Di tengah pusaran perubahan peradaban dunia dan semakin banyaknya pengajar dikukuhkan sebagai pembimbing besar, pembimbing besar bukan lagi sekadar simbol prestasi suatu kedudukan akademik tertinggi, tetapi telah bergeser paradigma nan selama ini dikenal.
Seorang pembimbing besar sekarang beralih bentuk tidak lagi dianggap sebagai orang dengan wawasan dan pengetahuan nan tinggi, melainkan juga menjadi figur moral nan dituntut menafsirkan dan membawa perubahan peradaban masyarakat melampaui zaman.
Realitas menunjukkan banyak akademisi terjebak dalam burnout. Laporan internasional menyebut lebih dari sepertiga akademisi dan mahasiswa mengalami kelelahan kronis akibat tekanan publikasi, birokrasi, dan tuntutan administratif.
Fenomena ini menandakan krisis relevansi: Ilmu pengetahuan kehilangan makna ketika dipisahkan dari kehidupan nyata.
Akademisi nan semestinya menjadi mercusuar justru tampak seperti menara gading nan bagus tetapi rapuh. Termasuk pembimbing besar.
Guru Besar nan Terlalu Tekstual
Universitas sering kali terjebak dalam obsesi terhadap teks, bukan konteks. Filsuf dan sosiolog besar Jerman, Habermas (1981), pernah menegaskan bahwa kerasionalan komunikatif hanya berarti jika berakar pada ruang publik nan hidup, bukan sekadar ruang seminar nan steril.
Banyak pembimbing besar tetap menganggap publikasi di jurnal bereputasi sebagai puncak pencapaian, padahal masyarakat di luar kampus menunggu solusi nyata atas krisis pangan, lingkungan, dan ketidakadilan sosial.
Akademisi nan terlalu tekstual melahirkan generasi intelektual nan fasih mengutip teori, tetapi gagap menghadapi kenyataan. Mereka pandai menulis di ruang kerja, tetapi takut bajunya, sepatunya, mobilnya dan tangannya menjadi kotor ketika berada di lapangan, di tengah-tengah masyarakat nan menganggapnya sebagai pahlawan penolong dan pengubah peradaban.
Kritik ini sebenarnya mau memperlihatkan lembah antara ideal filosofis dan realitas kelembagaan. Ketika universitas lebih sibuk mengejar legalisasi dan indeks sitasi, dia kehilangan kegunaan moralnya. Guru besar nan semestinya menjadi penafsir era justru menjadi pengurus pengetahuan.
Sesungguhnya inilah corak alienasi intelektual: Ilmu nan kehilangan roh dan akademisi nan kehilangan relevansi. Jika tidak dikoreksi, akademia bakal menjadi museum teori, bukan laboratorium kehidupan.
Relevansi Guru Besar dan Burnout Akademik
Burnout akademik bukan sekadar kelelahan fisik, melainkan kelelahan eksistensial. Data dunia menunjukkan lebih dari 33% akademisi mengalami indikasi burnout: Sinisme, kelelahan emosional, dan penurunan efikasi akademik.
Fenomena burnout, menurut Sachaufeli dan teman-teman (2002), adalah ketika sistem pendidikan tinggi telah kandas menjaga keseimbangan antara tuntutan administratif dan makna kerja intelektual.
Guru besar nan dulu menjadi penjaga nurani sekarang sering tampak seperti figur nan kehabisan daya akademik, terjebak dalam ritual birokrasi, nyaman dalam kedudukan struktural, dan terlena dalam pusaran proyek.
Dunia pendidikan tinggi masa kini, di era Revolusi Industri 4.0, menuntut akademisi untuk menjadi navigator moral di tengah disrupsi teknologi. Schwab (2016) mengritik, gimana mungkin mereka bisa menavigasi jika daya intelektual lenyap untuk memenuhi sasaran publikasi dan laporan akreditasi?
Burnout akademik adalah tanda bahwa sistem telah kehilangan orientasi. Guru besar kudu berani mengoreksi: Ilmu bukan sekadar angka, melainkan kompas nan menuntun masyarakat. Tanpa koreksi ini, akademisi bakal terus melahirkan intelektual nan lelah, bukan pemimpin nan bijak.
Rasionalitas Komunikatif dan Tanggung Jawab Publik
Tufte (2024) menekankan bahwa di era ketidakpastian, di mana banyak orang merasa terpinggirkan, komunikasi, baik sebagai disiplin pengetahuan maupun praktik, berkedudukan untuk mengatasi ketidakpastian dan emosi terpinggirkan ini, Selain itu komunikasi emansipatif adalah inti demokrasi.
Guru besar, dengan otoritas moralnya, semestinya menjadi penghubung antara universitas dan masyarakat, menjawab ketidakpastian dengan meningkatkan proses inklusi dan partisipasi bagi semua orang . Realitas menunjukkan banyak akademisi lebih sibuk berbincang kepada sesama akademisi, bukan kepada publik.
Diskursus ilmiah menjadi eksklusif, terputus dari ruang publik nan semestinya dia layani. Inilah corak kegagalan epistemik: Ilmu nan tidak lagi berkomunikasi dengan masyarakat.
Kritik ini menohok lantaran memperlihatkan bahwa pembimbing besar sering kehilangan keberanian untuk berbincang di ruang publik. Mereka takut dianggap tidak ilmiah jika terlalu praktis, padahal justru di ruang publiklah pengetahuan menemukan relevansinya. Tanggung jawab akademisi bukan hanya mengajar mahasiswa, tetapi juga menjaga kualitas demokrasi.
Jika pembimbing besar tidak datang di ruang publik, maka ruang itu bakal diisi oleh suara-suara populis nan dangkal. Akademisi kudu kembali menjadi penjaga kerasionalan komunikatif, bukan sekadar penjaga bibliografi.
Tantangan Akademisi
Schwab (2016) menegaskan bahwa akademisi ditantang mengubah langkah hidup, bekerja, dan berinteraksi secara fundamental. Akademisi tidak bisa lagi berlindung di kembali teori; mereka kudu menafsirkan akibat teknologi terhadap masyarakat.
Banyak pembimbing besar tetap terjebak dalam paradigma lama, seolah bumi bisa dikendalikan dengan textbook. Padahal, kepintaran buatan, big data, dan robotika telah mengubah lanskap sosial secara radikal. Akademisi nan kandas membaca tanda era bakal ditinggalkan oleh sejarah.
Kritik ini menohok lantaran memperlihatkan bahwa universitas sering lambat merespons perubahan. Kurikulum tetap berorientasi pada masa lalu, bukan masa depan. Guru besar kudu berani menjadi navigator moral, memastikan bahwa penemuan teknologi tidak melahirkan ketimpangan baru.
Jika tidak, arah pendidikan tinggi menjadi tidak menentu, dan bakal melahirkan lulusan nan canggih secara teknis tetapi miskin secara moral. Akademisi kudu menjadi kompas, bukan sekadar arsip.
Kebijaksanaan Spiritual dan Kekosongan Modernitas
Rumi mengingatkan bahwa manusia sering terjebak dalam samudra rutinitas nan riuh namun hampa. Akademisi nan kehilangan makna kerja intelektualnya adalah contoh nyata dari peringatan ini. Mereka sibuk menulis, mengajar, dan menghadiri seminar, tetapi jiwa mereka kosong.
Kebijaksanaan spiritual menjadi krusial untuk menuntun keluar dari kelelahan jiwa. Guru besar kudu berani menghadirkan nilai-nilai transenden dalam diskursus publik, agar pengetahuan tidak menjadi mesin tanpa jiwa.
Keengganan pembimbing besar semakin memperjelas dan memperlihatkan bahwa akademisi sering mengabaikan dimensi spiritual. Padahal, kebijaksanaan sejati lahir dari keseimbangan antara kerasionalan dan spiritualitas. Guru besar kudu berani mengajarkan bahwa pengetahuan bukan hanya tentang kalkulasi rasional, tetapi juga tentang empati, cinta, dan tanggung jawab moral.
Tanpa dimensi ini, akademisi bakal melahirkan intelektual nan pandai tetapi dingin, pandai tetapi tidak bijak. Akademisi kudu kembali pada kebijaksanaan nan humanis.
Guru Besar Warga Dunia
Reformasi epistemik kudu dimulai dari kurikulum. Guru besar perlu menanamkan empati dan tanggung jawab sosial sebagai inti kompetensi, bukan sekadar keahlian analitis. Mahasiswa kudu diajak untuk memahami bahwa setiap teori mempunyai akibat moral. Belajar bukan hanya tentang memahami konsep, tetapi tentang menguji nilai-nilai kemanusiaan di lapangan.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Akademisi tidak bisa lagi bekerja sendirian di ruang laboratorium. Mereka kudu bekerja-sama dengan komunitas, pemerintah daerah, dan pelaku industri lokal.
Pengetahuan kudu menjadi ekosistem, bukan monopoli. Di era global, kebijaksanaan lahir dari perbincangan antara pengetahuan dan pengalaman hidup masyarakat.
Etika keterlibatan kudu menjadi fondasi baru bagi pembimbing besar nan kudu datang sebagai penduduk dunia, bukan sekadar pengamat.
Kepada Siapa Guru Besar Harus Berpihak?
Guru besar, suatu kedudukan puncak piramida akademik nan dikukuhkan dengan upacara khidmat dan jubah kebesaran, sejatinya adalah wali pengetahuan nan mandatnya berasal dari publik.
Universitas dibangun dengan pajak rakyat, diisi oleh mahasiswa nan meminjam masa depan demi bayar Uang Kuliah Tunggal alias UKT nan semakin mahal, dan diberi otonomi ilmiah agar kebenaran dapat diucapkan tanpa takut.
Ketika seorang pembimbing besar turun ke panggung politik untuk melegitimasi kekuasaan, menandatangani begitu banyak kerjasama proyek, alias tak bersuara seribu bahasa saat ketidakadilan berjalan di depan matanya, dia tidak sekadar kandas secara moral, tetapi sesungguhnya dia mulai tidak jujur perjanjian sosial nan menjadi fondasi eksistensinya.
Toga itu bukan miliknya pribadi. Toga itu pinjaman dari masyarakat nan meletakkan kepercayaan.
Ironinya, semakin tinggi kedudukan akademik seseorang, semakin besar pula tekanan untuk berpihak pada nan berkuasa daripada nan benar. Guru besar nan berani bersuara berbeda kerap dibiarkan lapar oleh birokrasi kampus; dan ada pembimbing besar nan sudah mapan dan nyaman untuk mengambil risiko.
Sistem promosi akademik secara perlahan membentuk watak kepatuhan. Lembaga nan semestinya menjadi rumah pemikiran kritis justru menjadi pabrik konsensus. Maka lahirlah kejadian pembimbing besar nan fasih bicara tentang teori keadilan di ruang kuliah, namun tutup mulut alias apalagi berseberangan dengan mahasiswanya di jalanan.
Keberpihakan sejati pembimbing besar bukan soal kejenuhan memberi dan membagi ilmu, meneleiti untuk menemukan teori baru, melainkan komitmen epistemik untuk berpihak mengikuti metode nan jujur, info nan tidak dimanipulasi, dan konklusi nan ditarik tanpa tekanan. Itu artinya berani menyatakan bahwa sebuah kebijakan negara tidak berbasis bukti meski pejabat nan menandatanganinya adalah mantan muridnya sendiri.
Jabatan akademik pembimbing besar tidak memberi seseorang kewenangan untuk dihormati, tetapi memberinya tanggung jawab untuk tidak menyia-nyiakan kepercayaan nan diletakkan masyarakat di pundaknya.
Keberpihakan pada kemanusiaan adalah corak tertinggi dari objektivitas. Akademisi nan berani berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan justru memperkuat kredibilitas ilmu, lantaran dia menjadikan pengetahuan sebagai sarana untuk memperbaiki kehidupan, bukan sekadar untuk memahami dunia.
Kini, pada era ketika kepercayaan pada kampus tergerus dengan obsesi metrik peringkat, akreditasi, dan tuntutan lulus sigap bagi mahasiswa dan publikasi bagi dosen, pertanyaan kepada siapa pembimbing besar kudu berpihak bukan lagi pertanyaan retoris, tetapi pertanyaan tentang apakah universitas tetap layak ada.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·