Kemarau Panjang di Depok: Warga Sulit Air, Rela Minta ke Tetangga-Beli Galon

Sedang Trending 49 menit yang lalu
Ilustrasi kemarau. Foto: Neenawat Khenyothaa/Shutterstock

Musim tandus kembali membikin sejumlah penduduk kesulitan air bersih di wilayah Kelurahan Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, tepatnya di RT 002/RW 004. Sejumlah sumur milik penduduk mengering dan debit air hanya menetes mini di jam-jam tertentu.

Kondisi ini memaksa penduduk kudu memutar akal. Ada nan mandi ke rumah saudara, ada juga nan terpaksa beli air galon hingga belasan jeriken dalam sebulan.

Salah satu penduduk terdampak, Hayati (46), mengaku sudah sebulan terakhir sumur di rumahnya tidak bisa diandalkan.

"Sumurnya lagi sedang mengering, nggak ada. Apalagi jika jam-jam segini, kita nggak punya air. Apa kudu diganti mesinnya apa gimana ya kita nggak tahu," ujar Hayati, Rabu (29/7).

Menurutnya, masalah ini hanya muncul saat kemarau. Begitu hujan turun, air kembali normal.

"Pokoknya mungkin emang lagi tandus aja. Tapi jika musim hujan mah nggak. Berarti ini kondisinya udah sebulan ini," katanya.

Karena tidak ada air, Hayati mengaku dirinya terpaksa meminta tolong ke tetangga.

"Ya (untuk dapat air) saya ke mana aja saya minta air. Ke rumah kakak saya, saya mandi ke sana gitu," ujarnya.

Ia menyebut tidak hanya keluarganya nan terdampak. Di lingkungannya, ada lebih dari 10 rumah nan sumurnya mengalami kekeringan.

"Ya mungkin sekitar 10 lebih rumah mah ada jika emang sumur gitu ya. Kalau nan sumur itu kebanyakan ya udah kering," jelas Hayati.

Hayati bercerita, penduduk nan memakai jet pump tetap kondusif lantaran daya dorongnya lebih kuat. Sementara penduduk dengan sumur gali alami kudu pasrah.

"Kalau nan punya jet pump itu kan dia aman. Karena dia mantek, mesinnya mungkin juga bagus. Kalau kita kan sumur, alami. Ya gini kondisinya jika sedang kemarau, kita kekurangan air," katanya.

Untuk bertahan, penduduk hanya mengandalkan 1-2 bak air per hari.

"Paling sebak dua bak paling buat buang air kecil. Cuci-cuci muka, cuci tangan gitu. Paling tambahannya beli air itu," ujarnya.

Di rumah Hayati tinggal 6 orang. Namun, satu sumur itu dipakai bergantian oleh 10 orang lantaran dipakai juga oleh tetangga di rumah sebelahnya.

Senada, Reza (54) juga mengalami perihal serupa. Air di rumahnya tidak keluar normal selama sebulan terakhir.

"Air gak keluar. Saya kan bingung ya, biasa pagi buat ini. Terus saya manggil orang, dicek. Katanya tukar klep. Pas tukar klep, udah. Lho kok besok mancing lagi?," ujar Ibu Reza.

Setelah klep itu diganti, Reza menyebut, masalah tak kunjung selesai. Saat meminta garansi, teknisi menyebut daya sorong air memang tidak kuat naik.

"'Mas, minta agunan ini gimana?'. Dicek, emang gak bisa. Air gak kuat, naik gitu katanya begitu," katanya.

Putus asa, dia akhirnya membeli mesin air baru dengan nilai nan tak murah. Namun, menurutnya, hasil nan didapat tetap mengecewakan.

"Pas beli baru, langsung air keluar, naik. Dari bawah gitu kan. Tapi ya gitu, tetep mini airnya. Gak kering, tapi airnya ngericik dikit. Surut, bener-bener surut," jelasnya.

Padahal, mesin baru itu baru berumur sebulan. Sementara kondisi air surut sudah terjadi berbulan-bulan setiap tidak hujan.

Karena tidak ada pilihan, Reza memilih membeli air galon. Ia memperkirakan sudah menghabiskan sekitar 15 galon selama sebulan.

"Saya sampe beli ini, lantaran saya kan mancing, jika ada anak saya, nan laki. Kalau gak ada, saya gak bisa mancing, jadi beli air galon aja. Galon ada sekitar 15 galon kali ya," katanya.

Dulu Ambil Air di Empang, Sekarang Takut Terulang

Kondisi ini mengingatkan Reza pada masa lampau saat tandus panjang. Waktu itu penduduk kudu mengambil air dari empang secara bergiliran.

Hayati juga punya cerita serupa. Beberapa tahun lampau penduduk sampai membikin sumur bor di bawah pohon bambu, namun nan keluar hanya lumpur.

"Iya, pernah kan kita juga ngalamin kayak gini sampe bikin sumur di bawah. Di pohon bambu gitu. Bener-bener kita nggak dapet, nan keluar lumpur doang," kenangnya.

Kini keduanya hanya bisa berambisi hujan segera turun.

"Udah mudah-mudahan aja ya hujan, soalnya sumur kita tergantung," pungkas Reza.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan