Friderica Widyasari Dewi.(Antara)
KETUA Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa konsentrasi utama regulator saat ini adalah memastikan reformasi pasar modal Indonesia memberikan hasil nyata dan terukur. Langkah ini diambil untuk meningkatkan kualitas pasar sekaligus memperkuat kepercayaan penanammodal melalui tindakan konkret.
"Kepercayaan penanammodal kudu dibangun melalui tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan. OJK berkomitmen membangun pasar modal Indonesia nan adil, transparan, kompetitif, dan mempunyai kredibilitas global," ujar Friderica dalam perbincangan berbareng penanammodal institusional domestik dan internasional di Jakarta, Rabu (21/10).
Respons terhadap Konsultasi MSCI
OJK menyadari ada perhatian serius dari para pelaku pasar menyusul pengumuman MSCI mengenai konsultasi potensi perubahan pengelompokkan pasar Indonesia. Menanggapi perihal tersebut, Friderica menyatakan bahwa OJK menghormati penilaian independen MSCI dan berkomitmen menjawab tantangan tersebut melalui reformasi nan konsisten dan berkelanjutan.
Meski terdapat tantangan klasifikasi, Friderica menekankan bahwa esensial pasar modal nasional tetap kokoh. Hingga saat ini, kapitalisasi pasar Indonesia mencapai sekitar US$589 miliar, nan menempatkannya sebagai nan terbesar kedua di ASEAN. Selain itu, jumlah penanammodal telah menembus nomor 31,1 juta orang.
Kinerja emiten juga menunjukkan tren positif. Dalam periode 12 bulan hingga Juni 2026, perusahaan tercatat membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 15,9 persen dan kenaikan untung bersih mencapai 16,3 persen.
Delapan Program Aksi Prioritas
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, merinci bahwa OJK berbareng Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Self-Regulatory Organizations (SRO) tengah menjalankan delapan program tindakan prioritas. Program ini mencakup penguatan likuiditas, transparansi, tata kelola, hingga penegakan hukum.
Beberapa poin krusial dalam reformasi tersebut meliputi:
- Peningkatan ketentuan minimum free float menjadi 15 persen secara bertahap.
- Penguatan transparansi kepemilikan faedah akhir (beneficial ownership).
- Keterbukaan info kepemilikan saham di atas satu persen.
- Publikasi daftar High Shareholding Concentration (HSC).
- Perluasan pengelompokkan penanammodal dari sembilan menjadi 39 kategori.
"Prioritas kami adalah memastikan penerapan nan konsisten sehingga menghasilkan peningkatan nyata pada transparansi, likuiditas, integritas, dan daya tarik investasi," tegas Hasan.
Proses Komunikasi dengan MSCI
Terkait status di MSCI, Hasan menjelaskan bahwa pengumuman pada 15 Oktober 2026 lampau merupakan tahap konsultasi mengenai potensi perubahan dari Emerging Market menjadi Standalone Market, dan bukan merupakan keputusan final. MSCI membuka ruang masukan hingga 30 April 2027, dengan keputusan akhir dijadwalkan pada 30 Juni 2027.
OJK tercatat sangat aktif melakukan komunikasi konstruktif dengan MSCI. Sepanjang Februari hingga Oktober 2026, telah dilakukan sebanyak 16 kali pertemuan untuk memastikan seluruh perkembangan reformasi pasar modal Indonesia mendapatkan pertimbangan nan menyeluruh dan adil. (Ant/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·