, MAKASSAR, – Lembaga Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Sindikasi) mengungkapkan bahwa pekerja di industri imajinatif dan wartawan menghadapi kerentanan akibat tinggi mengenai pekerjaan mereka. Banyak dari mereka tidak mendapatkan agunan perlindungan sosial maupun perjanjian kerja nan layak dari perusahaan.
"Kontrak kerja nan pendek, bayaran murah, dan akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) nan tinggi adalah beberapa masalah nan dihadapi pekerja imajinatif dan jurnalis. Selain itu, jam kerja nan tidak jelas juga menakut-nakuti kesehatan mereka," ungkap Mia Rosmiati, dari Dewan Pengurus Nasional Sindikasi, pada obrolan di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat.
Mia menambahkan bahwa selama masa advokasi, Sindikasi menemukan banyak masalah mengenai kesejahteraan pekerja. Namun, tantangan muncul lantaran pemberi kerja nan tidak kooperatif dan kekhawatiran pekerja untuk melapor lantaran takut dipecat. Padahal, kewenangan mereka telah diatur dalam undang-undang.
"Kami mendorong para pekerja untuk berserikat agar bisa mendapatkan kewenangan mereka. Sindikasi terus membangun kesadaran bakal pentingnya berserikat dan mengkampanyekan perihal ini kepada seluruh pekerja kreatif," tegasnya.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar, Sahrul Ramadan, dalam obrolan nan sama mengungkapkan bahwa terdapat 89 kasus kekerasan dan intimidasi terhadap wartawan di Indonesia, 23 di antaranya terjadi di Sulawesi Selatan. Ia juga menyoroti rendahnya insentif nan diterima wartawan dari media besar di Makassar, ialah hanya Rp7.000 per berita.
"Kami berupaya membikin media pengganti nan dapat memberikan bayaran sesuai dengan kualitas karya jurnalistik. Hal ini krusial lantaran bayaran wartawan di Indonesia tetap jauh dari kesejahteraan," ujarnya.
Sukrianto, perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Makassar, menekankan pentingnya kesadaran perusahaan bakal nilai karya seni. Menurutnya, ada ketimpangan antara jam kerja dan bayaran di industri imajinatif dan jurnalis. Selain itu, pekerja juga menghadapi tantangan baru dengan adanya kepintaran buatan (AI).
Diskusi publik ini juga diikuti dengan konvensi pemilihan Ketua Sindikasi Wilayah Makassar, dengan Shany Kasysyaf terpilih sebagai Ketua dan Atri Suryatri Abbas sebagai Sekretaris untuk masa bhakti 2026–2029.
Konten ini diolah dengan support AI.
sumber : antara
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·