Banyak orang mengira hipertensi pada lansia hanyalah soal nomor tekanan darah. Selama tidak pusing alias tidak dirawat di rumah sakit, mereka dianggap baik-baik saja. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Di kembali kondisi nan terlihat “normal”, banyak lansia sebenarnya sedang berjuang dengan perubahan besar dalam hidupnya. Tubuh nan tidak lagi sekuat dulu, aktivitas nan mulai terbatas, hingga emosi kehilangan peran dalam family alias lingkungan sosial sering kali menjadi beban nan tidak terlihat.
Menurut Nora, dkk. (2023) dalam Jurnal Abdimas Saintika, hipertensi sendiri memang menjadi salah satu penyakit paling umum pada lansia. Seiring bertambahnya usia, elastisitas pembuluh darah menurun dan kerja jantung tidak lagi optimal. Hal ini membikin tekanan darah lebih mudah meningkat. Namun, nan sering luput dari perhatian adalah dampaknya terhadap kondisi psikologis.
Banyak lansia memilih untuk diam. Mereka tidak selalu mengeluhkan rasa cemas, stres, alias kesenyapan nan dirasakan. Bahkan, tidak sedikit nan berupaya terlihat “kuat” agar tidak merepotkan keluarga. Di sinilah akar masalahnya. Ketika kondisi psikologis terabaikan, tekanan darah justru bisa semakin susah dikontrol.
Stres dan kekhawatiran mempunyai hubungan erat dengan hipertensi. Ketika seseorang mengalami stres, tubuh bakal merespons dengan meningkatkan degub jantung dan tekanan darah. Jika kondisi ini berjalan terus-menerus, maka akibat komplikasi pun meningkat. Dalam jangka panjang, perihal ini dapat menurunkan kualitas hidup lansia secara signifikan.
Selain itu, kesenyapan juga menjadi aspek nan sering tidak disadari. Lansia nan jarang berinteraksi alias merasa kurang diperhatikan condong mengalami penurunan kesejahteraan emosional. Mereka mungkin terlihat baik-baik saja secara fisik, tetapi sebenarnya mengalami kelelahan mental.
Kualitas hidup lansia tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh keseimbangan emosional dan hubungan sosial. Dukungan family menjadi salah satu aspek krusial nan dapat membantu lansia merasa lebih tenang dan dihargai. Hal sederhana seperti membujuk berbicara, mendengarkan cerita, alias melibatkan mereka dalam aktivitas sehari-hari dapat memberikan akibat besar.
Dalam konteks pelayanan kesehatan, perawat mempunyai peran krusial untuk memandang kondisi lansia secara menyeluruh. Tidak hanya konsentrasi pada tekanan darah, tetapi juga memahami kondisi emosional pasien. Edukasi, support psikologis, serta pendekatan nan empatik dapat membantu lansia menghadapi penyakitnya dengan lebih baik.
Pada akhirnya, krusial untuk menyadari bahwa “terlihat baik-baik saja” tidak selalu berfaedah betul-betul baik. Lansia dengan hipertensi memerlukan perhatian nan lebih dari sekadar pengobatan. Mereka juga memerlukan rasa didengar, dipahami, dan dihargai.
Karena sering kali, nan paling tidak terlihat justru nan paling dirasakan.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·