Anggie Ariesta
, Jurnalis-Selasa, 04 Agustus 2026 |17:02 WIB

Ketua OJK (Foto: Okezone)
JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa finansial nasional tetap berada dalam kondisi terjaga. Hal ini dikonfirmasi berasas hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK nan digelar pada 29 Juli 2026, meski perekonomian dunia tetap dibayang-bayangi oleh ketidakpastian dan ketegangan geopolitik.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari nan berkawan disapa Kiki, mengungkapkan bahwa dinamika dunia saat ini dipengaruhi oleh kembali meningkatnya eskalasi bentrok di area Timur Tengah.
"Ketegangan geopolitik di area Timur Tengah kembali meningkat, menyusul gagalnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran di awal Juli lalu. Eskalasi bentrok kembali mendorong kenaikan nilai minyak," ujar Kiki dalam konvensi pers RDKB OJK di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Kiki memaparkan bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) pada Juli 2026 telah merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 menjadi 3 persen akibat dampak perang nan berkepanjangan.
Meski demikian, perkembangan investasi di bagian kepintaran buatan (artificial intelligence/AI) menjadi aspek pendorong (upside risk) nan menyeimbangkan prospek ekonomi global.
Selain dinamika energi, Amerika Serikat juga menerapkan kebijakan tarif baru terhadap 60 negara mitra jual beli untuk menggantikan tarif sementara nan telah berhujung pada 24 Juli 2024.
Kebijakan ini, ditambah tekanan pasar energi, mempertahankan premi akibat dunia di level tinggi serta memicu volatilitas nilai komoditas.
Di tengah pasar finansial dunia nan bergerak variatif (mixed) dan terjadinya aliran modal keluar (outflow) nonresiden, kondisi perekonomian domestik Indonesia justru menunjukkan keahlian nan solid.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·