Ketika Sarjana Pilih Jadi Pasukan Oranye di Tengah Sulitnya Mencari Kerja

Sedang Trending 48 menit yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Ijazah sarjana tak selalu menjadi tiket menuju pekerjaan nan diimpikan. Di tengah ketatnya persaingan pasar kerja, sebagian lulusan perguruan tinggi justru memilih memperkuat di pekerjaan nan kerap dipandang sebelah mata. Salah satunya menjadi petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), nan dikenal sebagai Pasukan Oranye di Jakarta.

Fenomena ini turut disoroti Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Ia mengungkapkan, banyak sarjana nan mendaftar sebagai petugas PPSU meski persyaratan pendidikan untuk posisi tersebut telah diturunkan hingga tingkat sekolah dasar (SD).

“Bahkan untuk Pasukan Oranye sebagai contoh, nan dulu syaratnya SLTA, saya sengaja turunkan syaratnya tinggal SD. nan daftar adalah nyaris 30 persen sarjana,” kata Pramono di aktivitas Jakarta Contributors Award 2026, Kamis, 15 Oktober 2026.

Menurut Pramono, kondisi tersebut mencerminkan sulitnya situasi ekonomi nan dihadapi masyarakat. Persaingan mencari pekerjaan semakin ketat di tengah tekanan ekonomi dunia nan turut memengaruhi kesempatan kerja.

Bagi Adnan, petugas PPSU nan telah sembilan tahun bekerja di lapangan, situasi itu bukan sekadar nomor alias gambaran kondisi ekonomi. Ia mengalaminya secara langsung. Dengan latar belakang pendidikan sarjana, dia memilih memperkuat di pekerjaan nan telah dijalaninya selama bertahun-tahun daripada mengambil akibat menganggur di tengah ketidakpastian pasar kerja.

“Ya, jika menurut saya buat sekarang ini ya, di masa susah ini, worth it saja sih. Karena memang ya saya kembali lagi kayak, susah nyari kerja, sekalinya dapat kerja belum tentu masuk, kalah sama ordal (orang dalam). Jadi ya, jalanin ya, berterima kasih sih,” ungkapnya saat dihubungi Liputan6.com, dikutip Sabtu (17/10/2026). 

Bagi Adnan, memperkuat bukan berfaedah berakhir berambisi mendapatkan pekerjaan nan lebih baik. Namun, ketika kesempatan kerja semakin susah diperoleh, pekerjaan nan sudah dimiliki menjadi sesuatu nan patut disyukuri.

Fenomena sarjana nan bekerja sebagai petugas PPSU juga bukan perihal baru di lingkungan tempatnya bekerja. Adnan menyebut, sejumlah rekannya mempunyai latar belakang pendidikan diploma hingga sarjana, meski pekerjaan mereka tidak mensyaratkan pendidikan setinggi itu.

“Karena enggak hanya saya doang nan sarjana, enggak hanya saya doang. Ada kawan saya nan D3, S1, nan sudah tua D3, terus ada nan seumuran saya juga S1. Ada sekitaran mungkin bisa lima lebih sih dari total 86 orang,” jelasnya.

Kepastian Penghasilan Jadi Pertimbangan

Ada sejumlah argumen nan membikin pekerjaan sebagai petugas PPSU tetap menarik bagi para pelamar, termasuk mereka nan telah mengenyam pendidikan tinggi. Menurut Adnan, besaran upah, letak kerja nan dekat dengan rumah, hingga kesempatan mengikuti seleksi pegawai pemerintah menjadi pertimbangan.

“Kalau jika saya tanya-tanya ke (sarjana) nan daftar sih ya, lantaran UMP-nya lumayan, terus juga dekat dari rumah. Terus juga mungkin dia ada kesempatan buat ngelamar kelak P3K itu alias CPNS, jaraknya juga enggak jauh, bisa pulang jika misalkan makan. Ya, pokoknya intinya dia tuh enggak pamor untuk sekarang ini,” ujarnya.

Bagi sebagian orang, pekerjaan mungkin berangkaian erat dengan prestise dan kesesuaian antara piagam dengan profesi. Namun, dalam situasi ketika mendapatkan pekerjaan saja sudah menjadi tantangan, kepastian penghasilan dan sejumlah akomodasi kerja dapat menjadi pertimbangan nan lebih realistis.

Adnan sendiri mulai bekerja sebagai petugas PPSU saat berumur 19 tahun, setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan (SMK). Ia menjalani kuliah sembari bekerja hingga sukses meraih gelar sarjana.

Meski telah menyelesaikan pendidikan tinggi, dia belum memilih meninggalkan pekerjaannya. Selain masa kerja nan sudah panjang, Adnan mempertimbangkan sejumlah kewenangan nan diterimanya sebagai petugas PPSU, mulai dari libur tahunan hingga tunjangan hari raya (THR) dan agunan kesehatan.

“Ya, untuk ke depannya pengen sih lebih baik, mencari nan lebih baik pekerjaan, hanya ya, saya juga niat juga memperkuat agar apa? Supaya nantinya jika misalkan ada info-info P3K lagi, saya bisa ngelamar alias CPNS. Apalagi saya juga sudah bekerja lama di sini. Kalau di tempat kayak swasta, belum tentu, Kak, dapat libur 12 hari, terus dapat dapat THR 1 bulan gaji. Kalau di PPSU tuh dapat, 1 bulan gaji, terus dapat libur 12 hari, BPJS juga,” kata dia.

Keinginannya untuk memperoleh pekerjaan nan lebih baik tetap ada. Namun, Adnan tak mau gegabah meninggalkan pekerjaan nan memberinya penghasilan dan akomodasi nan selama ini bisa diandalkan. Ia juga tetap menyimpan angan untuk mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) alias calon pegawai negeri sipil (CPNS) jika kesempatan itu terbuka.

Bukan Sekadar Membersihkan Jalanan

Menjadi petugas PPSU tidak hanya berkutat pada urusan kebersihan. Di lapangan, pekerjaan mereka juga mencakup pemeliharaan taman, pembalakan pohon, pekerjaan bangunan sederhana, hingga pembuatan mural. Dalam kondisi darurat, mereka turut membantu penanganan bencana, seperti banjir dan kebakaran.

Adnan mengatakan, tugas rutin kebersihan berjalan selama delapan jam. Namun, tanggung jawab mereka tidak selalu berakhir ketika jam kerja berakhir, terutama saat terjadi keadaan darurat nan memerlukan penanganan segera.

“Kalau PPSU itu kerjanya dia 8 jam untuk nan kebersihan. Tapi jika misalkan ada kayak misalkan bencana, banjir, kebakaran, itu tuh loyalitas. Meski hari libur kita tetap berangkat,” jelasnya.

Tuntutan pekerjaan itu membikin petugas PPSU perlu siap menghadapi beragam tugas di luar rutinitas harian. Adnan menggambarkan pekerjaan tersebut sebagai pekerjaan nan menuntut kesiapan untuk mengerjakan beragam perihal sesuai kebutuhan di lapangan.

“Jadi itu kayak ibaratnya palugada saja. PPSU enggak hanya kebersihan saja, dia ada nan ngerawat taman, ada nan nebang pohon, ada nan kayak konstruksi, bikin bangunan, mural, sampai ngejagain wilayah jika malam,” sambung Adnan.

Bagi Adnan, pengalaman bertahun-tahun bekerja sebagai petugas PPSU mengajarkannya bahwa pekerjaan tidak selalu bisa dinilai dari gelar pendidikan alias pamor nan melekat pada suatu profesi. Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, dia menilai setiap orang perlu memandang kesempatan secara realistis, sembari tetap berupaya memperbaiki masa depan.

Menurutnya, ketika kesempatan kerja semakin terbatas, mempertahankan pekerjaan nan ada bukanlah sesuatu nan perlu dipandang rendah.

Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑