Beberapa tahun lalu, banyak orang mengenal China melalui buletin tentang perang dagang, persaingan teknologi dengan Amerika Serikat, alias beragam kontroversi geopolitik lainnya. Namun hari ini, semakin banyak anak muda mengenal China melalui sesuatu nan jauh lebih sederhana: TikTok.
Di antara video hiburan, tren fashion, dan rekomendasi kuliner, pengguna TikTok juga disuguhi konten tentang kereta sigap nan melaju lebih dari 300 kilometer per jam, kota-kota futuristik nan dipenuhi gedung pencakar langit, kampus modern, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat China nan tampak maju dan nyaman.
Salah satu contoh nan kerap menjadi viral di TikTok adalah Chongqing, kota metropolitan di China nan viral di media sosial lantaran lanskapnya nan unik, jalur kereta nan menembus gedung apartemen, serta pemandangan malam nan sering dianggap menyerupai kota dalam movie fiksi ilmiah. Konten-konten semacam ini muncul berulang kali di layar jutaan pengguna di seluruh dunia.
Pertanyaannya bukan apakah konten tersebut betul alias salah. Pertanyaannya adalah apakah paparan nan terus-menerus terhadap konten semacam itu dapat membentuk langkah kita memandang China.
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan mengingat TikTok telah berkembang menjadi salah satu platform media sosial terbesar di dunia.
Menurut Digital 2025 Global Overview Report, TikTok mempunyai lebih dari satu miliar pengguna aktif bulanan dan menjadi salah satu platform dengan tingkat keterlibatan tertinggi secara dunia (Kemp, 2025). Dengan jangkauan sebesar itu, TikTok tidak lagi sekadar aplikasi hiburan, melainkan ruang digital tempat persepsi publik dapat terbentuk setiap hari.
Dalam kajian Hubungan Internasional, keahlian memengaruhi persepsi melalui daya tarik dikenal sebagai soft power. Joseph Nye (2004) mendefinisikan soft power sebagai keahlian suatu negara untuk memperoleh hasil nan diinginkan melalui daya tarik, bukan melalui paksaan militer maupun tekanan ekonomi. Jika hard power bekerja dengan ancaman dan kekuatan, soft power bekerja melalui budaya, nilai, citra, dan keahlian menarik simpati masyarakat internasional.
Pada abad ke-20, Amerika Serikat menjadi contoh paling menonjol dari penggunaan soft power. Hollywood, musik pop, dan televisi berkedudukan besar dalam membentuk gambaran Amerika di beragam bagian dunia. Namun perkembangan teknologi digital telah mengubah langkah pengaruh tersebut bekerja. Menurut Manor (2019), digitalisasi telah menciptakan ruang baru bagi negara untuk menjangkau audiens dunia secara langsung melalui platform daring.
Dalam konteks inilah TikTok menjadi menarik. Platform nan dimiliki oleh ByteDance, perusahaan teknologi asal China, merupakan salah satu contoh paling sukses dari globalisasi teknologi China. Keberhasilannya menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya sebuah platform media sosial nan lahir dari China bisa mendominasi pasar dunia dan bersaing langsung dengan raksasa teknologi Barat.
Fenomena ini menjadi krusial lantaran terjadi berbarengan dengan meningkatnya upaya China untuk memperluas pengaruh globalnya melalui beragam instrumen budaya, media, dan teknologi (Shambaugh, 2013). Bagi China, pembangunan gambaran internasional menjadi semakin krusial seiring meningkatnya posisi negara tersebut dalam ekonomi dan politik global.
Dalam konteks ini, keberadaan perusahaan teknologi asal China nan bisa menjangkau miliaran pengguna internasional memberikan dimensi baru bagi sumber daya soft power China. Meskipun TikTok tidak secara resmi berfaedah sebagai instrumen diplomasi negara, keberhasilannya memperluas visibilitas budaya, teknologi, dan kehidupan masyarakat China di ruang digital global.
Namun, apakah sebuah platform digital otomatis menghasilkan soft power? Belum tentu. Banyak platform dunia lain tidak selalu diasosiasikan dengan gambaran negara asalnya. nan membikin TikTok berbeda adalah kemampuannya menghadirkan pengalaman nan sangat individual melalui algoritma rekomendasi.
Pengguna tidak hanya menggunakan TikTok sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menghabiskan waktu untuk mengonsumsi konten nan terus disesuaikan dengan minat mereka. Dalam proses tersebut, beragam gambaran mengenai China dapat muncul secara berulang dan perlahan membentuk persepsi pengguna.
Pengaruh terbesar TikTok memang berada pada algoritmanya. Berbeda dengan media konvensional nan mengharuskan audiens mencari info secara aktif, TikTok menyajikan konten melalui sistem rekomendasi nan sangat personal. Pengguna tidak selalu memilih apa nan mau mereka lihat; dalam banyak kasus, algoritma menentukan apa nan bakal muncul di layar mereka.
Akibatnya, persepsi sering kali terbentuk bukan dari satu video, melainkan dari ribuan video nan muncul secara berulang. Ketika pengguna terus-menerus memandang konten mengenai kemajuan teknologi China, prasarana modern, budaya populer, alias kehidupan masyarakatnya, mereka perlahan membangun gambaran tertentu mengenai negara tersebut. Bahkan tanpa membaca laporan penelitian alias buletin internasional, pengguna dapat membentuk pemahaman tentang China melalui pengalaman digital sehari-hari.
Meski demikian, krusial untuk diingat bahwa perubahan persepsi tersebut tidak selalu berasal dari intervensi algoritma secara langsung. Bisa jadi, meningkatnya eksposur terhadap China juga mencerminkan perkembangan ekonomi, teknologi, dan prasarana China nan memang semakin terlihat dalam kehidupan global. Dengan kata lain, TikTok mungkin bukan pembuat gambaran tersebut, melainkan medium nan mempercepat penyebarannya kepada audiens internasional.
Temuan penelitian terbaru menunjukkan bahwa kejadian ini bukan sekadar asumsi. Incerti, Elkobi, dan Mattingly (2026) menemukan bahwa influencer pro-China di TikTok bisa meningkatkan persepsi positif pengguna terhadap China secara signifikan. Menariknya, pengaruh tersebut apalagi lebih efektif dibandingkan konten resmi media pemerintah China. Namun, temuan tersebut lebih tepat dipahami sebagai bukti bahwa platform digital dapat menjadi ruang baru bagi pembentukan persepsi internasional, bukan sebagai bukti bahwa negara secara langsung mengendalikan seluruh proses tersebut.
Meski demikian, menganggap TikTok semata-mata sebagai perangkat propaganda China juga merupakan penyederhanaan nan berlebihan. Hubungan antara platform digital, algoritma, dan pengaruh politik jauh lebih kompleks. Banyak konten nan menampilkan gambaran positif China dibuat oleh wisatawan, mahasiswa internasional, alias pembuat independen, bukan oleh pemerintah China secara langsung. Selain itu, pengguna media sosial bukanlah audiens nan sepenuhnya pasif. Mereka tetap mempunyai keahlian untuk memilih, menginterpretasikan, apalagi menolak narasi nan mereka temui di ruang digital.
Di sisi lain, beragam penelitian dan pemerintah di sejumlah negara juga menyoroti rumor transparansi algoritma, moderasi konten, dan potensi bias info dalam platform tersebut. Perdebatan ini menunjukkan bahwa pengaruh digital tidak pernah berkarakter netral sepenuhnya, tetapi juga tidak dapat dijelaskan melalui narasi propaganda nan terlalu sederhana.
Karena itu, pertanyaan paling krusial bukanlah apakah TikTok merupakan propaganda alias bukan. Pertanyaan nan lebih relevan adalah gimana platform digital telah mengubah langkah negara membangun pengaruh pada abad ke-21.
Jika pada masa lampau negara memerlukan movie blockbuster, stasiun televisi internasional, alias kampanye diplomatik nan mahal untuk membangun gambaran global, sekarang pengaruh dapat mengalir melalui video berdurasi beberapa detik nan muncul di layar ponsel miliaran orang setiap hari. Dalam konteks tersebut, TikTok menunjukkan bahwa persaingan pengaruh internasional tidak lagi hanya berjalan di ruang diplomasi alias arena ekonomi, tetapi juga di laman FYP nan kita buka setiap pagi.
Di era digital, perebutan pengaruh tidak selalu datang dalam corak pidato diplomatik alias kekuatan militer. Terkadang, dia datang melalui video pendek nan muncul di layar ponsel kita sebelum sarapan. Dengan demikian, persaingan pengaruh antarnegara pada abad ke-21 tidak hanya berjalan melalui diplomasi umum dan kekuatan ekonomi, tetapi juga melalui platform digital nan membentuk persepsi publik dunia setiap hari.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·