Jakarta -
Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan program makan bergizi cuma-cuma (MBG) menyebabkan terjadinya lonjakan populasi ayam petelur pada 2026. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan Agung Suganda menilai lonjakan populasi ayam petelur sekitar 30%.
Agung mengatakan penerapan program MBG serta kehadiran Sentra Pelayanan Pertanian Generasi Baru (SPPG) telah memicu antusiasme peternak lokal untuk membangun peternakan ayam baru. Hal ini berakibat pada peningkatan populasi ayam pada 2026.
"Tahun 2025 itu nilai telur cukup bagus dan memang lantaran atensi dan minat dari para pelaku untuk membangun peternakan ayam ini semakin tinggi lantaran ada MBG. Sehingga populasi ayam petelur kita tahun 2026 ini peningkatannya cukup signifikan," ujar Agung usai melakukan rapat dengan asosiasi dan peternak di instansi Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta Selatan, Selasa (12/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agung menjelaskan lonjakan populasi ayam petelur (layer) mencapai nyaris 30% pada 2026 jika dibandingkan tahun sebelumnya (year on year). Selain program MBG, Agung merinci ada beberapa aspek nan membikin populasi ayam petelur meledak di tahun ini.
"Jadi kenaikannya saat ini dibandingkan year on year di tahun 2025 itu cukup tinggi ya kurang lebih nyaris 30% kenaikannya. Pertama, lantaran ada minat dari para investor, penanammodal lokal ya bukan luar, peternak lah ya, untuk menambah membangun kandang-kandang baru lantaran ada SPPG tadi, MBG ini itu daya tarik tersendiri," tambah Agung.
Kedua, utilisasi bibit ayam petelur (DOC Layer) nan biasanya hanya di kisaran 60-70 persen, sekarang melonjak hingga nyaris 100 persen terserap menjadi ayam produktif. Ketiga, kualitas genetik membikin ayam lebih tahan lama dalam berproduksi dengan kesehatan nan persisten.
"Genetik ayam kita juga semakin bagus kesehatan produksinya persisten bagus dan apalagi ada nan biasanya maksimum 95 minggu alias apalagi 100 minggu dilakukan afkir ini lantaran demand-nya banyak diperpanjang nah ini juga nan menyebabkan populasi ini terus meningkat," jelas Agung.
Meski lonjakan populasi ini merupakan berita baik bagi kesiapan protein nasional, Kementan menilai melimpahnya stok telur nan tidak diimbangi dengan stabilitas nilai di tingkat produsen dapat menakut-nakuti keberlangsungan peternak rakyat.
"Nah sebetulnya bagus gitu ini perihal nan positif tetapi kudu diimbangi juga dengan nilai di tingkat peternak nan juga kudu bisa memberikan untung bagi peternak. Kalau tidak ya peternaknya jadi dibangkrut sementara nilai di tingkat konsumen itu relatif stabil sebetulnya," tegas Agung.
(acd/acd)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·