Keterlambatan Sistem Layanan Kesehatan Jadi Hambatan Utama Penanganan Stroke di Indonesia

Sedang Trending 19 jam yang lalu
Keterlambatan Sistem Layanan Kesehatan Jadi Hambatan Utama Penanganan Stroke di Indonesia Ilustrasi(magnific)

KETERLAMBATAN dalam sistem jasa kesehatan sebelum pasien mendapatkan tindakan medis tetap menjadi halangan terbesar bagi penanganan stroke di Indonesia. Temuan ini terungkap dalam laporan terbaru berjudul Strengthening Stroke System Readiness Across ASEAN nan diluncurkan oleh Siemens Healthineers pada arena Hospital Management Asia 2026 di Bangkok, Thailand.

Laporan tersebut merangkum perspektif dari tujuh master kesehatan terkemuka di Asia Tenggara, termasuk Dr. dr. Affan Priyambodo, Sp. BS (K), Subsp. N-Vas, Direktur Medik RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.

Para master menyoroti bahwa hambatan utama di Indonesia lebih berkarakter sistemik daripada klinis. Proses rujukan antarrumah sakit nan panjang serta pengurusan manajemen asuransi sering kali membuang waktu krusial pasien (golden period).

Stroke tetap menjadi ancaman kesehatan serius di kawasan. Berdasarkan info Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Asia Tenggara menyumbang lebih dari 40% kematian akibat stroke secara global. Di Indonesia sendiri, stroke merupakan penyebab kematian utama dengan beban penyakit nan terus meningkat seiring bertambahnya populasi lanjut usia.

MI/HO

Kesenjangan Akses dan Tantangan Sistemik

Indonesia sebenarnya telah melakukan langkah progresif melalui Program Pengampuan Stroke nasional. Program ini menargetkan penguatan kapabilitas jasa di 514 kabupaten dan kota. Namun, pengedaran keahlian medis saat ini tetap menunjukkan ketimpangan nan signifikan antara wilayah Barat dan Timur Indonesia.

Kategori Layanan Capaian (April 2026) Target 2027
Kabupaten/Kota dengan Kemampuan Trombolisis (Obat Pelarut Bekuan Darah) 231 Wilayah 100% Nasional
Kabupaten/Kota dengan Kemampuan Trombektomi (Pengangkatan Bekuan Darah) 81 Wilayah -

Alfred Fahringer, Presiden Direktur Siemens Healthineers di Indonesia, menekankan bahwa hasil penanganan sangat berjuntai pada keterpaduan sistem.

"Tantangannya adalah memastikan jenis stroke diketahui secara tepat dan cepat, mulai dari pengenalan indikasi hingga rehabilitasi," ujarnya.

Inovasi Lokal dan Peran Teknologi AI

Di tengah tantangan tersebut, model hub-and-spoke nan diterapkan di Yogyakarta dan Bali menjadi titik terang. Di RSUP Dr. Sardjito, prosedur stroke vaskular ditangani oleh satu tim terpadu, nan terbukti mengurangi ketergantungan pada satu jenis skill medis dan menjaga jasa tetap tersedia 24 jam.

Selain model manajemen, Kecerdasan Buatan (AI) diproyeksikan menjadi pilar integrasi layanan, terutama untuk menjangkau wilayah pelosok. Jaringan tele-stroke berbasis AI dapat membantu master di rumah sakit perujuk untuk menginterpretasi hasil pencitraan medis secara instan, sehingga keputusan medis bisa diambil lebih sigap tanpa kudu menunggu pasien tiba di pusat rujukan utama.

5 Prioritas Penguatan Layanan Stroke

Berdasarkan laporan tersebut, terdapat lima langkah strategis nan kudu segera diimplementasikan di Indonesia:

  1. Sinkronisasi Rujukan: Memperkuat koordinasi antar-RS untuk memangkas waktu pemindahan pasien.
  2. Rujukan Berbasis Kemampuan: Mengalihkan sistem rujukan dari berbasis jarak terdekat menjadi berbasis akomodasi nan mempunyai keahlian trombektomi.
  3. SDM Spesialis: Investasi berkepanjangan pada perawat neurointervensi nan terlatih.
  4. Jaringan Terintegrasi: Memastikan pusat jasa komprehensif siap beraksi setiap saat tanpa jeda.
  5. Edukasi Publik: Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda peringatan FAST (Face, Arms, Speech, Time).

"Penanganan stroke adalah rangkaian tindakan nan dimulai apalagi sebelum pasien tiba di rumah sakit. Prinsip integrasi nasional kudu diperluas agar kondisi geografis tidak lagi menentukan tingkat jasa nan diterima pasien," pungkas Alfred Fahringer.

(Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia