Cuaca panas terik nan membakar Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan sekitarnya bikin banyak penduduk ngeluh. Di media sosial, netizen curhat mengaku kepanasan, sampai kudu menyalakan pendingin ruangan (AC) dan kipas angin secara bersamaan.
Sementara di wilayah lain, seperti Bogor, Depok, Bandung dan beberapa kota di Indonesia tetap diguyur hujan dengan intensitas cukup tinggi. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), probabilitas cuaca ini diakibatkan oleh sejumlah faktor, salah satunya lantaran musim tandus di Indonesia tetap belum merata.
Agita Vivi, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, cuaca panas nan terjadi di Jakarta dan kota lain di Indonesia disebabkan oleh pengaruh kekuasaan angin timuran dari Australia seiring menguatnya Monsun Australia nan membawa massa udara lebih kering ke wilayah Indonesia.
Kondisi udara lebih kering membikin pertumbuhan awan berkurang, sehingga tutupan awan lebih sedikit. Akibatnya, paparan sinar Matahari ke permukaan menjadi lebih intens. Selain itu, posisi semu Matahari nan berada di sekitar Khatulistiwa menandakan bahwa intensitas sinar Matahari sedang mencapai puncaknya di wilayah Indonesia.
Faktor lain adalah hadirnya kejadian El Nino, kelembapan udara tinggi membikin tubuh semakin sigap gerah, dan pengaruh indeks ultraviolet (UV) nan lebih tinggi membikin paparan sinar Matahari terasa lebih menyengat di kulit dan menambah sensasi panas.
Adapun penyebab Bogor dan Depok tetap hujan, ini lantaran dinamika atmosfer nan berbeda-beda tiap daerah. Agita menjelaskan, potensi hujan nan tetap terjadi di beberapa kota di Indonesia diakibatkan oleh aspek lokal, seperti kelempaban udara nan tetap cukup basah, pertemuan angin, hingga kondisi topografi pegunungan di sekitar Bogor nan turut mendukung pembentukan hujan.
Ini juga disebabkan lantaran musim tandus belum terjadi secara merata di wilayah Indonesia. Hal ini diperkuat dengan Analisis Perkembangan Musim Kemarau Dasarian II April 2026. Berdasarkan jumlah ZOM (Zona Musim), sebanyak 10.4% wilayah Indonesia (73 ZOM) telah mengalami musim kemarau.
Wilayah nan sudah mengalami musim tandus meliputi sebagian mini Aceh, sebagian mini Sumatera Utara, sebagian mini Riau, sebagian Kep. Riau, sebagian mini Banten, sebagian mini Jawa Barat, sebagian mini Jawa Tengah, sebagian mini Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagian mini Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, dan sebagian Maluku.
Secara umum, Indonesia bakal memasuki periode musim tandus pada bulan Juni - September 2026, dan mencapai puncaknya pada bulan Agustus - September 2026.
Suhu udara bakal menurun drastis pada Januari hingga Februari, saat musim hujan mencapai puncaknya. Hujan lebat dapat memberi pengaruh pendinginan pada udara di sekitar, ditambah berkurangnya paparan sinar Matahari ke permukaan Bumi lantaran tutupan awan tebal nan semakin banyak.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·