Kim Jong Un Dirumorkan Meninggal Dunia Akibat Pendarahan Otak

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un dirumorkan meninggal dunia. Ia dikatakan terkena pendarahan otak dan mengalami koma beredar di media sosial.

Mengutip Newsweek, Rabu (21/10/2026), laporan muncul akhir pekan. Kabar pertama kali berasal dari Wanjun Xie, nan mengaku sebagai ketua Partai Demokrat China, organisasi nan dilarang oleh pemerintah Beijing.

Melalui platform X, Xie menyatakan Kim sempat dilarikan ke Peking Union Medical College Hospital di Beijing sebelum meninggal dunia. Ia juga menyebut pemerintah Korut berupaya menutupi kematian tersebut meski tidak ada bukti terverifikasi nan mendukung klaim itu.

Namun di tengah berita tersebut, pemimpin Korut itu muncul dalam foto nan dirilis media pemerintah. Kantor buletin pemerintah Korut, Korean Central News Agency (KCNA), dan surat berita Rodong Sinmun menerbitkan foto-foto terbarunya Selasa.

Foto tersebut memperlihatkan Kim menghadiri pameran busana dan dasar kaki berbareng putrinya, Kim Ju Ae, dan sejumlah pejabat di Pyongyang pada Senin. Namun, kemunculan Kim dalam laporan media pemerintah itu belum diverifikasi secara independen. 

Sementara itu, peneliti senior Program Korea di Stimson Center, Rachel Minyoung Lee, menegaskan bahwa berita mengenai kondisi Kim sejauh ini tidak mempunyai dasar nan kuat. Lee menambahkan, tidak ada perihal tidak biasa dalam pemberitaan media pemerintah maupun aktivitas kepemimpinan Korea Utara (Korut) nan mengindikasikan Kim tidak bisa menjalankan tugasnya.

"Sejauh ini, rumor tersebut hanyalah desas-desus," tegasnya.

Lee mengingatkan para pengamat agar tidak langsung menyimpulkan bahwa ketidakhadiran seorang pemimpin di depan publik merupakan bukti penyakit serius. Minimnya keterbukaan pemerintah Korea Utara mengenai kesehatan pemimpinnya membikin rumor semacam ini mudah berkembang.

Hal sama juga dibantah pejabat diplomatik dan keamanan Korea Selatan (Korsel). Ia nan tak disebutkan namanya mengatakan kepada instansi buletin Yonhap bahwa mereka tidak memperoleh info nan mendukung berita kematian Kim.

Rumor mengenai kesehatan Kim Jong Un bukan pertama kali muncul. Pada 2020, dirinya sempat tidak terlihat di depan publik selama beberapa minggu.

Hal tersebut memicu spekulasi bahwa dirinya sakit parah alias meninggal setelah menjalani operasi kardiovaskular. Kim Jong Un kemudian kembali muncul dalam sebuah aktivitas publik.

Kesehatan Kim menjadi perhatian internasional lantaran dia memimpin negara bersenjata nuklir nan mempunyai posisi strategis di Asia Timur. Kim berkuasa sejak menggantikan ayahnya, Kim Jong Il, nan meninggal pada 2011.

Hingga kini, belum ada kepastian mengenai sistem suksesi andaikan terjadi pergantian kepemimpinan secara mendadak. Perubahan kekuasaan di Pyongyang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan, hubungan dengan negara-negara tetangga, serta keamanan persenjataan nuklir Korea Utara.

Putri Kim, Kim Ju Ae, nan terlihat mendampingi ayahnya dalam foto terbaru, juga menjadi sorotan mengenai kemungkinan suksesi. Sejak akhir 2022, dia semakin sering muncul dalam aktivitas politik dan militer penting.

Badan Intelijen Nasional Korsel sebelumnya menilai Kim mungkin sedang mempersiapkan putrinya untuk peran kepemimpinan di masa depan. Meski demikian, Kim Ju Ae belum secara resmi ditetapkan sebagai penerus, sementara usianya nan tetap muda dan sistem politik Korut nan didominasi laki-laki menambah ketidakpastian.

Kemunculan terbaru Kim juga berjalan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Korsel. Pada Senin, Kim Yo Jong, kerabat wanita Kim Jong Un, memperingatkan bahwa situasi di perbatasan selatan "sangat tidak stabil". Ia menuduh militer Korsel bertindak gegabah setelah kejadian ledakan ranjau darat nan melukai dua tentara Seoul.

Pyongyang sendiri membantah bertanggung jawab, sedangkan Korea Selatan menyatakan temuannya mengarah pada ranjau nan dipasang Korut. Kim Yo Jong juga menyebut Pyongyang mempertimbangkan untuk kembali mengaktifkan pengeras bunyi propaganda di perbatasan, nan berpotensi memperburuk ketegangan kedua negara.

(tfa/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News
↑