ilustrasi(Antara)
Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa pekan terakhir dinilai belum dapat dijadikan parameter bahwa kepercayaan pasar terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah telah pulih sepenuhnya. Penguatan rupiah lebih banyak ditopang aspek eksternal dan sejumlah kebijakan jangka pendek nan berkarakter defensif.
Peneliti Center of Reform on Economics (CoRE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan tetap terlalu awal untuk menyimpulkan bahwa pasar telah kembali meletakkan kepercayaan penuh terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.
“Masih terlalu awal untuk menyimpulkan bahwa pasar sudah sepenuhnya kembali percaya pada kredibilitas kebijakan pemerintah. Memang rupiah menguat dari level di atas Rp18.100 per dolar AS pada awal Juni menjadi sekitar Rp17.778 pada pertengahan bulan. Namun jika ditelusuri lebih dalam, penguatan tersebut lebih banyak didorong aspek eksternal dan kebijakan jangka pendek daripada perbaikan kepercayaan nan berkarakter struktural,” kata Yusuf saat dihunungi, Rabu (17/6).
Menurutnya, salah satu aspek utama nan mendorong penguatan rupiah adalah melemahnya indeks dolar AS setelah muncul kesepakatan tenteram sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut mendorong penguatan sejumlah mata duit negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain aspek eksternal, kebijakan domestik juga turut menopang pergerakan rupiah. Bank Indonesia meningkatkan BI Rate sebesar 25 pedoman poin menjadi 5,50% melalui rapat di luar agenda reguler. Pemerintah juga menerapkan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) nan mewajibkan eksportir sektor sumber daya alam menempatkan seluruh devisa hasil ekspornya di dalam negeri.
“Langkah-langkah ini memang membantu menstabilkan rupiah, tetapi sifatnya lebih melindungi untuk meredam tekanan pasar daripada mencerminkan pulihnya kepercayaan secara alami,” ujarnya.
Yusuf menilai ujian sesungguhnya terhadap stabilitas rupiah baru bakal terlihat ketika sentimen dunia kembali berubah. Menurut dia, pelemahan dolar AS dan membaiknya sentimen pasar dunia belum tentu berjalan permanen.
“Pertanyaan pentingnya adalah apakah rupiah dapat memperkuat tanpa support suku kembang nan lebih tinggi dan tanpa support pelemahan dolar global. Selama perihal itu belum terjawab, saya condong berhati-hati menyebut penguatan rupiah sebagai bukti pemulihan kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah,” jelasnya. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·