Kisah Pengidap Dwarfisme di Kudus Lawan Stigma, Kini Jadi Konten Kreator Sukses

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ely Ernawati (memakai hijab) berbareng adiknya nan bungsu, Siti Khuswatun Khasanah. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Sentimen negatif sering dirasakan family pengidap dwarfisme di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Namun, stigma negatif itu bisa dijawab Ely Ernawati berbareng keluarganya lewat konten positif. Hasilnya, cuan terus berdatangan hingga diundang ke sebuah aktivitas di stasiun televisi nasional.

Ely Ernawati merupakan pengidap dwarfisme. Dwarfisme adalah kelainan pertumbuhan nan menyebabkan tinggi badan penderitanya jauh di bawah rata-rata. Singkatnya, pertumbuhan tubuh tidak normal sehingga penderitanya berukuran pendek.

Perempuan 31 tahun itu berdomisili di Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Tinggi tubuhnya hanya 80 sentimeter.

Ia merupakan empat bersaudara. Ely merupakan anak pertama. Ia mempunyai tiga orang adik. Dua di antaranya mengalami dwarfisme. Sedangkan satu terlahir normal. Sementara kedua orang tua Ely terlahir normal.

"Saya nomor satu. Adik saya nomor dua terlahir normal. Sedangkan adik saya nomor tiga dan empat terlahir seperti saya, mengalami dwarfisme dengan tinggi tubuh tidak sampai satu meter," katanya saat ditemui kumparan, Kamis (9/4).

Kondisi Ely ini sudah dialami sejak lahir. Ia tidak bisa mempunyai tinggi tubuh nan normal layaknya orang seusianya. Dia baru sadar sejak duduk di bangku TK. Merasa berbeda dengan orang pada umumnya membuatnya hanya bisa legawa alias menerima keadaan.

"Saya tidak pernah periksa ke dokter. Tidak pernah ada keluhan pada tubuh saya. Intinya saya menerima takdir Allah SWT," terangnya.

Ely Ernawati (memakai hijab) berbareng adiknya nan bungsu, Siti Khuswatun Khasanah. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Akui Pernah Minder di Sekolah

Rasa minder pernah dirasakan selama duduk di bangku sekolah. Bahkan tak banyak nan mau berkawan dengannya.

Terkadang dia kesulitan mengambil sesuatu nan letaknya terlalu tinggi. Membawa beban nan berat juga menyulitkannya. Setiap hendak berpergian ke luar rumah, dia kudu diantar adiknya nan nomor dua, Erwin Raharjo.

Belum lagi omongan orang sekitar nan sering meremehkannya. Mulai dari dugaan kerdil, pendek, dan ujaran negatif lainnya sering didapatnya.

Tubuhnya mungkin pendek, namun semangat Ely begitu tinggi. Keterbatasan pada dirinya dijadikan motivasi untuk tetap berkarya.

Ely Ernawati (memakai hijab) berbareng adiknya nan bungsu, Siti Khuswatun Khasanah. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Sukses Jadi Konten Kreator-Bisa Beli Tanah

Melalui akun TikTok @Elynawa21, dia membikin beragam konten sejak 2023.

Di tahun itu, seseorang murah hati memberikan ponsel untuknya guna membikin konten. Kontennya berisi kegiatannya sehari-hari alias nan disebutnya "A Day in My Life".

"Bikin kontennya dimulai dari nan mudah, berisi aktivitas sehari-hari seperti menyapu, memasak dan perihal lainnya. Sekarang isi kontennya merambah ke komedi dan seru-seruan," ujarnya.

Selain mempunyai akun TikTok, Ely mempunyai kanal media sosial lainnya nan diisi konten serupa. Ia mempunyai akun FB ernawati ely, akun IG @ ely_elg, dan akun YouTube ely ernawati nan sekarang sudah monetisasi alias menghasilkan uang.

Dari hasil ngonten di semua media sosial, dia bisa membeli tanah, merenovasi rumah, dan menabung. Konsistensi dalam membikin konten terus dijalaninya hingga kini.

Ia menghabiskan waktu satu sampai 1,5 jam untuk menyelesaikan kontennya itu. Durasi kontennya tidak panjang, hanya berkisar dua menit. Terkadang, dia dibantu membikin konten adiknya nan paling bungsu. Keduanya tampil sebagai talent.

Ely Ernawati (memakai hijab) berbareng adiknya nan bungsu, Siti Khuswatun Khasanah. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Diundang TV Swasta

Kegigihannya itu berujung manis. Dia diundang ke beberapa podcast. Selain itu, Ely berbareng adiknya nan bungsu, Siti Khuswatun Khasanah pernah diundang ke aktivitas Brownis Trans TV pada awal 2025.

Kemudian, adiknya nan nomor tiga, Abdul Rizal Sugiharto juga diundang di aktivitas nan sama pada Desember 2025 silam.

"Pihak Brownis menghubungi saya untuk datang sebagai tamu acara. Selama siaran ya ngobrolin soal konten-konten nan saya buat," ungkapnya.

Membuat konten bakal terus dilakukannya. Ia percaya semua manusia mempunyai kesempatan nan sama untuk berkarya. Dia membuktikan keterbatasan dapat dilewati bagi nan mau berusaha.

"Ke depannya tetap berkarya bikin konten. Terlebih sudah kegemaran dan selama ini menghasilkan," imbuhnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan