Pada sebuah kota nan hangat oleh mentari nan selalu bercahaya cerah, terdapat sebuah toko kitab nan terletak di penghujung jalan. Toko kitab itu adalah satu-satunya tempat di tengah keramaian kota nan mempunyai keheningan nan begitu menenangkan. Dalam ruangannya nan dipenuhi aroma unik kertas dan sinar nan lembut dari lampu mini di sepanjang rak, di sanalah Seza, gadis berumur 15 tahun itu, selalu menyambut pengguna dengan senyum dan membantu mereka menemukan kitab nan dicari. Ia adalah putri dari pemilik toko kitab tersebut.
Harvey, seorang laki-laki nan terpesona dengan keelokan tempat itu, melangkah masuk ke dalam toko kitab mini nan tampak sederhana, tetapi menenangkan. Kekaguman terpancar dari wajahnya saat memandang beragam kitab nan tersusun rapi di rak. Saat Seza mendekat dengan senyuman ramah, raut canggung terlihat di wajah Harvey, namun dengan sigap dia menyambut Seza dengan senyuman sopan. Saat Seza menghampiri Harvey, dia merasa tak asing dengan seragam sekolah nan digunakan Harvey. Seza berpikir bahwa laki-laki itu adalah kakak kelasnya di sekolah.
“Selamat datang! Apakah ada nan bisa saya bantu?” tanya Seza penuh kehangatan.
“Saya hanya melihat-lihat. Terima kasih,” jawab Harvey seraya tersenyum.
Keesokan harinya di kantin sekolah pada saat jam makan siang, Seza memandang laki-laki nan dia temui kemarin. Diliputi rasa penasaran, Seza memutuskan untuk bertanya kepada temannya, “Bel, lo tau gak laki-laki nan berdiri di sana, nan lagi minum kopi? Gue rasa gue pernah lihat dia, deh, tapi nggak tahu itu siapa.” Abelva pun memandang ke arah nan ditunjuk Seza. “Oh, itu mah anak kelas 12. Kalo nggak salah namanya Harvey deh,” Seza mengangguk, tanda bahwa dia paham. “Emangnya lo pernah lihat dia di mana?” tanya Abelva penasaran. “Jadi, kemarin kan orang tua gue lagi ada urusan, terus gue diminta ngejaga toko kitab sendirian. Nah kemarin tuh laki-laki datang ke toko, pas gue liat seragamnya rupanya sekolah di sini,” jelas Seza.
Setiap kali Harvey datang ke toko itu, mereka saling berganti pandang dan terlibat dalam percakapan ringan. Mereka menemukan kesamaan dalam kegemaran membaca dan selalu menemukan topik menarik untuk dibicarakan. Terkadang mereka berjanji untuk makan berbareng saat di sekolah.
Namun, di kembali kedekatan nan perlahan tumbuh, terdapat perbedaan nan belum mereka sadari sepenuhnya. Keduanya mempunyai angan besar tentang masa depan. Harvey sering membayangkan dirinya melanjutkan pendidikan di Inggris. Sementara itu, Seza juga menyimpan cita-cita untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri, tepatnya Amerika Serikat. Selain itu, latar belakang family dan kepercayaan nan mereka anut pun tidak sama.
Saat itu, perbedaan-perbedaan tersebut belum berfaedah apa-apa bagi mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, hal-hal itulah nan bakal menguji hubungan mereka.
Hari-hari terus berlalu, dan hubungan mereka semakin erat. Tetapi ada kesedihan nan tersembunyi di kembali senyum mereka, seolah ada kemauan nan terpendam nan tidak pernah terungkap di antara percakapan mereka. Tak satu pun dari mereka berani mengungkapkan emosi nan sebenarnya.
Suatu hari saat berjumpa di sekolah, Seza memberikan sebuah kitab jurnal mini pada Harvey. “Buat nulis semua angan lo, Kak,” ucapnya dengan senyum lembut. Harvey merasa tersentuh dengan pemberian itu dan berjanji dalam hati bahwa dia bakal menuliskan segala angan nan selama ini dia simpan.
Pada suatu malam nan sunyi, Harvey duduk di anjungan rumahnya, menatap langit nan berbintang. Perlahan, dia membuka laman pertama dan mulai menuliskan segala angan dan keinginannya untuk melangkah ke bumi luar nan dia bayangkan.
Sementara itu, Seza duduk di meja belajarnya. Di tangannya, tergenggam beberapa foto dirinya berbareng Harvey. Pandangannya kosong, larut dalam lamunan. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan kehadiran ibunya nan sedari tadi memperhatikannya. Sontak Seza langsung menyimpan foto-foto nan sedari tadi dia pandangi.
“Siapa itu Sez?” tanya wanita itu. “Temen, ma,” jawab Seza dengan gugup.
“Jadi itu nan setiap sore selalu mampir ke toko?” Pertanyaan itu sontak membikin Seza terdiam.
“Jauhi laki-laki itu, Seza. Kamu kudu belajar.” ucap wanita itu dengan tegas.
Seza terpaku mendengar itu. Wanita itu tak bersuara sebelum pergi, menatap mata Seza nan mulai berkaca-kaca. Gadis itu menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Sejak mini Seza terbiasa hidup dengan beragam tuntutan. Baginya, nilai sempurna dan prestasi selalu menjadi prioritas. Tak heran jika ibunya tidak pernah menyukai kedekatannya dengan laki-laki.
Suatu malam, toko kitab itu mengadakan pesta mini untuk merayakan ulang tahun ke lima sejak pertama kali berdiri. Harvey datang dengan membawa buket kembang dan senyuman hangat di wajahnya. Malam itu mereka tertawa bersama, berbagi cerita, dan menikmati kebersamaan nan terasa begitu berharga. Di tengah-tengah keceriaan itu, mata mereka berjumpa dalam pandangan nan berbincang tanpa kata. Ada getaran nan terasa di antara mereka, seperti gelombang nan berbisik di lautan. Mereka merasa ada sesuatu nan mau mereka ungkapkan.
Keesokan harinya, Seza menulis surat panjang untuk Harvey, menceritakan tentang keinginannya nan selama ini dia simpan. Ia menuliskan sungguh berharganya hubungan mereka, sekaligus keinginannya untuk mengejar kebebasan dan masa depan nan dia dambakan.
Harvey menerima surat itu dengan emosi bercampur aduk. Ia membaca surat itu berulang kali, mencerna setiap kata nan ditulis Seza. Ia merasa senang untuk Seza, namun juga merasa bakal kehilangan kehadirannya.
Pada suatu malam nan gelap, mereka berjanji untuk berjumpa di taman kompleks dekat rumah Seza. Dengan suasana nan canggung, mereka saling bertatap mata satu sama lain.
“Kak!”
“Sez..”
Keduanya tersenyum kikuk setelah menyapa secara bersamaan.
“Lo duluan aja, Sez,” ujar Harvey pelan. “Sebenernya… gue,” ucap Seza gugup.“Gue suka sama lo kak…” tutur Seza.
Pernyataan itu sukses membikin Harvey terdiam. Jantungnya berdegup lebih sigap dari biasanya.
“Sez…” lirih Harvey dengan mata berkaca-kaca.
“Lo gak suka gue ya kak?” tanya Seza dengan bunyi bergetar.
Harvey menggeleng pelan.
“Gue juga suka sama lo kok Sez, tapi…”
Mata Seza membesar. Namun sebelum senyumnya sempat berkembang, Harvey kembali berbicara.
"Tapi gue nggak tahu hubungan ini bisa dibawa ke mana."
Seza terdiam.
“Sebentar lagi gue lulus… dan gue bakal lanjut kuliah di Inggris. Dan kita juga tahu... ada banyak perihal nan bikin semuanya nggak gampang.”
Pernyataan itu membikin Seza nyaris menangis. Harvey nan menyadari perihal itu sontak membawa Seza ke dalam dekapannya.
Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam dalam pelukan nan hangat.
“Udah... jangan nangis, gimana kalo kita quality time selama dua minggu terakhir, sebelum gue pergi. Ke pantai, nonton bioskop, alias kemana pun nan lo mau.” Ujar Harvey nan dijawab dengan anggukan oleh Seza.
Hari-hari berikutnya menjadi kenangan nan tak bakal mereka lupakan. Mereka melangkah di tepi pantai saat senja, menonton movie bersama, dan menghabiskan waktu berjam-jam di toko kitab tempat kisah mereka bermula.
Setiap detik terasa berbobot lantaran mereka tahu waktu terus melangkah menuju perpisahan.
Hari kelulusan pun tiba. Seza datang menemui Harvey dengan membawa buket kembang dan paper bag nan berisi foto-foto kenangan mereka. Harvey menggenggam tangan Seza dengan lembut, memberikan senyuman penuh makna.
“Mau anter gue ke airport nggak? Nanti sore,” tanyanya.
“Hari ini banget berangkatnya, Kak?” tanya Seza dengan wajah murung.
Harvey mengangguk.
“Jam enam sore. Nanti gue jemput lo,” ujar Harvey.
Sore itu, langit mulai berubah jingga saat mereka tiba di bandara. Langkah mereka terasa lebih lambat dari biasanya, seolah keduanya berambisi waktu berakhir sejenak.
Harvey menatap Seza dan menggenggam tangannya erat.
“Gue kudu pergi, Sez.”
Seza mengangguk, meski hatinya terasa berat.
“Gue ngerti, Kak. Pergilah dan kejar mimpi lo. Gue bakal doain lo dari sini.”
Tanpa perlu banyak kata, mereka saling berpelukan.
Pelukan itu hangat, tapi terasa menyakitkan lantaran keduanya tahu bahwa perpisahan ini tak bisa dihindari.
Sebelum berpisah, mereka mengambil sebuah foto bersama.
“Kalo udah sampe jangan lupa kabarin gue ya, Kak!” pinta Seza dan dibalas dengan anggukan oleh Harvey.
Panggilan keberangkatan terdengar dari pengeras suara.
“Gue kudu pergi sekarang Sez,” ucap Harvey.
Harvey mulai melangkah menuju boarding gate, sementara Seza memandang sosok itu dengan rasa kehilangan nan mendalam.
Bulan demi bulan berlalu.
Meski terpisah jarak dan waktu, mereka tetap menjaga kedekatan hubungan dengan berganti berita melalui pesan, telepon, dan panggilan video.
Harvey menjaga jurnalnya dengan rapi. Setiap laman dipenuhi cerita tentang kehidupan barunya, dan emosi nan tak pernah betul-betul hilang.
Hingga suatu sore, sebuah paket tiba di depan rumah Seza.
Dengan rasa penasaran, dia membukanya.
Di dalamnya terdapat jurnal mini nan dulu pernah dia berikan kepada Harvey.
Perlahan, dia membuka laman demi laman nan telah dipenuhi tulisan tangan laki-laki itu.
Tentang impian.
Tentang perjalanan.
Tentang kerinduan.
Dan tentang dirinya.
Di laman terakhir, terselip sebuah surat.
Harvey menuliskan bahwa di antara segala perihal nan dia alami, ada satu nan tak pernah terlupakan: pertemuan mereka. "Terima kasih lantaran pernah menjadi bagian terindah dari perjalanan hidupku."
Seza tersenyum, membalas surat Harvey dalam hatinya.
Meskipun jarak memisahkan mereka, mereka telah menemukan kebahagiaan dalam membiarkan satu sama lain mengejar angan masing-masing. Di dalam jurnal itu Seza menuliskan satu kalimat, “Kisah kita adalah bukti bahwa cinta tak selalu berupa pertemuan, tetapi juga tentang memberi kebebasan kepada orang nan kita cintai untuk mengejar apa nan mereka inginkan.”
Mereka mungkin berpisah, namun kisah mereka tetap hidup, melekat dalam setiap laman jurnal nan mereka miliki. Sesekali, mereka mungkin hanya kenangan nan muncul di kembali jarak dan waktu, namun keberanian dan kehangatan nan mereka bagikan selalu datang di hati mereka masing-masing.
Toko kitab mini itu pada akhirnya tetap berdiri, menyimpan banyak kisah di setiap laman kitab nan tersusun rapi. Dan di sana, dalam keheningan nan lembut, cerita hubungan hangat Seza dan Harvey tetap menjadi salah satu kisah paling bagus nan pernah terjadi di antara buku-buku nan mereka cintai.
-Selesai-
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·