Tidak susah menemukan anak-anak nan begitu berkawan dengan layar gawai. Di ruang tunggu, di restoran, di dalam kendaraan, apalagi di rumah, banyak anak menghabiskan waktu dengan menonton video alias memainkan gim melalui telepon genggam. Pemandangan seperti ini perlahan menjadi perihal nan dianggap biasa.
Teknologi tentu membawa banyak manfaat. Anak-anak dapat belajar melalui video edukasi, mengenal beragam pengetahuan baru, hingga berkomunikasi dengan family nan berada jauh. Namun, ketika layar mulai menggantikan nyaris seluruh waktu bermain, muncul pertanyaan nan patut kita renungkan: apakah masa mini mereka sedang berubah terlalu cepat?
Belakangan, semakin banyak orang tua menceritakan bahwa anak mereka mulai menggunakan kacamata sejak usia sekolah dasar, apalagi ada nan tetap berada di taman kanak-kanak. Gangguan penglihatan memang dapat dipengaruhi oleh beragam faktor, termasuk keturunan. Namun, para mahir juga mengingatkan bahwa penggunaan gawai dalam waktu lama, aktivitas memandang jarak dekat secara terus-menerus, serta minimnya waktu bermain di luar ruangan dapat meningkatkan akibat miopia alias rabun jauh pada anak.
Menurut saya, persoalannya bukan terletak pada gadget itu sendiri. nan perlu menjadi perhatian adalah gimana teknologi digunakan dalam kehidupan anak. Ketika waktu berbareng layar jauh lebih banyak dibandingkan waktu berlari, bermain, membaca buku, alias berinteraksi langsung dengan kawan sebaya, ada bagian krusial dari masa mini nan perlahan berkurang.
Masa kanak-kanak bukan hanya masa untuk belajar mengenal huruf alias angka. Masa itu juga merupakan waktu ketika anak belajar bekerja sama, menyelesaikan konflik, mengenal lingkungan, melatih rasa mau tahu, dan membangun kepercayaan diri melalui pengalaman nyata. Semua proses tersebut susah tergantikan oleh layar, secanggih apa pun teknologi nan digunakan.
Di sisi lain, tantangan nan dihadapi orang tua memang tidak sederhana. Kesibukan bekerja membikin gadget sering menjadi pilihan paling praktis untuk menenangkan anak. Dalam banyak situasi, layar memang membantu. Namun, andaikan digunakan tanpa batas nan jelas, kebiasaan tersebut dapat berubah menjadi ketergantungan nan susah dihentikan.
Selain kesehatan mata, penggunaan gadget nan berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas tidur, mengurangi aktivitas fisik, hingga membatasi hubungan sosial secara langsung. Padahal, anak-anak memerlukan keseimbangan antara bumi digital dan bumi nyata agar tumbuh kembang mereka berjalan secara optimal.
Karena itu, solusi nan dibutuhkan bukanlah melarang anak mengenal teknologi. nan jauh lebih krusial adalah membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara sehat. Orang tua dapat mulai dengan membikin patokan waktu layar, membujuk anak bermain di luar rumah, membaca kitab bersama, alias sekadar menyediakan waktu bercengkerama tanpa gangguan telepon genggam.
Tidak kalah penting, orang dewasa juga perlu menjadi teladan. Sulit meminta anak mengurangi penggunaan gadget andaikan orang tua sendiri lebih banyak menatap layar daripada berbincang dengan mereka. Anak belajar melalui contoh nan mereka lihat setiap hari, bukan hanya dari nasihat nan mereka dengar.
Kemajuan teknologi bakal terus berjalan, dan anak-anak memang bakal tumbuh berbareng bumi digital. Namun, jangan sampai layar menjadi satu-satunya ruang tempat mereka mengenal kehidupan. Mereka juga memerlukan sinar matahari, tanah nan dipijak saat berlari, tawa berbareng teman, serta percakapan hangat dengan keluarga.
Barangkali inilah saatnya kita kembali mengingat bahwa masa mini bukan hanya tentang seberapa sigap anak menguasai teknologi. Masa mini adalah tentang pengalaman nan membentuk mereka menjadi manusia. Layar dapat membantu proses belajar, tetapi pengalaman nyata tetap menjadi pembimbing nan tidak tergantikan.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·