Ketua Parlemen Iran: Selat Hormuz Tak Akan Dibuka Hingga AS Cabut Blokade

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi - Selat Hormuz. Foto: artemegorovv/Shutterstock

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan Selat Hormuz tidak bakal dibuka kembali hingga Amerika Serikat (AS) mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Dikutip dari Reuters, Ghalibaf menyebut pembicaraan dengan Washington menunjukkan kemajuan. Namun tetap jauh dari kesepakatan akhir.

"Masih ada banyak kesenjangan dan beberapa poin mendasar nan belum terselesaikan, kita tetap jauh dari pembahasan final," ujar Ghalibaf dalam pidato nan disiarkan televisi pemerintah.

Ia menegaskan, pembukaan jalur vital daya bumi itu berjuntai sepenuhnya pada sikap AS mengenai blokade.

"Jika Amerika tidak mencabut blokade, lampau lintas di Selat Hormuz pasti bakal dibatasi," tegasnya.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan komunikasi dengan Iran melangkah positif, namun memperingatkan Teheran agar tidak mencoba menekan Washington.

"Kami melakukan pembicaraan nan sangat baik, tetapi kami mengambil sikap tegas," kata Trump di Gedung Putih, seperti dilaporkan AFP.

Ia juga menuding Iran "bermain-main" dengan membuka dan kembali menutup Selat Hormuz dalam waktu singkat.

Sebuah kapal angkatan laut terlihat berlayar di Selat Hormuz, pada 1 Maret 2026. Foto: Sahar AL ATTAR / AFP

Di lapangan, situasi keamanan di jalur pelayaran tersebut semakin memanas setelah Garda Revolusi Iran memperingatkan kapal nan melintas tanpa izin bakal dianggap bekerja sama dengan musuh.

"Setiap upaya melintas tanpa izin bakal dianggap sebagai kerja sama dengan musuh, dan kapal tersebut bakal menjadi target," demikian pernyataan mereka.

Laporan keamanan maritim Inggris apalagi menyebut adanya penembakan terhadap kapal tanker India, serta kejadian lain di mana sebuah kapal terkena proyektil tak dikenal nan merusak kontainer.

Ketegangan ini sempat mereda ketika Iran membuka Selat Hormuz usai gencatan senjata dengan sekutunya, Hizbullah, di Lebanon. Namun kembali meningkat setelah AS mempertahankan blokade pelabuhan Iran.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan