"Kalau bukan orang Batak, jangan dibawa ke rumah."
Kalimat seperti ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Namun, bagi sebagian masyarakat Batak, kalimat tersebut tetap menjadi realita nan kudu dihadapi. Tidak sedikit pasangan nan hubungannya kandas bukan lantaran sudah tidak saling mencintai, melainkan lantaran belum mendapat restu family akibat perbedaan suku.
Di Indonesia nan dikenal sebagai negara multikultural, kejadian ini menjadi ironi. Kita hidup berdampingan dengan ratusan suku bangsa, belajar bersama, bekerja bersama, apalagi berkawan tanpa memandang latar belakang budaya. Namun ketika berbincang tentang pernikahan, batas-batas itu terkadang kembali muncul.
Perlu dipahami sejak awal, tulisan ini tidak bermaksud menggeneralisasi masyarakat Batak. Tidak semua family Batak menolak pernikahan dengan non-Batak. Bahkan saat ini sudah banyak family nan menerima pasangan dari beragam suku dan tetap menjalankan budaya dengan baik. Namun, kejadian penolakan tersebut tetap ada dan tetap sering menjadi perbincangan di tengah masyarakat.
Bukan Sekadar Pernikahan
Banyak orang luar menganggap penolakan tersebut sebagai corak diskriminasi. Padahal, jika dilihat lebih dalam, persoalannya jauh lebih kompleks.
Dalam budaya Batak, pernikahan bukan hanya tentang dua orang nan saling mencintai. Pernikahan berfaedah menyatukan dua family besar nan bakal terikat dalam hubungan adat. Ada marga nan kudu dijaga, ada silsilah family nan dihormati, ada prosesi budaya nan diwariskan turun-temurun, dan ada tanggung jawab budaya nan diyakini kudu diteruskan kepada generasi berikutnya.
Dari perspektif pandang orang tua, kemauan agar anak menikah dengan sesama Batak sering kali lahir dari rasa tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur. Mereka cemas jika anak menikah dengan orang dari luar suku, budaya perlahan bakal ditinggalkan alias tidak lagi dipahami oleh cucu-cucu mereka.
Kekhawatiran itu sebenarnya wajar.
Namun, persoalan mulai muncul ketika kekhawatiran berubah menjadi penolakan tanpa memberi kesempatan kepada pasangan untuk menunjukkan niat baiknya.
Ketika Komunikasi Berhenti Sebelum Dimulai
Dalam banyak kasus, pasangan non-Batak belum sempat mengenalkan dirinya, tetapi sudah terlebih dulu dinilai lantaran identitas sukunya.
Muncul dugaan bahwa orang luar tidak bakal memahami budaya Batak. Ada pula nan berasumsi bahwa mereka tidak bisa mengikuti tradisi family alias tidak bakal menghormati orang tua.
Padahal, semua itu belum tentu benar.
Di sinilah letak halangan komunikasi antar etnik.
Komunikasi nan sehat semestinya diawali dengan saling mengenal. Namun nan terjadi justru sebaliknya. Penilaian dibangun dari stereotip, bukan dari pengalaman nyata. Akibatnya, perbincangan nan semestinya menjadi jalan keluar berubah menjadi tembok nan memisahkan.
Yang menjadi korban bukan hanya pasangan nan sedang menjalin hubungan, tetapi juga kesempatan untuk saling memahami budaya masing-masing.
Indonesia Sedang Berubah
Realitas sosial Indonesia hari ini sangat berbeda dibandingkan puluhan tahun lalu.
Anak muda berjumpa dengan beragam suku setiap hari. Di kampus, tempat kerja, organisasi, apalagi media sosial, batas-batas budaya semakin tipis. Sangat wajar jika kemudian muncul hubungan antara orang Batak dengan Jawa, Sunda, Minang, Bali, Bugis, Dayak, alias suku lainnya.
Fenomena ini bukan ancaman terhadap budaya. Justru inilah wajah baru Indonesia nan semakin terbuka.
Kalau setiap perbedaan selalu dianggap sebagai ancaman, gimana mungkin masyarakat multikultural bisa betul-betul terwujud Bukankah semboyan bangsa ini adalah Bhinneka Tunggal Ika—berbeda-beda tetapi tetap satu?
Menjaga Adat Tidak Harus Menolak Orang Lain
Ada dugaan bahwa menerima pasangan dari luar Batak berfaedah mengorbankan adat. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Banyak pasangan lintas suku nan tetap melaksanakan prosesi budaya Batak secara lengkap. Banyak pula pasangan non-Batak nan justru belajar bahasa Batak, memahami sistem kekerabatan, mengikuti aktivitas adat, apalagi mengajarkan budaya tersebut kepada anak-anak mereka.
Ini menunjukkan bahwa melestarikan budaya tidak kudu dilakukan dengan membatasi siapa nan boleh menjadi bagian dari keluarga. Budaya bakal tetap hidup selama tetap ada orang nan mau mempelajari dan menghargainya.
Lalu, Apa Solusinya?
Persoalan seperti ini tentu tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengatakan bahwa orang tua kudu berubah alias anak kudu mengikuti kemauan keluarga. nan dibutuhkan adalah ruang untuk saling mendengar.
Pertama, family perlu membuka ruang dialog. Banyak bentrok sebenarnya lahir lantaran masing-masing pihak berbincang dengan emosi, bukan dengan kemauan untuk memahami. Orang tua berkuasa menyampaikan argumen kenapa budaya begitu krusial bagi mereka, sementara anak juga berkuasa menjelaskan bahwa memilih pasangan hidup bukan berfaedah meninggalkan identitas budaya.
Kedua, berhentilah menilai seseorang berasas sukunya. Menjadi Batak, Jawa, Sunda, Minang, alias Bugis bukan ukuran baik buruknya seseorang. nan lebih krusial adalah gimana seseorang menghormati pasangan, keluarga, dan nilai-nilai nan dijunjung bersama.
Ketiga, pasangan lintas suku juga kudu menunjukkan kesungguhan. Menghormati budaya pasangan bukan berfaedah kehilangan identitas sendiri. Justru dengan mempelajari budaya pasangan, hubungan bakal menjadi lebih kuat lantaran dibangun di atas rasa saling menghargai.
Keempat, generasi muda perlu menjadi jembatan antara budaya dan perkembangan zaman. Melestarikan budaya tetap penting, tetapi langkah menjaganya kudu bisa menyesuaikan dengan realitas masyarakat nan semakin beragam.
Saatnya Melihat Seseorang Sebagai Manusia
Pada akhirnya, pertanyaan nan perlu kita renungkan bukanlah "Apakah dia satu suku dengan kita?", melainkan "Apakah dia bisa mencintai, menghormati, dan membangun family dengan baik?"
Karena family nan selaras tidak lahir dari kesamaan marga semata. Keluarga dibangun dari komunikasi, saling menghormati, kepercayaan, dan komitmen.
Indonesia tidak bakal kehilangan budaya hanya lantaran semakin banyak pernikahan lintas suku. Sebaliknya, Indonesia bakal menjadi bangsa nan lebih kuat ketika setiap budaya bisa hidup berdampingan tanpa saling menutup diri.
Menjaga budaya adalah sebuah kehormatan. Namun menjaga kemanusiaan dan menghargai pilihan hidup orang lain juga merupakan nilai nan tidak kalah penting.
Mungkin sudah saatnya kita berakhir memandang perbedaan sebagai ancaman, dan mulai melihatnya sebagai kesempatan untuk saling mengenal. Sebab, masyarakat multikultural tidak dibangun dengan tembok nan memisahkan, melainkan dengan jembatan nan menghubungkan.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·