Kisah Abdul Muis, Disabilitas di Kudus Bertahan Hidup dari Jualan Plastik

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Abdul Muis (31) merapikan dagangan plastiknya. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Abdul Muis (31) tetap antusias menjalani kehidupan kendati langkahnya terpincang-pincang. Muis mengalami lumpuh dan sekarang aktivitas sehari-harinya kudu dibantu tongkat untuk berjalan.

Anak kelima dari lima berkerabat itu berdomisili di Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ia bercerita kepada kumparan awal mulanya mengalami kelumpuhan.

"Saat saya berumur satu tahun, saya mengalami kelumpuhan usai jatuh di bilik mandi," katanya, Jumat (12/6).

Beranjak di usia sembilan tahun, sedikit demi sedikit dia bisa berjalan. Akan tetapi langkah berjalannya kudu jinjit agar kakinya tidak terasa sakit.

"Sudah pernah berobat ke dokter, katanya memang lumpuh. Penyebab pastinya kurang tahu. Sekarang sudah bisa melangkah tetapi kudu jinjit dan dibantu dengan tongkat," terangnya.

Abdul Muis (31) melangkah menggunakan tongkat penyangga. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Sebagai seorang ayah nan sudah mempunyai satu anak, dia berupaya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sehari-harinya, Muis berdagang plastik mulai pukul 08.00 WIB sampai 13.00 WIB.

"Sekarang jualan plastik, sebelumnya pernah jualan pampers dan air mineral," jelasnya.

Berjualan plastik dipilihnya lantaran banyak konsumen nan membutuhkan. Selain itu andaikan dagangannya tidak laku tetap bisa dijual di lain waktu. Bahkan saat musim hujan, dagangan plastiknya tidak rusak sehingga Muis tak mengalami kerugian.

Beragam jenis plastik dijualnya. Mulai dari plastik ukuran 8 ons, plastik es batu, plastik kresek, dan lainnya.

Berbekal tongkat penyangga dan sepeda motor nan sudah dimodifikasi menjadi roda tiga, dia menawarkan produk plastiknya itu ke beberapa pasar di Kabupaten Kudus.

"Penghasilan saya sekitar Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu. Alhamdulillah bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," jelasnya.

Ia tak kesulitan kendati menawarkan dagangan plastik sembari memakai tongkat penyangga. Dia tak pernah putus asa meski kerap ditolak kala menawarkan plastik.

"Sering ditolak, namun saya tetap antusias berjualan," ucapnya.

Abdul Muis (31) menunjukkan dagangan kerupuknya. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Selain berdagang plastik, untuk menambah pemasukannya, Muis juga berdagang kerupuk di malam hari. Harga kerupuknya Rp 7.500. Ia menggantungkan kerupuknya di sepeda motor roda tiga miliknya.

"Alasan saya jualan kerupuk untuk menambah penghasilan. Saya jualan kerupuk di area Balai Jagong Kudus mulai pukul 19.00 WIB sampai 23.00 WIB. Terkadang saya juga berdagang di Car Free Day di area Alun-alun Simpang Tujuh Kudus," ujarnya.

Bekerja pagi hingga malam hari tak membuatnya lelah. Ia berpendapat, sudah sewajarnya seorang kepala family mencari nafkah untuk anak dan istri.

"Tidak capek, saya justru antusias demi istri dan anak," katanya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan