Jakarta, CNBC Indonesia - Penampakan di Pasar Tanah Abang pada hari Selasa (12/5/2026) tidak sepadat dibayangkan. Para pedagang pun mengungkapkan penyebab pembeli dan pedagang makin berkurang di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Mayoritas pedagang mengatakan berkurangnya pembeli terjadi lantaran daya beli masyarakat nan makin lesu. Apalagi saat ini, kenaikan nilai bahan pokok turut membikin banyak masyarakat mulai melakukan penghematan, termasuk untuk keperluan membeli pakaian.
Limei, salah satu pedagang busana anak-anak mengatakan daya beli masyarakat nan lesu berkapak ke penjualannya.
"Daya beli masyarakat sih nan kembali lesu lagi, sekarang kan apa-apa pada naik harganya. Harga plastik naik, nilai BBM naik, nilai bahan pokok juga naik. Orang-orang condong lebih irit untuk membeli nan lain, termasuk pakaian," kata Limei.
Bahkan, pembeli langganannya pun juga sudah mulai mengurangi jumlah pembelian.
"Daya beli nan lesu juga berakibat ke langganan saya, jadinya mereka mulai mengurangi jumlah pembelian di sini, untuk dijual lagi, lantaran jualan mereka juga lagi seret, akhirnya dikurangi lah beli di sini, nan biasanya beli sekarung, sekarang hanya separuh karung saja," lanjutnya.
Selain itu, pola shopping masyarakat juga berpengaruh meski dirinya kerap juga melakukan live TikTok untuk menjangkau pembeli online.
"Sejak Covid-19, orang-orang sekarang sudah malas cape-cape ke sini, bisa beli di online sekarang, tapi memang kembali lagi sih, daya belinya nan lagi turun," ujarnya.
Penyebab Lainnya
Sedangkan Jody, pedagang busana dewasa mengatakan salah satu argumen kenapa pembeli sudah banyak berkurang lantaran akses dari Stasiun Tanah Abang ke Blok A dan Blok B Tanah Abang cukup ribet dan jauh.
"Mungkin orang-orang jadi malas ke sini, lantaran sekarang dari stasiun, mau ke Blok A alias Blok B, agak ribet. Kalau dulu kan ada shuttle busway muterin Tanah Abang, sekarang sudah enggak ada. Ditambah dari gedung baru stasiun itu jalan kaki lumayan jauh. Mungkin itu salah satu alasannya," kata Jody.
Namun, nan utama menurutnya, daya beli menjadi penyebab pembeli makin berkurang.
"Momentum setelah Lebaran memang Tanah Abang condong sepi. Tapi sekarang kan harga-harga pada naik ya, mungkin orang-orang tahan shopping busana dulu. Uangnya jadi buat beli bahan pokok, alias nan lain," terang Jody.
Ia berambisi penurunan jumlah pembeli mendapat atensi dari pemerintah, bahwa ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
"Ya semoga pemerintah lebih melek lah, kadang kami sedih juga, jika seperti ini terus, ya kami lama-lama enggak kuat," ungkapnya.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·