ilustrasi(Antara)
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai PMI manufaktur Indonesia nan berada di level 50,0 pada Mei 2026 lebih tepat dibaca sebagai sinyal stabilisasi daripada pemulihan industri. Secara teknis, katanya, nomor 50 merupakan pemisah antara kontraksi dan ekspansi sehingga belum menunjukkan pertumbuhan nan kuat.
"Memang terdapat perbaikan dari April (49,1) dan hasil ini melampaui ekspektasi pasar, tetapi sejumlah komponen pembentuk indeks tetap menunjukkan aktivitas industri nan condong mendatar," ujar Yusuf kepada Media Indonesia, Rabu (3/6).
Seperti diberitakan, Data S&P Global menunjukkan PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2026 berada di level ekspansi, ialah 50,0, meningkat jika dibandingkan dengan April 2026 nan tercatat 49,1 nan merupakan area kontraksi.
Yusuf menyebut perbaikan PMI juga perlu dicermati lantaran sebagian didorong oleh memburuknya waktu pengiriman pemasok. Dalam metodologi PMI, jelasnya, keterlambatan pengiriman justru memberikan kontribusi positif terhadap indeks.
"Selama delapan bulan terakhir, waktu pengiriman terus memanjang akibat gangguan pengedaran dan keterbatasan bahan baku. Secara statistik perihal ini mendukung PMI, tetapi secara ekonomi mencerminkan tekanan pada rantai pasok," ujar Yusuf.
Sementara itu, lanjutnya, output manufaktur tetap terkontraksi selama tiga bulan berturut-turut akibat tingginya nilai bahan baku dan keterbatasan pasokan.
"Kenaikan pesanan baru juga belum sepenuhnya mencerminkan penguatan permintaan nan sehat lantaran sebagian berasal dari upaya pengguna menambah stok sebelum nilai naik alias pasokan semakin terbatas," ungkapnya.
Dari sisi eksternal, kata Yusuf, ekspor terus melemah selama tiga bulan berturut-turut dengan laju kontraksi terdalam sejak Agustus 2021. Kondisi ini membikin sektor manufaktur semakin berjuntai pada pasar domestik.
Yusuf mengatakan jika permintaan nan didorong penimbunan stok mulai mereda sementara ekspor belum pulih, PMI berisiko kembali turun ke bawah level 50.
Menurutnya, tekanan terbesar saat ini berasal dari biaya produksi. Inflasi biaya input pada Mei mencapai level tertinggi sejak survei PMI Indonesia dimulai pada 2013, terutama akibat kenaikan nilai bahan baku.
"Ketergantungan industri terhadap impor bahan baku dan peralatan antara membikin pelemahan rupiah semakin meningkatkan biaya produksi dan berpotensi menekan daya saing," ujarnya.
Di sisi ketenagakerjaan, perusahaan tetap mengurangi jumlah pekerja meskipun pesanan nan belum terselesaikan meningkat. Hal itu, katanya, menunjukkan pelaku upaya tetap berhati-hati dan belum percaya bahwa pemulihan permintaan bakal berjalan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, Yusuf menyebut tantangan utama manufaktur saat ini berada pada tingginya biaya produksi dan gangguan pasokan, bukan semata-mata lemahnya permintaan. Karena itu, katanya, kebijakan perlu difokuskan pada kelancaran logistik, kesiapan bahan baku, stabilitas nilai tukar, serta menjaga daya beli masyarakat.
"Dalam jangka menengah, penguatan industri hulu dan pengurangan ketergantungan pada impor bahan baku menjadi kunci untuk meningkatkan ketahanan manufaktur terhadap guncangan eksternal," pungkasnya. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·