Rohman Wibowo
, Jurnalis-Jum'at, 09 Oktober 2026 |16:38 WIB

Menkeu Suahasil (Foto: Okezone)
JAKARTA - Kementerian Keuangan membeberkan strategi penutupan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui penguatan emisi Surat Berharga Negara (SBN) pada kuartal IV-2026.
Penarikan pembiayaan utang tersebut dirancang untuk mengamankan kebutuhan kas negara seiring proyeksi defisit fiskal nan diperkirakan berada di level 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pemerintah menegaskan pengelolaan pembiayaan utang diarahkan secara hati-hati dan terukur untuk menjaga stabilitas fiskal di tengah dinamika pasar finansial global. Langkah pemenuhan celah defisit ini disusun dengan memprioritaskan publikasi surat berbobot di pasar domestik sesuai dengan sasaran proyeksi anggaran tahun berjalan.
"Strategi pembiayaan utang kita adalah untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN dengan skenario defisit 2,85 persen sebagaimana outlook APBN," ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto dalam konvensi pers mengenai APBN di instansi Kemenkeu, Jumat (9/10/2026).
Secara historis, instrumen SBN merupakan tulang punggung utama pemerintah dalam menutup defisit APBN, dengan kontribusi rata-rata mencapai 85 hingga 90 persen dari total pembiayaan utang setiap tahunnya.
Berdasarkan catatan Kemenkeu, porsi dominan SBN pasar domestik dinilai efektif menekan akibat volatilitas nilai tukar, mengingat pedoman penanammodal dalam negeri nan kian bertumbuh dibandingkan ketergantungan pada pinjaman luar negeri konvensional.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·