Ketika Perpustakaan Menunggu Pengunjung

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pengunjung membaca kitab di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, Jumat (7/2/2025). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Sabtu pagi itu saya memutuskan mengunjungi perpustakaan regional di kota saya. Sudah lama saya mau datang ke sana. Bukan lantaran ada kitab tertentu nan mau saya cari, melainkan lantaran rasa penasaran. Saya mau memandang seperti apa wajah perpustakaan publik nan dibangun dengan anggaran besar.

Ketika tiba di depan gedung, saya sempat berdecak kagum. Bangunannya megah, besar, dan menjulang tinggi. Dari tampilan fisiknya, gedung itu terlihat relatif baru. Sekilas, perpustakaan itu tampak seperti simbol optimisme: sebuah pernyataan bahwa pengetahuan tetap dianggap krusial dan layak mendapat tempat terhormat di tengah kota.

Saya tiba beberapa menit sebelum pukul delapan pagi. Karena jasa belum dibuka, saya memanfaatkan waktu untuk membikin kartu personil melalui komputer nan tersedia di lobi. Setelah itu saya mengisi kitab tamu secara berdikari melalui perangkat nan juga disediakan di sana. Ketika proses selesai, saya mendapati diri sebagai visitor pertama hari itu.

Tidak lama kemudian jam menunjukkan pukul delapan lewat. Namun meja resepsionis tetap kosong.

Saya mencoba masuk ke area koleksi dan berjumpa dengan petugas kebersihan. Mereka menjelaskan bahwa belum ada petugas perpustakaan nan datang sehingga mereka tidak berkuasa mengizinkan saya masuk ke ruang baca. Penjelasan itu tentu masuk akal. Saya memahami bahwa mereka hanya menjalankan tugasnya.

Karena petugas resmi belum datang, saya diminta menunggu di luar gedung. Saya pun keluar dan menunggu.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Saya mencoba bersabar. Namun pada akhirnya saya memutuskan pulang. Bukan lantaran marah, melainkan lantaran tidak ada kepastian kapan jasa betul-betul dimulai. Saya berpikir bahwa waktu saya terlalu berbobot untuk dihabiskan dalam penantian nan tidak jelas ujungnya.

Saya meninggalkan perpustakaan dengan emosi nan susah dijelaskan. Bukan kecewa dalam makna besar, tetapi lebih sebagai sebuah keganjilan. Sebab ada sesuatu nan terasa tidak selaras: sebuah gedung nan dibangun untuk menghormati pengetahuan justru belum siap menyambut orang nan datang mencarinya.

Sebuah Pagi nan Menyisakan Pertanyaan

Dalam perjalanan pulang, saya berupaya menjaga prasangka baik. Bisa saja hari itu terjadi keadaan nan tidak diinginkan. Bisa jadi ada hambatan nan membikin petugas terlambat hadir. Semua orang tentu pernah mengalami hal-hal di luar rencana.

Namun semakin jauh saya berjalan, semakin banyak pertanyaan nan muncul.

Mengapa saya menjadi satu-satunya orang nan datang pagi itu?

Mengapa tidak ada antrean?

Mengapa tidak ada mahasiswa, pelajar, orang tua, alias anak-anak nan tampak menunggu perpustakaan dibuka?

Awalnya saya menganggap perihal itu kebetulan. Tetapi lama-kelamaan pertanyaan tersebut membawa saya pada kegelisahan nan lebih besar daripada sekadar keterlambatan petugas.

Jangan-jangan persoalan sebenarnya bukan terletak pada jam layanan.

Jangan-jangan persoalan nan lebih mendasar adalah bahwa semakin sedikit orang nan merasa perlu datang ke perpustakaan.

Kita hidup di era ketika info tersedia dalam hitungan detik. Apa pun nan mau diketahui dapat dicari melalui mesin pencari. Buku digital dapat diunduh. Video penjelasan tersedia dalam jumlah tak terbatas. Bahkan sekarang kepintaran buatan bisa menjawab pertanyaan nan dulu mengharuskan seseorang membuka beberapa kitab sekaligus.

Di tengah situasi seperti itu, perpustakaan menghadapi tantangan nan jauh lebih besar dibandingkan beberapa dasawarsa lalu. Pertanyaannya bukan lagi gimana menyediakan informasi. Pertanyaannya adalah gimana membikin orang tetap merasa perlu mendatangi ruang nan berjulukan perpustakaan.

Ilustrasi dibuat dengan AI

Krisis Membaca alias Perubahan Cara Belajar?

Sering kali kita mendengar keluhan bahwa minat baca masyarakat menurun. Narasi ini begitu sering diulang hingga nyaris diterima sebagai kebenaran mutlak.

Namun saya tidak sepenuhnya percaya persoalannya sesederhana itu.

Generasi muda hari ini mungkin membaca dengan langkah nan berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka membaca tulisan pendek, utas media sosial, laporan digital, buletin daring, hingga beragam corak konten visual nan memuat informasi. Dalam banyak hal, mereka justru terpapar lebih banyak teks dibanding generasi nan hidup sebelum internet.

Masalahnya bukan semata-mata jumlah bacaan. Masalahnya adalah kualitas perhatian.

Peneliti media seperti Nicholas Carr pernah mengemukakan bahwa internet condong mendorong pola membaca nan cepat, terfragmentasi, dan dangkal. Kita terbiasa melompat dari satu info ke info lain tanpa sempat merenungkan maknanya. Kita mengetahui banyak hal, tetapi sering kali hanya di permukaan.

Dalam konteks inilah perpustakaan sebenarnya mempunyai peran nan semakin penting, bukan semakin usang. Perpustakaan adalah salah satu sedikit ruang nan tetap mengajarkan manusia untuk memperlambat diri.

Di sana seseorang tidak dituntut untuk terus menggulir layar. Tidak ada notifikasi nan berebut perhatian. Tidak ada algoritma nan menentukan apa nan kudu dibaca berikutnya. nan ada hanyalah kesempatan untuk duduk, membuka buku, dan memberi ruang bagi pikiran untuk bekerja secara mendalam.

Ironisnya, justru ketika keahlian berkonsentrasi menjadi semakin langka, ruang-ruang nan melatih konsentrasi tampak semakin sepi.

Gedung Megah dan Ruang nan Hidup

Pengalaman saya pagi itu juga memunculkan refleksi lain.

Selama ini, ketika berbincang tentang pembangunan perpustakaan, perhatian kita sering terfokus pada gedung fisik. Kita bangga ketika mempunyai gedung nan besar, akomodasi modern, dan kreasi nan menarik. Semua itu memang penting.

Namun perpustakaan pada akhirnya tidak diukur dari kemegahan gedungnya. Perpustakaan diukur dari kehidupan nan berjalan di dalamnya.

Sebuah perpustakaan nan sederhana tetapi dipenuhi diskusi, organisasi belajar, anak-anak nan membaca, mahasiswa nan meneliti, dan penduduk nan berbincang mungkin jauh lebih hidup daripada gedung mewah nan hanya ramai saat peresmian.

Sosiolog Amerika, Ray Oldenburg, memperkenalkan konsep "third place", ialah ruang di luar rumah dan tempat kerja nan memungkinkan penduduk membangun relasi sosial dan kehidupan komunitas. Di banyak negara, perpustakaan modern berkembang menjadi ruang semacam itu. Orang datang bukan hanya untuk meminjam buku, tetapi juga untuk belajar, berdiskusi, bekerja, mengikuti lokakarya, alias sekadar menjadi bagian dari kehidupan publik nan sehat.

Barangkali inilah tantangan perpustakaan masa kini.

Ia tidak cukup hanya menjadi penyimpanan buku.

Ia kudu menjadi ruang nan dirindukan.

Tempat nan membikin orang merasa mau datang kembali.

Tempat nan menghadirkan pengalaman nan tidak bisa digantikan oleh layar ponsel.

Menjaga Harapan di Tengah Kesunyian

Saya tidak tahu apakah keterlambatan petugas pada pagi itu merupakan kejadian nan langka alias justru sesuatu nan biasa. Saya juga tidak tahu apakah perpustakaan tersebut sebenarnya ramai pada jam-jam berikutnya.

Yang saya tahu, pengalaman mini itu meninggalkan kesan nan lebih besar daripada nan saya duga.

Kesan tersebut bukan tentang petugas nan terlambat.

Bukan pula tentang waktu menunggu nan terbuang.

Melainkan tentang sebuah pertanyaan nan terus mengendap di kepala saya: masihkah perpustakaan menjadi tempat nan dicari orang?

Pertanyaan itu krusial lantaran masa depan perpustakaan sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh anggaran pemerintah, koleksi buku, alias kemegahan bangunan. Masa depannya ditentukan oleh sejauh mana masyarakat tetap memandang membaca sebagai kebutuhan, bukan sekadar aktivitas tambahan ketika mempunyai waktu luang.

Pada akhirnya, perpustakaan adalah cermin hubungan sebuah masyarakat dengan pengetahuan. Ketika perpustakaan hidup, biasanya ada rasa mau tahu nan juga hidup. Ketika perpustakaan sepi, nan patut kita khawatirkan bukan hanya jumlah visitor nan berkurang, melainkan kemungkinan bahwa rasa mau tahu perlahan kehilangan tempat dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu saya berambisi suatu hari kelak saya kembali ke perpustakaan tersebut dan menemukan suasana nan berbeda. Bukan sekadar pintu nan terbuka tepat waktu, melainkan ruang nan dipenuhi orang-orang nan datang lantaran mau belajar, memahami, dan bertanya.

Sebab kemajuan sebuah masyarakat pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa sigap dia mengakses informasi, tetapi juga oleh kesediaannya untuk berakhir sejenak, membaca lebih dalam, dan memikirkan sesuatu lebih lama. Dan di bumi nan semakin bising oleh arus info nan tak pernah berhenti, mungkin perpustakaan adalah salah satu tempat terakhir nan tetap mengingatkan kita bahwa pengetahuan tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari kesediaan untuk memberi perhatian.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan