Kesaksian Aktivis Flotilla Gaza: Disiksa dan Dilecehkan Pasukan Israel

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
 Disiksa dan Dilecehkan Pasukan Israel Relawan Flotilla Gaza.(Al Jazeera)

PARA aktivis kemanusiaan nan tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla mengungkap kesaksian mengerikan mengenai kampanye kekerasan terencana yang dilakukan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Setelah dideportasi ke Istanbul, para relawan melaporkan ada praktik penyiksaan, pelecehan seksual, hingga penggunaan senjata non-letal secara sewenang-wenang.

Zack Schofield, seorang aktivis asal Newcastle, Australia, menceritakan dia menyaksikan rekan sesama aktivis--seorang wanita asal Irlandia--dipukuli hingga jatuh ke tanah. Insiden itu terjadi setelah wanita tersebut terekam meneriakkan, "Free Palestine," di hadapan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir.

"Tangan dan kakinya diikat dengan kabel (zip-tied), lampau dia diseret di sekitar pusat pemrosesan sebelum dimasukkan ke bus penjara," ungkap Schofield. Ia menambahkan bahwa kekerasan nan dilakukan penjaga sangat tidak konsisten dan berjuntai pada suasana hati petugas nan berjaga.

Penyiksaan Sistematis dan Pelecehan Seksual

Dari 428 personil flotilla nan ditahan, sebelas di antara mereka ialah penduduk negara Australia. Juliet Lamont, seorang kreator movie asal Australia, memberikan kesaksian nan sangat traumatis. Ia mengaku menjadi korban pelecehan seksual dan pemukulan oleh tentara Israel.

Lamont melaporkan bahwa di atas kapal penjara, tentara memukuli sekitar 180 orang. Ini mengakibatkan sedikitnya 40 orang mengalami patah tulang. Beberapa aktivis lainnya disetrum dengan Taser dan diberi obat penenang secara paksa.

Daftar Dugaan Pelanggaran di Tahanan Israel:

  • Kekerasan Fisik: Penggunaan peluru kacang (beanbag rounds) dan perangkat kejut listrik terhadap tahanan nan terikat.
  • Penyiksaan Posisi: Tahanan dipaksa duduk dalam posisi stres nan menyakitkan dan tangan diborgol ke belakang hingga akibat dislokasi bahu.
  • Kondisi Tidak Manusiawi: Tidur di lantai beton nan dingin dan basah tanpa selimut, dengan kepadatan empat orang per meter persegi di dalam kontainer.
  • Intimidasi Psikologis: Pemindahan sel setiap jam untuk mengganggu mental tahanan (mind games).

Klaim Sensitivitas nan Dibantah Fakta

Duta Besar Israel untuk Australia, Hillel Newman, membantah semua tuduhan tersebut dan mengeklaim bahwa para aktivis ditangani dengan sensitivitas tinggi. Ia menyatakan kepada ABC bahwa tidak ada satu pun dari 400 lebih peserta flotilla nan terluka.

Namun, pernyataan ini berbanding terbalik dengan kebenaran di lapangan. Koordinator flotilla melaporkan bahwa seluruh aktivis Australia memerlukan pertolongan pertama setelah dibebaskan. Tiga di antara mereka kudu dilarikan ke rumah sakit di Turki. Foto-foto nan beredar juga menunjukkan para aktivis dengan luka memar dan kulit nan robek.

Provokasi Menteri Itamar Ben-Gvir

Kritik keras juga mengalir setelah Itamar Ben Gvir mengunggah video nan memperlihatkan dirinya mengejek para aktivis nan sedang bertimpuh dan terikat. Tindakan ini apalagi memicu teguran dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang menyatakan bahwa perilaku Ben-Gvir tidak sejalan dengan nilai-nilai Israel.

Neve O’Connor, seorang mahasiswa asal Melbourne, memberikan testimoni bahwa tentara membenturkan kepalanya ke meja dan menarik anting-antingnya menggunakan tang. "Ini pengingat bentuk bahwa meskipun kami dianiaya, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nan dialami penduduk Palestina setiap hari," ujarnya.

Meski mengalami kebrutalan, Zack Schofield menegaskan bahwa semangat para aktivis justru semakin kuat. "Setiap aktivis di flotilla ini, baik mereka memilih untuk kembali alias tidak, hatinya semakin berani setelah menyaksikan dan mengalami sendiri kebrutalan negara Israel," pungkasnya. (The Guardian/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia