Keluarga mengenang Ahmad Zaki Ali (42) alias Bang Jek, relawan asal Jakarta nan meninggal saat membantu penanganan gempa di NTT, sebagai sosok nan mempunyai kepedulian tinggi terhadap persoalan kemanusiaan sejak usia muda.
Kebiasaan membantu orang lain itu kemudian membawanya terjun menjadi relawan hingga mendirikan Yayasan Gerak Bareng.
Kakak kandung Bang Jek, Wilda Farah alias Fera, mengatakan kepedulian terhadap sesama sebenarnya telah terlihat sejak Bang Jek tetap kecil.
Menurutnya, Bang Jek juga dikenal sebagai sosok pemberani dan mempunyai jiwa kepemimpinan sejak duduk di bangku sekolah.
“Jadi nan paling berani selalu jadi leader dari SD, SMP apalagi dia juga ketua OSIS, SMA dia salah satu ketua organisasi di ekstrakulikuler gitu, jadi Zaki itu dari mini itu emang terlihat gitu jika dia beda gitu, dia beda dia nge-lead,” kata Fera saat ditemui di instansi Gerak Bareng, Jakarta, Minggu (23/8).
Pertama Kali Jadi Relawan di Tsunami Aceh
Fera mengatakan, perjalanan Bang Jek sebagai relawan dimulai ketika musibah tsunami melanda Aceh pada 2004. Saat itu, Bang Jek nan baru berumur sekitar 19 tahun terjun sebagai volunteer melalui salah satu NGO di Indonesia.
“Sependek pengetahuan saya itu, Zaki itu pertama kali tergerak itu menjadi volunteer di salah satu NGO nan besar di Indonesia dan diterbangkan ke Aceh, tsunami tahun 2004,” ceritanya.
Menurut Fera, pengalaman tersebut menjadi titik krusial nan membikin Bang Jek semakin dekat dengan bumi kerelawanan. Saat berada di Aceh, Bang Jek bekerja mendokumentasikan akibat bencana, termasuk kondisi para korban.
“Tapi panggilan untuk jadi volunteer itu lebih besar, sehingga sekolahnya gak running well,” sambungnya.
Tumbuh dari Keluarga nan Aktif di Bidang Sosial
Kepedulian Bang Jek terhadap aktivitas kemanusiaan juga tidak terlepas dari lingkungan keluarganya. Fera mengatakan, kedua orang tua mereka telah lebih dulu menjalankan aktivitas sosial dan pendidikan.
Orang tua Bang Jek mempunyai yayasan nan bergerak di bagian sosial-keagamaan. Sejak kecil, anak-anak mereka juga dibiasakan membantu orang lain nan membutuhkan.
Fera mengatakan, kebiasaan tersebut ditanamkan orang tua melalui beragam kegiatan, termasuk penggalangan support bagi korban bencana.
“Jadi dari ayah sama ibu itu sudah ke situ dan program di dalam nan sudah dirintis oleh orang tua kami itu salah satunya program nan berbeda misalnya fundraising untuk korban, jadi itu sudah sering dilakukan sejak kami mini gitu,” ungkapnya.
Menurut Fera, dari enam bersaudara, Bang Jek merupakan anak nan paling banyak mengikuti jejak tersebut dalam perihal kepekaan sosial dan kontribusi kepada masyarakat.
Hampir Setiap Bulan Turun Bantu Bencana
Setelah bertahun-tahun menjadi relawan hingga mendirikan Gerak Bareng, Bang Jek dikenal nyaris selalu turun langsung ketika terjadi bencana. Mobilitasnya membikin family terbiasa menerima berita bahwa Bang Jek sedang berada di beragam daerah.
Ketika ditanya apakah dalam setiap minggu Bang Jek selalu mempunyai aktivitas di luar kota, Fera mengiyakan perihal itu.
“Iya, always,” katanya.
“Minimum jika pun Jawa, kita pokoknya indikatornya liatnya mobilnya aja, jadi jika dia liat, oh Hilux-nya enggak ada, udah. Itu pasti Zaki going anywhere gitu,” lanjutnya.
Dua Bulan Sebelum Wafat, Mulai Siapkan Transisi
Di kembali rutinitas tersebut, dua bulan terakhir sebelum Bang Jek meninggal menjadi periode berbeda bagi Gerak Bareng. Bang Jek mulai menyiapkan proses transisi kepemimpinan agar organisasi nan didirikannya tidak lagi berjuntai pada dirinya.
Fera mengatakan Bang Jek telah menyerahkan pengelolaan Gerak Bareng kepada manajemen nan lebih mapan. Salah satu orang nan dipercaya melanjutkan kepemimpinan tersebut adalah Rizky.
“Nah Bang Jek sebenarnya ini seperti salah satu pertanda, di dua bulan terakhir itu dia tetap kondusif gitu, kayak wasiat ke Rizky, saya kasih Gerak Bareng, Anda tolong urus gitu,” ujarnya.
Meski tengah mempersiapkan transisi tersebut, Bang Jek tetap berangkat ke Nusa Tenggara Timur (NTT) ketika gempa 7,7 magnitudo terjadi.
Namun sayang, setelah aktivitas intens nan melelahkan, Bang Jek kemudian meninggal saat menjalankan tugas kemanusiaan di NTT pada Jumat (21/8).
Jenazahnya dipulangkan ke Jakarta dan dimakamkan di TPU Sukabumi Selatan, Jakarta Barat, pada Sabtu (22/8) malam.
18 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·