Ketika Pendidikan Membuat Jarak Semakin Lebar antara Kaya dan Miskin

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ilustrasi pendidikan. Foto: Generated by AI

Sekolah sebagai Pusat Kendali, bukan Kolaborasi

Dulu, pendidikan adalah tanggung jawab berbareng antara keluarga, masyarakat, dan sekolah. Kini, semuanya seolah-olah sepenuhnya diatur oleh sekolah. Mulai dari proses pembelajaran, sistem kenaikan kelas, hingga standar kelulusan, semua ditentukan secara sentralistik oleh institusi. Orang tua hanya berkedudukan sebagai penonton sekaligus penyandang dana. Ketika sekolah menjadi satu-satunya otoritas, celah bagi praktik diskriminatif pun terbuka lebar.

Fasilitas nan Membedakan Kelas Sosial

Kondisi bentuk sekolah sangat tergantung pada yayasan penyelenggara alias inisiatif pembimbing nan didukung finansial orang tua murid. Di sekolah negeri pun, iuran sukarela kerap menjadi “paksaan halus” demi pembangunan laboratorium, lapangan olahraga, alias ruang ber-AC. Sementara di sekolah swasta, perbedaan kualitas akomodasi terlihat jelas: semakin mahal duit sekolah, semakin mewah pula gedung, teknologi, dan akses belajar.

Ironisnya, anak dari family bisa bisa pindah ke sekolah dengan akomodasi terbaik kapan saja. Anak dari family miskin hanya bisa pasrah dengan ruang kelas bocor dan kitab usang. Pendidikan nan semestinya meratakan kesempatan justru menjadi cermin kesenjangan sosial.

Anggapan “Sekolah Hanya Habiskan Uang”

Bagi masyarakat ekonomi lemah, pendidikan kerap dipandang sebagai beban, bukan investasi. Anggapan “lebih baik kerja daripada sekolah” tetap kuat tertanam, terutama di wilayah dengan akses lapangan kerja informal nan relatif mudah. Biaya seragam, buku, transportasi, dan duit bulanan sekolah menjadi momok harian. Ketika dalam satu family ada lebih dari dua anak sekolah, banyak orang tua terpaksa memilih: menyekolahkan satu anak alias menyuruh semua anak bekerja serabutan.

Ilustrasi anak SMA. Foto: Shutterstock

Lebih parah lagi, ketika lulusan SMA, alias apalagi sarjana, kesulitan mendapatkan pekerjaan layak, persepsi bahwa “sekolah tidak menjamin masa depan” semakin menguat. Di sinilah lingkaran setan kemiskinan terus berputar: tanpa pendidikan susah naik kelas, tapi pendidikan nan ada justru terlalu mahal untuk dijangkau.

Menjebak alias Membebaskan?

Pendidikan semestinya menjadi perangkat mobilitas sosial. Namun ketika kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh uang, sistem ini hanya bakal melanggengkan status quo. Si kaya mendapat akses ke pembimbing terbaik, teknologi mutakhir, dan jaringan luas. Si miskin hanya mendapatkan sisa-sisa.

Solusinya bukan dengan membubarkan sekolah swasta, melainkan dengan memastikan sekolah negeri betul-betul cuma-cuma dan berkualitas. Pemerintah perlu datang dengan kebijakan afirmatif: danasiwa penuh, transportasi gratis, dan makan siang bergizi bagi anak dari family kurang mampu. Selain itu, kerjasama dengan industri untuk menciptakan jalur pekerjaan non-kuliah—seperti sekolah vokasi dan magang bersertifikat—perlu digalakkan.

Kesimpulan: Mengembalikan Fungsi Pendidikan

Pendidikan tidak boleh menjadi perangkat pemisah antara nan punya dan nan tidak. Jika tidak segera dibenahi, lembah antara kaya dan miskin bakal terus melebar dari generasi ke generasi. Saatnya semua pihak—pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat—duduk berbareng menjadikan pendidikan betul-betul sebagai jalan keluar, bukan jalan masuk menuju ketimpangan baru.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan