Jakarta -
Tidak mudah bagi pelaku upaya bangkit kembali dari akibat Pandemi COVID-19 enam tahun lalu. Namun Hikma Nurul Audhliya bisa memulai lagi dari nol, merintis upaya kuliner sehat berjulukan Salad Umma.
Usahanya ini sukses naik kelas berkah pendampingan dan support pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Seperti apa kisahnya?
Awalnya, wanita 38 tahun ini menjalani pekerjaan sebagai perias wajah alias makeup artist (MUA). Namun, dia kudu menelan pil pahit saat pandemi. Seluruh agenda aktivitas pernikahan dibatalkan seketika nan membuatnya kudu menjual mobil untuk bayar tukar rugi di bawah Rp 100 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akhir 2020 itu semua pesanan wedding di-cancel lantaran pandemi. Padahal duit DP sudah masuk ke vendor dekor, tenda, bunga. Akhirnya semua dijual, baju dijual, perangkat make-up dijual. Intinya closing, sudah pasrah," ujarnya kepada detikcom di Tebet, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Ikut Pelatihan Usaha
Keadaan ekonomi nan menjepit saat itu memaksa Hikma mencari kesempatan baru. Ia kemudian mengikuti program Kartu Prakerja dan kandas di gelombang pertama. Ia baru lolos di kesempatan berikutnya dan mendapat voucher training upaya Rp 1 juta.
Hikma kemudian memilih kelas makeup lantaran berambisi industri intermezo dan pernikahan kembali bangkit. Namun, situasi nan tak kunjung membaik kala itu membuatnya beralih pada kelas upaya nan praktis. Pilihannya jatuh pada salad sayur.
"(Waktu itu) pikir apa ya upaya nan nggak pake kompor, ringkas, mudah, nggak perlu minyak, nggak perlu gas, tapi mengakomodir kebutuhan masyarakat saat ini nan mau hidup sehat, jadi pilih salad sayur," ungkapnya.
Hikma kemudian mulai merintis upaya kecilnya dari dapur rumah. Ia mendapat modal Rp 2,4 juta dari Kartu Prakerja nan diterima Rp 600 ribu selama empat bulan. Dana tersebut dia gunakan untuk membeli bahan baku dan peralatan sederhana secara berjenjang seperti chopper, blender, jenis kemasan, hingga showcase.
Perlahan tapi pasti, upaya Hikma mulai menemukan pasar, lantaran letak usahanya dekat dengan area indekost karyawan/karyawati. Dari hanya menjual salad sayur, dia berinovasi menghadirkan salad buah usai mendapat pesanan untuk aktivitas ulang tahun pada tahun 2022.
Kendati begitu, namanya upaya pasti ada pasang surutnya. Dalam perjalanannya, omzet Salad Umma naik turun meski sudah buka pesanan online dan promosi di media sosial. Kadang pendapatannya hanya Rp 15 ribu, kadang naik menjadi Rp 100 ribu sehari. Bahkan pada momen tertentu dia tak dapat pesanan sama sekali.
Usaha Salad Umma mulai meningkat lagi sejak produknya mendapat sertifikasi legal dan mengikuti aktivitas pagelaran dari Jakpreneur. Dari situ dia mulai mendapat jejaring sampai mendapat pesanan rutin untuk rapat kementerian dan pemerintah daerah. Kemudian omzet harian naik bisa sampai Rp 1 juta per hari.
KFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom
Naik Kelas Lewat KUR BRI
Meski pesanan mulai kembali banyak, Hikma merasa usahanya bakal susah berkembang jika hanya mengandalkan dapur nan tersembunyi di belakang rumah. Kadang, dia menyebutnya sebagai 'invisible retail', karena bisnisnya ada di medsos tapi fisiknya tidak.
Akhirnya pada 2025 Hikma memberanikan diri mengusulkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke Kantor BRI Unit Tebet Barat sebesar Rp 100 juta. Dana itu dia gunakan untuk menyulap area carport rumahnya menjadi outlet Salad Umma.
Hikma berterima kasih berkah KUR BRI keberadaan outletnya meningkatkan kepercayaan konsumen pada usahanya. Sebab, outlet tersebut lebih mudah dijangkau oleh konsumen, baik nan melakukan pesanan online maupun masyarakat sekitar nan kebetulan lewat.
"Itu kemudahannya. Terus trust orang juga beda ya. Pas sudah punya outlet ini. Orderan itu meningkat," jelasnya.
Keputusan scale up ini juga rupanya berbuah manis. Sebelum punya outlet, omzet paling tinggi rata-rata hanya Rp 1 juta. Kini setelah mendapat support pembiayaan dari BRI dan mempunyai outlet omzetnya tembus sampai Rp 2-3 juta per hari.
Bahkan, pada momentum Ramadan kemarin penjualan salad Umma meningkat drastis. Ia banyak mendapat pesanan hampers dari beragam kalangan. Hal ini membikin omzetnya tembus mencapai Rp 6 juta per hari.
"Ternyata ya soft opening di September 2025 itu sepertinya tuh momen nan tepat lantaran tuh kayak gini (hasilnya), berfaedah emang persiapan buat Ramadan matang jadi pas begitu datang Ramadan kita udah lihat ritme customer-nya tuh udah kelihatan. Tapi rupanya walaupun bisa memprediksi kayak gitu, terjadi aja lonjakan, orang makin trust, terus upaya kita juga berkembang ya secara omzet, secara relasi," kenangnya.
"Sebelum ada outlet. Kalau orang telepon. Kita bilang enggak ada. Karena kita bikin by order ya. Kalau sekarang mah, orang lewat mampir, orang mau mesen (banyak), kita lihat stok. Kalau bahan ada kita langsung buatin saat itu juga. Mau di pick up, mau di kirim, jadi nggak ada hambatan," jelasnya.
Oleh lantaran itu, Hikma berterima kasih kepada BRI khususnya Mantri BRI Unit Tebet Barat Nicko Irawan, nan sudah membantu mendampingi usahanya menjadi bimbingan BRI. Menurutnya, Salad Umma sekarang mempunyai arah jelas ke depannya.
"Kenal sama Pak Nicko (Mantri BRI) di bank, arahnya jelas mau scale up. Pak Nicko nan bantu dampingi terus. Dia juga nan mendorong untuk naik kelas," jelasnya.
Membuka Lapangan Pekerjaan
Di sisi lain, berkah perkembangan usahanya ini, Hikma turut membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang di sekitarnya untuk menjaga bazar. Ia memberdayakan mahasiswa kewirausahaan nan mau mendapat tambahan duit saku sekaligus sembari belajar praktik di lapangan.
"Kalau high season bisa pagelaran satu hari di beberapa tempat. Hire mahasiswa, mahasiswa kewirausahaan. Kebetulan suami pengajar di Universitas Saintek Muhammadiyah, Ciracas," ungkapnya.
"Katanya mereka teori-teori terus, jenuh ya, jadi dikasih praktik kemarin (bazar) di balai kota, ada nan dinas ketahanan pangan, ada nan di mall point square, lebak bulus," imbuhnya.
Alasan Hikma memilih para mahasiswa selain pandai berkomunikasi juga bisa menjelaskan kelebihan produk Salad Umma. Sebab, kata dia, tantangan ikut pagelaran itu kudu menjelaskan ke konsumen baru.
"Kalau ditempatkan pagelaran di tempat baru, ya kudu itu, saya bilang kudu bisa menjelaskan produk knowledgenya kudu bagus diterangin ini itu juga, yaudah ada nih ini nih gitu yaudah boleh," katanya.
Selain mahasiswa, Hikma juga mepekerjakan istri marbot masjid di sekitar rumahnya. Namanya Hera Chaerunisa, dia membantu Hikma menjalankan operasional upaya di outletnya termasuk pemilihan bahan-bahannya.
Hikma mengaku kunci kesukesan Salad Umma ini juga terletak pada bahan baku nan berkualitas. Ia konsisten menggunakan sayur dan buah-buahan dari supplier premium untuk menjaga ketahanan produknya.
"Kalau shopping di pasar itu kadang-kadang bukan buah nan saat itu datang, jadi di beragam kondisi bahannya, ngaruh juga ke produk kita," jelasnya.
"Jadi mendingan nilai mahal sedikit tapi penjualannya berkesinambungan, jadi orang nggak kecewa, jadi maintain customer lamanya seperti itu," tambahnya.
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom
Komitmen Pemberdayaan UMKM
Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Mantri BRI Unit Tebet Barat Nicko Irawan mengonfirmasi bahwa Owner Salad Umma, Hikma Nurul Audhliya, adalah pengguna BRI. Awal mula pendampingan upaya ini terjalin saat Hikma mendatangi instansi unit untuk meningkatkan usahanya.
Pihaknya langsung melakukan survei lapangan untuk memverifikasi kebutuhan dan memandang potensi upaya dari Salad Umma. BRI Unit Tebet Barat kemudian menyetujui pengajuan tersebut dengan proses nan sigap dalam waktu dua hingga tiga hari.
Melalui support pembiayaan itu, Nicko berambisi agar Salad Umma dapat terus konsisten melahirkan beragam penemuan produk nan dapat menarik minat pasar. Sehingga upaya kuliner sehat tersebut bisa berkembang lebih luas menjangkau banyak pelanggan.
"Kita berambisi semakin banyak penemuan produk Salad Umma, dan semoga upaya ke depan semakin berkembang lagi," ungkap Nicko dihubungi detikcom.
Sebagai informasi, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat UMKM sebagai tulung punggung ekonomi nasional. BRI berkedudukan sebagai penyalur utama Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Indonesia dalam mendukung program pemerintah.
Secara konsolidasi, total aset BRI tercatat mencapai Rp2.250 triliun pada akhir Maret 2026, tumbuh 7,2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Hal itu ditopang oleh penyaluran angsuran nan menunjukkan percepatan nan solid.
Hingga kuartal I-2026, total angsuran BRI mencapai Rp1.562 triliun, tumbuh 13,7% yoy. Dan segmen UMKM menjadi tulang punggung bisnis, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun. Hal ini menegaskan konsentrasi BRI dalam mendukung sektor riil dan ekonomi kerakyatan.
"Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portfolio pembiayaan BRI," pungkas Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantot Pusat BRI, Kamis (30/4/2026).
(akd/ega)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·