Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat ketimpangan pengeluaran masyarakat Indonesia mengalami peningkatan. Hal ini tercermin dari penurunan gini ratio alias rasio gini nan menunjukkan pengedaran pengeluaran masyarakat kian naik dibandingkan periode sebelumnya.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), M. Edy Mahmud, mengungkapkan rasio gini naik menjadi 0,368 pada Maret 2026, meningkat 0,005 poin dibandingkan September 2025.
“Pada bulan Maret 2026 ketimpangan di Indonesia tercatat sebesar 0,368 alias naik sebesar 0,005 poin dari September 2025,” ungkap Edy dalam konvensi pers di instansi BPS, Jakarta Pusat, Rabu (5/8).
Edy memaparkan rasio gini di wilayah perkotaan tercatat sebesar 0,387 pada Maret 2026 alias naik 0,004 poin dibandingkan September 2025.
“Sementara itu ketimpangan di perdesaan pada bulan Maret 2026 sebesar 0,296 lebih tinggi 0,01 poin jika dibandingkan dengan bulan September 2025,” ujar Edy.
Gini ratio digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan pengeluaran masyarakat dengan rentang nilai antara 0 hingga 1. Semakin mendekati nomor 1, ketimpangan pengeluaran di masyarakat semakin tinggi.
Berbarengan dengan itu, BPS mencatat jumlah masyarakat miskin Indonesia per Maret 2026 mengalami penurunan. Tercatat ada 430 ribu masyarakat keluar dari kemiskinan pada Maret 2026 dibanding September tahun lalu.
Secara keseluruhan, masyarakat miskin per Maret 2026 ada sebanyak 22,93 juta orang alias turun dari 23,36 juta orang pada September 2025. Menurut Edy, tren penurunan sudah terjadi sejak 2023. Pada Maret 2023, jumlah masyarakat miskin tercatat ada pada nomor 25,90 juta orang alias 9,36 persen dari total penduduk.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·