Arief Setyadi
, Jurnalis-Selasa, 20 Oktober 2026 |12:36 WIB

Kerusuhan di Prancis (Foto: Ist)
PRANCIS – Kerusuhan nan melanda sejumlah wilayah di Prancis berujung pada penangkapan lebih dari 2.300 orang. Kementerian Dalam Negeri Prancis juga melaporkan nyaris 1.000 polisi dan personil gendarmerie terluka dalam demonstrasi nan berjalan pada Sabtu 17 Oktober 2026.
Korban luka juga bertumbangan dari kalangan demonstran. Salah seorang peserta tindakan apalagi dilaporkan kehilangan tangan akibat terkena granat pengendali massa nan dilemparkan polisi.
Demonstrasi besar-besaran itu melibatkan mahasiswa nan menuntut perbaikan kondisi pendidikan, serta penduduk nan memprotes tingginya biaya hidup dan buruknya pelayanan publik.
Lebih dari 500.000 orang dilaporkan mengikuti tindakan tersebut. Namun, demonstrasi di sejumlah kota berubah menjadi kerusuhan nan ditandai dengan penjarahan, pembakaran, dan perusakan akomodasi umum. Sejumlah perusuh bertopeng juga menyerang balai kota, instansi polisi, serta gedung pemerintahan lainnya.
Pejabat kepolisian Nunez mengakui abdi negara kehilangan kendali di sejumlah letak selama tindakan berlangsung. “Pada hari Sabtu di beberapa kota besar, Anda tidak bisa menatap mata para pemilik toko setelah ratusan toko dijarah dan mengatakan kepada mereka bahwa kami belum kehilangan kendali,” katanya, melansir Aljazeera, Selasa (20/10/2026).
Nunez juga mengakui kurangnya antisipasi dalam pengerahan abdi negara keamanan. Menurut dia, jumlah personel nan disiagakan tidak memadai untuk menghadapi besarnya massa perusuh dan penjarah nan bergerak di sekitar letak demonstrasi.
Sejumlah wali kota dari kota-kota besar di Prancis pun turut mendesak pemerintah memberikan penjelasan mengenai persiapan pengamanan nan dinilai tidak memadai. Nunez memperkirakan sekitar 60.000 personel penegak norma dikerahkan di seluruh Prancis pada hari demonstrasi. Sementara itu, sekitar 350 orang ditangkap di Paris pada Minggu 18 Oktober dan sepanjang malam.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·