Jakarta, CNN Indonesia --
Sebanyak 13 pelajar sekolah menengah atas diajak memandang langsung praktik pengelolaan lingkungan, transisi energi, ekonomi sirkular hingga konservasi keanekaragaman hayati dalam rangkaian program Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda (KELANA) Edisi 3 berjudul "Java Overtrip".
Program edukasi lingkungan berbasis pengalaman langsung (experiential learning) nan diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) itu bersambung di Yogyakarta pada Minggu (9/8).
Tak sekadar mengikuti seminar alias menerima materi di ruang kelas, para peserta diajak mengunjungi sejumlah letak untuk memandang gimana persoalan lingkungan ditangani melalui kerjasama antara industri, pemerintah, lembaga pemasyarakatan, masyarakat, dan organisasi lingkungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Kelompok Kerja Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Biro Humas KLH/BPLH, Romi Setiawan, mengatakan konsep KELANA memang dirancang agar peserta memperoleh pengalaman langsung dari objek pembelajaran.
Menurutnya, sesuai pengarahan Menteri Lingkungan Hidup, program KELANA dirancang untuk menjadi program belajar nan tidak hanya bernuansa seminar, tetapi juga mau mendekatkan langsung para peserta dengan objek pembelajarannya.
"Para peserta KELANA ini diharapkan bisa mendesiminasikan pengetahuan pembelajaran nan sudah mereka dapatkan ke lingkungan sekitar," ujar Romi.
Dalam lawatannya, 13 pelajar sekolah menengah atas ini mengeksplorasi sinergi lintas sektor antara industri strategis, lembaga pemasyarakatan, pemerintah tingkat kalurahan, hingga lembaga swadaya masyarakat dalam merespons tantangan krisis ekologi perkotaan dan regional.
Praktik Pengelolaan Lingkungan Terpadu
Perjalanan peserta dimulai di PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu. Di akomodasi pengedaran bahan bakar minyak (BBM) tersebut, mereka mempelajari gimana aspek keandalan pengedaran daya melangkah beriringan dengan pengelolaan lingkungan.
Peserta tak hanya memandang proses operasional akomodasi energi, tetapi juga diperkenalkan dengan upaya konservasi keanekaragaman hayati di area industri.
Fuel Terminal Rewulu mengembangkan area konservasi, termasuk penangkaran Rusa Jawa dan peternakan ayam petelur dengan pengelolaan limbah nan terintegrasi.
Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufik Kurniawan, mengatakan kehadiran anak muda dalam program tersebut krusial untuk memperluas pesan mengenai pengelolaan lingkungan.
"Mereka anak muda nan mempunyai jiwa endorser nan bisa menularkan kebaikan kepada lingkungan sekitarnya. Harapan kami mereka bisa sharing ke sekitar bahwa Pertamina sudah pengedaran daya dengan maksimal, dan beberapa effort kita nan mengenai dengan pengelolaan lingkungan nan inovatif dan terus bergerak menyesuaikan kebutuhan," ungkap Taufik.
Peserta kemudian memandang akomodasi TPS3R internal perusahaan nan menerapkan konsep ekonomi sirkular. Di sini, para peserta mengawasi langsung pengelolaan limbah berdikari nan inovatif, seperti:
1. Komposting: Pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos berbobot untuk menyuburkan area hijau kawasan.
2. Pencacahan Sampah Plastik: Reduksi material plastik secara mekanis guna mempermudah proses daur ulang lanjutan.
3. Pemanfaatan Besthing (Bio-Energy for Storage Tank Lighting): Inovasi pengolahan sampah residu non-organik untuk diubah menjadi sumber daya pengganti nan dimanfaatkan sebagai pencahayaan di area TPS3R.
4. Budidaya Maggot (Black Soldier Fly): Pemanfaatan larva lalat tentara hitam untuk mengurai sampah organik secara biologis sekaligus menghasilkan produk bernutrisi tinggi untuk pakan ternak.
5. Kolam Bioflok: Integrasi pemanfaatan tampungan air hujan nan dikelola untuk budidaya ikan lele dengan pasokan pakan bernutrisi tinggi dari hasil budidaya maggot setempat.
Melalui keseluruhan rangkaian praktik di Fuel Terminal Rewulu ini, peserta mendapatkan pemahaman mendalam bahwa akomodasi industri modern bisa mereduksi beban lingkungan secara signifikan sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi.
Sampah Plastik Diolag Jadi Furnitur
Dari Fuel Terminal Rewulu, rombongan KELANA melanjutkan perjalanan ke Rutan Kelas IIB Bantul. Di letak tersebut, peserta memandang kerjasama antara Fuel Terminal Rewulu dan Rutan Kelas IIB Bantul melalui program ecofurniture, ialah limbah plastik diolah menjadi beragam produk furnitur nan mempunyai nilai kegunaan dan ekonomi.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari pembinaan keahlian bagi penduduk binaan. Kepala Rutan Kelas IIB Bantul, Muhammad Syukron Ansori, mengatakan pengolahan limbah menjadi produk berbobot guna memberikan faedah ganda.
"Ini adalah bentuk nyata kepedulian berbareng dalam mengolah limbah plastik menjadi peralatan berbobot guna tinggi, dari sampah menjadi rupiah sekaligus mendorong proses pembinaan kemandirian di Rutan Kelas IIB Bantul," ujar Ansori.
Inisiatif ini membuktikan bahwa rehabilitasi sosial dan pelestarian lingkungan dapat melangkah beriringan, di mana penduduk bimbingan diberdayakan untuk berkarya secara produktif sekaligus menjadi motor penggerak kebersihan lingkungan.
Wujudkan Green Job Lewat TPS3R Gosari
Pembelajaran kemudian bersambung di TPS3R Gosari, akomodasi pengolahan sampah hasil kerjasama Fuel Terminal Rewulu dengan Kalurahan Guwosari.
Fasilitas tersebut menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat di tingkat kalurahan. Selain mengurangi persoalan sampah lokal, aktivitas pengolahan juga membuka kesempatan kerja hijau alias green job bagi masyarakat.
Peserta KELANA dari MAN 4 Jakarta, Amer Alif Algifahri, menilai pengalaman tersebut memberinya gambaran mengenai pentingnya kerjasama dalam pengelolaan sampah.
"Saya belajar banyak disini, terutama dalam memanfaatkan sampah menjadi berbobot tinggi dan bisa menyerap tenaga kerja hijau. Ini tentu kerjasama nan baik antara Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu, TPS3R Gosari, dan Rutan Kelas IIB Bantul," tutur Amer.
Dialog Kritis dan Konstruktif soal Krisis Ekologi
Hari pertama KELANA di Yogyakarta ditutup dengan perbincangan berbareng Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Eksekutif Daerah Yogyakarta.
Dalam obrolan tersebut, peserta diajak membahas persoalan ekologi nan dihadapi Yogyakarta, mulai dari area pesisir hingga wilayah perkotaan.
Tak hanya memahami persoalan lingkungan, para peserta juga didorong membangun keahlian berpikir kritis terhadap kebijakan dan kondisi ekologis di sekitarnya.
Kritik terhadap persoalan lingkungan merupakan bagian krusial dari kontrol sosial. Namun, kritik tersebut perlu dibangun berasas info nan valid, argumen objektif, serta disertai pendapat dan solusi nan konstruktif.
Melalui rangkaian KELANA, KLH/BPLH berambisi peserta tidak berakhir pada pemahaman teknis mengenai pengelolaan lingkungan. Mereka juga diharapkan tumbuh sebagai generasi muda nan kritis, berintegritas, dan bisa menyuarakan rumor lingkungan berasas info serta mendorong tindakan nyata di masyarakat.
(ory/ory)
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·