Sekawanan kebo bule Kiai Slamet terlihat memandu prosesi tradisi kirab pusaka 1 Suro Keraton Surakarta pada Rabu awal hari (17/6/2026).(MI/Widjajadi)
TRADISI Kirab 1 Sura Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tetap terselenggara dengan lancar dan sakral pada Selasa malam hingga Rabu awal hari (17/6). Meski tetap dibayangi suasana dualisme kepemimpinan pasca-wafatnya SISKS Pakoe Boewono (PB) XIII pada November 2025, prosesi tahunan ini justru mencatatkan peningkatan jumlah peserta.
Wartawan senior budaya, Won Poerwono, nan telah mengawasi tradisi ini selama lebih dari tiga dekade, menyebut gelaran tahun ini sangat istimewa. Menurutnya, jumlah paraga (peserta) keraton nan terlibat jauh lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Patut disyukuri, jumlah peserta kali ini lebih banyak dari biasanya. Pada tahun Be 1960 dalam almanak Jawa ini, candrasengkala bersuara Luhuring Rasa Agatra Budaya. Ini sebuah momentum spesial untuk pelestarian budaya," ujar Won.
Senada dengan itu, pemerhati budaya Wisnukisawa menilai makna candrasengkala tersebut menumbuhkan angan baik. "Kita tetap meninggikan rasa untuk melestarikan budaya Jawa dalam situasi apa pun," tuturnya.
Dinamika Internal dan Keputusan Kirab
Di tengah situasi dualisme, Purbaya nan disebut sebagai PB XIV memutuskan untuk tidak menggelar kirab pusaka versinya. Pengageng Paran Parakarsa PB XIV kubu Purbaya, KPAAd Nur Wijaya Adiningrat (Kanjeng Dany), menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil pada menit-menit terakhir demi pertimbangan keamanan pusaka keraton.
"Keputusan tidak menggelar kirab sesuai dawuh PB XIV Purbaya. Pertimbangannya banyak, termasuk keselamatan pusaka keraton," jelas Kanjeng Dany pada Rabu awal hari. Ia menambahkan bahwa peringatan Malam 1 Suro tetap diisi dengan aktivitas lain, seperti angan berbareng dan haul dalem Paku Buwono X.
14 Pusaka dan Simbol Tahta
Di sisi lain, Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta tetap melaksanakan prosesi kirab. Ketua LDA, GKR Koes Moertiyah Wandansari alias Gusti Moeng, menyatakan bahwa sebanyak 14 pusaka keraton dikeluarkan dalam prosesi kali ini.
"Keluarnya 14 pusaka nan dikirab menjadi penanda siapa nan bertahta. Ini adalah tradisi nan sudah ada sejak era PB X," tegas Gusti Moeng di Kori Kamandungan saat menyerahkan pusaka cemeti kepada srati (pawang) kebo bule keturunan Kiai Slamet.
Rute kirab sepanjang 3,6 km tetap mempertahankan jalur tradisional, mulai dari Keraton menuju Gladag, Jl. Kapten Mulyadi, Baturono, Gemblegan, Nonongan, hingga kembali ke Keraton. Puluhan ribu penduduk menyemut di sepanjang jalan untuk ngalap berkah, mulai dari memperebutkan janur hingga kotoran kebo bule nan dipercaya membawa kesuburan bagi lahan pertanian.
Laku Topo Bisu di Pura Mangkunegaran
Selain di Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran juga menggelar tradisi serupa dengan prosesi Laku Topo Bisu mengelilingi tembok pura. Peserta nan mengenakan busana serba hitam melangkah dalam keheningan sebagai corak refleksi diri.
Sejumlah tokoh tampak datang dalam prosesi di Mangkunegaran, di antaranya politisi PDIP Bambang Wuryanto (Bambang Pacul), Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, serta Wali Kota Solo Respati Ardi.
Walikota Respati Ardi, nan mengikuti prosesi berbareng istrinya, Venessa, menyatakan kekagumannya atas kekhidmatan aktivitas tersebut. "Ini merupakan warisan pusaka leluhur nan kudu diteruskan kepada generasi mendatang. Malam 1 Sura bukan sekadar tradisi, tapi momentum untuk merenung dan memperbaiki diri menyongsong masa depan," pungkasnya. (WJ/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·