbatasan pengetahuan. Alhasil, produktivitas nan didapat juga ala kadarnya.
“Masyarakat sebelumnya tidak mengetahui gimana langkah pemupukan, panen, dan perawatan tanaman nan betul sehingga hasil nan didapat tidak maksimal. Setelah ikut training PERKASA kami jadi tahu waktu nan tepat, langkah nan benar, dan argumen di kembali setiap tindakan di kebun. PERKASA telah membuka wawasan kami dan membikin kami lebih percaya dalam mengelola kebun sendiri,” ungkapnya.
Untuk mengoptimalkan hasil pelatihan, perusahaan juga melakukan monitoring pascapelatihan secara berkala. Tujuannya untuk memastikan para petani betul-betul menerapkan pengetahuan nan didapat di kebun masing-masing. Pendampingan berkepanjangan ini menjadi kunci agar transformasi langkah bertani tidak hanya berkarakter sesaat, melainkan menjadi standar baru bagi produktivitas mereka.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·