Kesepian di Era Media Sosial: Mengapa Banyak Orang Merasa Tidak Memiliki Teman?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi traveling sendirian ke pantai. Foto: Shutterstock

Di era digital, media sosial telah menjadi bagian nan tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Berbagai platform memungkinkan seseorang terhubung dengan siapa saja, kapan saja, tanpa mengenal pemisah wilayah. Ironisnya, di tengah kemudahan berkomunikasi tersebut, banyak orang justru mengaku merasa semakin kesepian.

Fenomena ini juga didukung oleh temuan ilmiah. Penelitian nan dipublikasikan dalam American Journal of Preventive Medicine oleh Brian A. Primack dan tim (2017) menemukan bahwa perseorangan dengan intensitas penggunaan media sosial nan tinggi condong mempunyai akibat lebih besar mengalami emosi kesenyapan dibandingkan mereka nan menggunakannya secara lebih terbatas. Temuan tersebut menunjukkan bahwa banyaknya hubungan di bumi maya tidak selalu sejalan dengan terpenuhinya kebutuhan bakal hubungan sosial nan bermakna.

Media sosial pada dasarnya diciptakan untuk mendekatkan orang. Namun, dalam praktiknya, hubungan nan terjadi sering kali hanya sebatas memberikan tanda suka, komentar singkat, alias membagikan momen terbaik kehidupan. Psikolog sosial Julianne Holt-Lunstad menjelaskan bahwa kesenyapan lebih dipengaruhi oleh kualitas hubungan daripada jumlah hubungan nan dimiliki seseorang.

Seseorang bisa mempunyai banyak kawan alias pengikut di media sosial, tetapi tetap merasa kesenyapan jika tidak mempunyai hubungan nan memberikan support emosional dan rasa saling memahami. Komunikasi semacam ini memang menciptakan kesan bahwa seseorang selalu terhubung, tetapi belum tentu menghadirkan kedekatan emosional nan sesungguhnya.

Di sisi lain, media sosial juga menghadirkan budaya komparasi sosial. Setiap hari pengguna disuguhi foto liburan, pencapaian karier, kehidupan nan tampak sempurna, hingga style hidup nan serba mewah. Tanpa disadari, banyak orang mulai membandingkan kehidupannya dengan apa nan mereka lihat di bumi maya. Padahal, nan ditampilkan di media sosial hanyalah potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan kenyataan.

Akibatnya, muncul emosi tertinggal, tidak cukup baik, apalagi merasa hidupnya kurang berfaedah dibandingkan orang lain. Perasaan seperti ini lambat laun dapat memicu kesepian, meskipun secara virtual seseorang tampak mempunyai banyak kawan dan pengikut.

Kesibukan juga menjadi aspek nan memperparah kondisi tersebut. Banyak orang lebih memilih mengirim pesan singkat daripada meluangkan waktu untuk berjumpa secara langsung. Hubungan pertemanan nan dulu dibangun melalui obrolan panjang sekarang berganti menjadi jawaban singkat alias sekadar memberikan emoji. Lambat laun, hubungan menjadi semakin dangkal dan kehilangan makna.

Kesepian bukanlah persoalan sepele. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai kesenyapan dan isolasi sosial sebagai rumor kesehatan masyarakat nan perlu mendapat perhatian lantaran berakibat pada kesehatan mental maupun fisik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesenyapan nan berjalan dalam jangka panjang dapat meningkatkan akibat stres, kecemasan, depresi, serta menurunkan kualitas hidup seseorang.

Menurut saya, media sosial bukanlah musuh nan kudu dijauhi. nan perlu diubah adalah langkah kita menggunakannya. Teknologi semestinya menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antarmanusia, bukan menggantikannya.

Tidak ada salahnya mengurangi waktu menatap layar dan mulai meluangkan waktu untuk berbincang secara langsung dengan keluarga, sahabat, alias rekan kerja. Percakapan sederhana, makan bersama, alias sekadar menanyakan berita seseorang sering kali jauh lebih berarti dibandingkan ratusan hubungan di media sosial.

Pada akhirnya, kualitas hubungan tidak ditentukan oleh jumlah pengikut alias banyaknya tanda suka nan kita miliki. nan betul-betul dibutuhkan setiap orang adalah kehadiran seseorang nan mau mendengarkan, memahami, dan menemani dalam beragam situasi kehidupan.

Di tengah bumi nan semakin digital, mungkin sudah saatnya kita kembali mengingat bahwa hubungan nan paling berbobot tetap dibangun melalui kepedulian dan kedekatan nan nyata, bukan sekadar hubungan internet.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan