Jakarta -
Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menepis dugaan melemahnya nilai tukar rupiah saat ini sama seperti krisis ekonomi tahun 1998. Menurutnya dugaan tersebut banyak dipengaruhi oleh algoritma media sosial nan dilihat publik.
Misbakhun menjelaskan, posisi nilai tukar rupiah saat ini bergerak pada kisaran level Rp 16.000-an terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kemudian saat ini, rupiah bergerak melemah di kisaran level Rp 17.717 terhadap mata duit Negeri Paman Sam.
Sementara pada krisis 1998, Misbakhun menyebut rupiah bergerak dari level Rp 2.400 ke level Rp 17.600. Ia juga menegaskan, struktur ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih baik dibanding masa krisis 1998.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita kudu yakinkan kepada masyarakat Indonesia bahwa rupiaj Rp 17.800 itu memang sebuah fenomena. Angka nan sangat tinggi untuk saat ini, tapi ingat bahwa Rp saat ini mungkin pernah menyamai krisis 98. Krisis 98 rupiah Rp 17.500-Rp 17.800 itu berangkat dari nomor berapa? Berangkat dari nomor Rp 2.400. Rupiah sekarang berada pada level Rp 17.600 itu berangkat dari Rp 16.000 sekian. Situasi struktur ekonomi kita juga berbeda," ujar Misbakhun dalam aktivitas Jogja Financial Festival, Sabtu (23/5/2026).
Misbakhun menjelaskan, situasi pada krisis 98 terjadi bubble ekonomi nan tercermin dari banyaknya lembaga jasa finansial nan ambruk lantaran mengalami kandas bayar. Namun pada masa-masa tersebut, banyak juga pihak nan meraup untung tidak terduga alias windfall dari selisih kurs saat itu.
"Sekarang juga nan sama, tetapi hanya pada sektor tertentu. Artinya apa? Secara esensial ekonomi kita sangat kuat. Pada saat itu 98 kita mengalami pertumbuhan minus 13%. Inflasi jangan ditanya. Tetapi kita sekarang menghadapi situasi ekonomi nan tumbuh," terangnya.
Misbakhun menyebut, Indonesia masuk dalam jejeran negara G20 dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Kemudian neraca perdagangan Indonesia juga tercatat positif dengan surplus 71 bulan.
Ia menambahkan, kekhawatiran bakal krisis 98 terjadi akibat pengaruh dari konsumsi sosial media. Hal ini dianggap menjadi salah satu sentimen terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Kita berhadapan kepada sebuah situasi antara esensial versus sentimen, realitas melawan media sosial," pungkasnya.
(ahi/hns)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·