Kemenperin: Ekspansi Industri Manufaktur Ditopang Permintaan Domestik

Sedang Trending 48 menit yang lalu
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief. Foto: Dok. Kemenperin

Sektor industri manufaktur Indonesia kembali memasuki area ekspansi pada awal kuartal III 2026. Berdasarkan rilis S&P Global, Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 berada di level 50,2, melonjak signifikan dari posisi 46,9 pada bulan Juni 2026.

Capaian ini menandai pemulihan operasional industri nasional nan ditopang oleh kembali meningkatnya volume produksi (output) untuk pertama kalinya sejak Februari 2026, stabilisasi pesanan baru, serta tumbuhnya kembali penyerapan tenaga kerja setelah empat bulan sebelumnya mengalami penurunan.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif menyatakan, kembalinya PMI Manufaktur ke area ekspansif mencerminkan menguatnya kepercayaan pelaku upaya dan resiliensi sektor industri di tengah dinamika biaya bahan baku dan ketidakpastian global.

"Kami menyambut baik kembalinya PMI Manufaktur Indonesia ke level ekspansif 50,2 pada Juli 2026. Kenaikan 3,3 poin dari bulan Juni ini mengonfirmasi bahwa roda produksi industri pengolahan kembali bergerak cepat. Peningkatan output dan tumbuhnya lapangan kerja baru memperlihatkan bahwa kepercayaan konsumen serta permintaan pasar domestik terus membaik," ujar Febri dalam keterangannya, Selasa (4/8).

Indikator PMI Manufaktur Indonesia Juli 2026 berada pada nomor 50,2, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya pada Juni 2026 ialah 46,9. Kenaikan ini ditopang oleh output produksi nan mengalami kenaikan kembali untuk pertama kalinya sejak Februari 2026.

Ilustrasi aktivitas perakitan mobil-mobil di Mazda Indonesia Plant Citeureup, Bogor, Jawa Barat. Foto: Mazda

Selain itu, permintaan baru juga turut menjadi penopang kenaikannya PMI Juli 2026, lantaran mengalami stabilisasi seiring menguatnya kepercayaan pengguna dan peluncuran proyek-proyek baru. Penyerapan tenaga kerja pun kembali meningkat (job growth) setelah 4 bulan berturut-turut mengalami penyesuaian.

Survei S&P Global juga memaparkan, tingkat kepercayaan alias optimisme pelaku upaya untuk 12 bulan ke depan melonjak ke level tertinggi dalam 6 bulan terakhir, diikuti laju kenaikan nilai bahan baku melambat ke titik terendah dalam 4 bulan.

Febri menjelaskan, tren pemulihan ini semakin diperkuat oleh dua kebijakan strategis pemerintah nan menjadi penopang utama kepastian suasana upaya dan efisiensi biaya produksi industri nasional. Pertama, kepastian kebijakan HGBT (Harga Gas Bumi Tertentu).

“Kebijakan ini memberikan akibat nan sangat positif bagi industri pengguna gas bumi. Kepastian pasokan dan nilai daya nan terjangkau sukses menjaga daya saing sektor industri manufaktur vital seperti pupuk, petrokimia, keramik, kaca, baja, sarung tangan karet, dan oleokimia. Hal ini tercermin langsung dari tingkat optimisme upaya pelaku upaya untuk 12 bulan ke depan nan melonjak ke posisi tertinggi dalam enam bulan terakhir (sejak Januari 2026),” katanya.

Yang kedua, berlakunya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Relaksasi Bea Masuk Bahan Baku Plastik. Kemenperin mengapresiasi langkah nan diambil oleh Menteri Keuangan dan menyambut baik atas diterbitkannya PMK mengenai relaksasi alias pembebasan bea masuk atas impor bahan baku plastik nan saat ini telah resmi ditandatangani dan bertindak efektif.

Kebijakan ini menjadi angin segar nan sangat dinantikan oleh industri kemasan, makanan-minuman, otomotif, hingga elektronika. Relaksasi bea masuk ini secara langsung menekan beban inflasi biaya input nan selama beberapa bulan terakhir sempat membengkak akibat gejolak mata duit dan pasokan global.

"Kombinasi antara kepastian HGBT dan berlakunya PMK relaksasi bea masuk bahan baku plastik merupakan bukti nyata kehadiran pemerintah dalam menjaga struktur biaya industri tetap efisien. Langkah konkrit ini terbukti langsung meredam tekanan biaya input (input cost inflation) nan melambat ke level terendah dalam 4 bulan terakhir, sekaligus memacu optimisme pelaku industri," tegas Febri.

Meskipun parameter makro manufaktur menunjukkan pemulihan nan solid, Kemenperin mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk tetap waspada terhadap dinamika rantai pasok dunia dan perubahan nilai tukar. Kemenperin berkomitmen untuk terus mengawal kesiapan bahan baku, keterjangkauan energi, serta perlindungan pasar dalam negeri agar tren pemulihan ekspansif ini dapat terus dipertahankan dan meningkat pada bulan pada semester kedua tahun 2026.

Capaian PMI Indonesia nan kembali masuk ke area ekspansi menempatkan Indonesia sejajar dengan kebanyakan negara di area nan juga berada pada fase pertumbuhan manufaktur. Pada Juli 2026, Indonesia mencatat PMI sebesar 50,2, lebih tinggi dibandingkan Myanmar nan berada di level 49,3, Malaysia di level 50,2, Filipina sebesar 51,8, serta Vietnam tercatat 52,9. Selain itu, nomor PMI Manufaktur Indonesia juga melampaui negara lainnya seperti RRT nan tercatat 50,9 dan Australia tercatat sebesar 52.0.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan