Ketika Prasangka jadi Doa

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Ilustrasi melakukan self care dengan beragam produk kecantikan seperti skin care alias make up. Foto: aslysun/Shuttterstock

Saya pernah membaca literasi nan terdengar “tidak alim”. Dari KH. Abdul Hamid Pasuruan. Narasinya bilang,

"Berpakaianlah nan rapi dan baik, biar Anda disangka orang kaya, siapa tahu dugaan itu merupakan do’a bagimu."

Saya sempat berpikir: Ini aliran alias sindiran? Jangan-jangan kita ini kebanyakan bangga menjadi “tim melas”.

Di kampung-kampung—dan kadang di kota juga—saya sering memandang satu kejadian nan menarik. Orang nan miskin itu bukan sekadar kondisi, melainkan kadang pilihan style hidup. Sarungnya kusut. Peci-nya lebih mirip artefak sejarah. Wajahnya seperti menanggung beban negara. Padahal nan ditanggung, ya hidupnya sendiri. Lucunya, perihal itu dipertahankan, seolah-olah itu identitas—seolah jika terlihat rapi adalah dosa.

Padahal, Rasulullah Muhammad sudah memberi peringatan sederhana: siapa nan menyerupai suatu kaum, dia adalah bagian dari kaum itu. Kita sering kali tidak sadar sedang “melatih takdir”. Setiap hari, kita latihan menjadi orang susah. Berpakaian style susah. Berpikir seperti susah. Bergaul dengan daya kesusahan. Kemudian, heran kenapa hidup tidak berubah. Aneh.

Kalimat Mbah Hamid itu sebenarnya tidak sedang mengajari kita menipu orang lain. Beliau sedang mengajari kita menipu diri sendiri. Menipu kemalasan. Menipu mental kecil. Menipu kebiasaan merasa tidak pantas. Karena sering kali, masalah kita bukan lantaran tidak mampu, melainkan lantaran merasa tidak layak mampu.

Ilustrasi trik tampil elegan & stylish dengan perhiasan terjangkau. Foto: Dok. The Palace

Coba dibalik. Suatu hari Anda pakai baju rapi. Wangi. Sepatu bersih. Anda masuk ke satu ruangan. Orang melihat. Mereka tidak tahu isi rekening Anda. Namun, mereka punya prasangka. “Orang ini serius.” “Orang ini punya kelas.” “Orang ini layak diajak bicara.” Itu bukan ilusi. Itu pintu.

Kita ini sering terlalu jujur pada keadaan. Padahal, hidup terkadang butuh sedikit “strategi”. Tidak untuk menipu orang, tetapi untuk mengubah langkah bumi memperlakukan kita. Karena bumi tidak membaca niat. Dunia membaca sinyal. Isyarat.

Yang lebih menarik: perubahan luar itu pelan-pelan merembes ke dalam. Orang nan tadinya terbiasa meminta, mulai malu untuk meminta. Orang nan tadinya santai, mulai menjaga wibawa. Orang nan tadinya pasrah, mulai merasa punya nilai diri. Ini bukan sulap. Ini kebiasaan nan digeser.

Masalahnya, kita sering terbalik. Menunggu kaya dulu baru rapi. Menunggu sukses dulu baru percaya diri. Menunggu punya dulu baru pantas. Padahal, seringnya: nan rapi duluan nan dikasih jalan. nan percaya diri duluan nan dikasih peluang.

Ilustrasi percaya diri. Foto: Shutterstock/Makistock

Tasawuf itu bukan berfaedah kumel. Kita terlalu lama mengira kesederhanaan itu identik dengan ketidakberdayaan. Padahal, sederhana itu pilihan. Kumel itu adalah kelalaian. Jadi, tidak ada salahnya untuk mulai “nyamar”. Nyamar tidak untuk menipu, tetapi untuk memanggil jenis diri nan lebih tinggi. Pakai nan pantas. Bersikap nan layak. Berpikir nan besar. Biar orang salah sangka.

Itu dia rahasianya. Ucapan dan prasangka orang adalah doa. Bukan angan nan diangkat dengan tangan. Bukan angan nan diucap lirih setelah salat, melainkan angan nan meluncur diam-diam—dari pikiran orang lain tentang diri kita.

Saat orang memandang Anda “terlihat berhasil”, mereka tidak sekadar melihat. Mereka juga menilai. Mereka mengafirmasi. Mereka—tanpa sadar—mendoakan. “Ini pasti orang sukses.” “Kayaknya hidupnya mapan.” Dan anehnya, bumi bekerja mengikuti itu.

Karena hidup ini tidak hanya digerakkan oleh usaha, tetapi juga oleh persepsi. Dan persepsi—yang terus diulang—pelan-pelan berubah menjadi realitas. Jadi, jangan meremehkan prasangka baik orang. Itu bukan sekadar pikiran lewat. Itu daya nan berputar. Itu angan nan tidak pernah Anda minta—tapi bisa jadi, justru nan paling sering dikabulkan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan