Ketika Pesantren Kehilangan Teladan, Tersisa Panggung "Pertunjukan"

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Dok: ai

Mendirikan pesantren rupanya tidak selalu sulit. nan susah adalah mendidik manusia.

Membangun gedung bisa dengan uang. Membeli tanah bisa dengan modal. Membuat papan nama apalagi hanya butuh kreasi nan menarik dan sedikit promosi. Dalam waktu singkat, sebuah tempat sudah bisa disebut pesantren.

Tetapi pendidikan tidak lahir dari tembok.

Pendidikan lahir dari keteladanan.

Di situlah persoalannya. Banyak orang bisa membangun pesantren, tetapi tidak semua bisa membangun dirinya sendiri. Ada nan pandai berbincang tentang akhlak, tetapi mudah marah ketika dikritik. Ada nan sering mengajarkan keikhlasan, tetapi sibuk menghitung pujian. Ada nan membujuk orang hidup sederhana, sementara dirinya berkompetisi tampil paling mewah.

Maka nan tumbuh bukan pendidikan, melainkan pertunjukan.

Santri akhirnya lebih sering memandang panggung daripada teladan. Mereka mendengar nasihat tentang kejujuran, tetapi menyaksikan praktik nan berbeda. Mereka diajari rendah hati, tetapi setiap hari memandang kesombongan dipoles menjadi karisma.

Padahal sejak dulu pesantren besar tidak dibangun oleh gedung megah. Ia dibangun oleh kewibawaan moral pengasuhnya. Orang datang bukan lantaran gerbangnya tinggi, melainkan lantaran akhlaknya tinggi. Bukan lantaran spanduknya besar, tetapi lantaran ilmunya besar.

Murid tidak hanya belajar dari apa nan didengar. Mereka belajar dari apa nan dilihat.

Satu contoh nyata lebih kuat daripada seribu ceramah.

Karena itu, tantangan terbesar seorang pendidik bukan gimana tampil meyakinkan di depan orang banyak. Tantangan terbesarnya adalah gimana tetap menjadi orang baik ketika tidak ada nan melihat.

Sebab masyarakat mungkin bisa terkagum-kagum oleh penampilan. Tetapi pendidikan sejati hanya bakal lahir dari keteladanan.

Orang bisa menghafal kata-kata seorang guru. Namun nan paling lama tinggal dalam ingatan adalah langkah hidupnya. Jika hidupnya tidak menjadi pelajaran, maka nan tersisa hanyalah panggung nan ramai—tanpa pendidikan nan betul-betul terjadi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan