Foto: Firstwish Bakery
JAKARTA - Kekhawatiran terhadap konsumsi gula berlebih, khususnya pada anak, semakin menjadi perhatian di kalangan masyarakat perkotaan. Pola makan tinggi gula kerap dikaitkan dengan beragam akibat kesehatan seperti obesitas hingga gangguan metabolik, sehingga mendorong orang tua untuk lebih selektif dalam memilih asupan harian keluarga.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi gula tambahan nan berlebihan pada anak dapat meningkatkan akibat kelebihan berat badan dan masalah kesehatan jangka panjang.
World Health Organization merekomendasikan agar asupan gula tambahan dibatasi kurang dari 10 persen dari total daya harian, apalagi idealnya di bawah 5 persen untuk faedah kesehatan tambahan.
Sementara itu, studi nan dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open menemukan adanya hubungan antara konsumsi gula tinggi dengan peningkatan akibat penyakit kardiometabolik pada usia muda.
Seiring meningkatnya kesadaran tersebut, produk makanan dengan kandungan gula nan lebih terkontrol mulai banyak diminati. Roti sebagai salah satu makanan nan umum dikonsumsi sehari-hari pun mengalami penyesuaian, baik dari sisi bahan baku maupun komposisi pemanis.
Penggunaan pemanis pengganti seperti Stevia menjadi salah satu pendekatan nan digunakan untuk mengurangi ketergantungan pada gula pasir, tanpa sepenuhnya menghilangkan rasa manis.
Penelitian lain menunjukkan bahwa stevia, nan berasal dari ekstrak daun tanaman Stevia rebaudiana, tidak mengandung kalori dan mempunyai indeks glikemik nol, sehingga tidak memicu lonjakan gula darah seperti gula biasa.
Beberapa studi juga menyebut bahwa penggunaan stevia dalam jumlah wajar dinilai kondusif oleh badan pengawas pangan internasional, meskipun konsumsi tetap perlu diperhatikan sesuai pemisah harian nan direkomendasikan.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·