Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fatani, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi kejadian El Nino nan diperkirakan mulai aktif pada Juni 2026 dan berpotensi terjadi berbarengan dengan musim tandus di Indonesia.
Hal itu disampaikan Teuku Faisal Fatani usai menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) IKASTARA di Wisma Serbaguna GBK, Jakarta, Sabtu (23/5).
"Ya begini, jadi perlu diketahui bahwa El Nino itu adalah kejadian dari anomali suasana bumi ya. Dia bakal muncul tiga sampai tujuh tahun sekali, dan itu terus dipantau oleh banyak negara, ada Amerika, Jepang, semua negara memantau," kata Teuku.
Ia menjelaskan El Nino diperkirakan mulai aktif pada Juni dengan intensitas moderat hingga kuat.
"Untuk tahun ini, itu El Nino bakal mulai aktif diperkirakan di bulan Juni, kelak dia dengan intensitas kira-kira moderate ya, sampai sini moderate sampai kuat," ujarnya.
Menurutnya, kombinasi El Nino dengan musim tandus berpotensi menyebabkan musim kering di Indonesia berjalan lebih lama dibandingkan pola normal dalam tiga dasawarsa terakhir.
"Dan itu nan perlu kita waspadai ketika di bulan Juni, Juli, Agustus, kelak puncak musim tandus Agustus, September, itu dapat membikin tandus di Indonesia bakal lebih panjang dan juga lebih kering dari nan terjadi dalam rata-rata 30 tahun terakhir," kata Teuku.
Teuku menyebut Indonesia sebelumnya juga pernah mengalami kejadian serupa dengan akibat nan lebih kuat pada beberapa tahun tertentu.
"Dari rata-rata ya, ada nan lebih kuat lagi ialah di tahun 2015, 2019, dan 2023 sebelumnya," ucap dia.
Untuk mengantisipasi dampaknya terhadap ketahanan pangan, Teuku mengatakan, pihaknya telah berbincang dengan pemerintah mengenai langkah pengisian persediaan air melalui operasi modifikasi cuaca.
"Nah, kemudian tadi Bapak Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan berbincang banyak dengan kami bahwa kita punya 220-an waduk di Indonesia, sehingga mulai sekarang ketika awan tetap ada, kita melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengisi tampungan-tampungan air kita ini agar swasembada pangan dapat kita jamin di tahun ini," imbuhnya.
Dampak El Nino
Sementara mengenai dampaknya, Teuku menjelaskan wilayah Indonesia nan paling terdampak umumnya berada di bawah garis khatulistiwa.
"Kemudian nan terpengaruh El Nino itu umumnya adalah Indonesia di bawah garis khatulistiwa, itu nan terpengaruh El Nino. Tapi nan di bagian atas seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, Kalimantan bagian utara itu tidak terpengaruh signifikan terhadap El Nino," kata Teuku.
Ia juga menegaskan bahwa musim tandus bukan berfaedah hujan berakhir sepenuhnya. Intensitas hujan hanya bakal jauh berkurang.
"Sehingga masyarakat sering bertanya 'katanya sudah tandus kata BMKG kok tetap ada hujan', nah itu sebenarnya artinya hujannya tetap ada tapi dalam jumlah nan jauh lebih sedikit," ucapnya.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·