AI Jadi Andalan Baru Cari Nasihat Keuangan, tapi Masih Kurang Dipercaya

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi artificial intelligence. Foto: Shutterstock

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai digunakan masyarakat Amerika Serikat untuk mencari pedoman mengenai keuangan. Namun, teknologi ini tetap belum menjadi sumber nasihat finansial nan paling dipercaya.

Mengutip AFP, Survei Gallup nan dilakukan berbareng perusahaan jasa finansial Edward Jones menemukan sekitar 1 dari 5 penduduk AS nan mencari nasihat finansial dalam setahun terakhir menggunakan AI.

Meski begitu, tingkat kepercayaan terhadap keahlian AI dalam mengelola finansial tetap rendah. Secara keseluruhan, hanya sekitar 3 dari 10 orang dewasa AS nan mempunyai banyak alias sebagian kepercayaan terhadap skill AI dalam mengelola uang. Bahkan, hanya 3 persen nan menyatakan mempunyai kepercayaan besar terhadap AI.

Survei nan dilakukan pada musim semi 2026 terhadap penduduk AS berumur minimal 21 tahun itu juga menunjukkan adanya perbedaan antara sumber nasihat finansial nan dipercaya dan nan betul-betul digunakan.

Sekitar 8 dari 10 orang dewasa AS setidaknya mempunyai sebagian kepercayaan terhadap penasihat keuangan. Namun, hanya sekitar sepertiga responden nan mencari nasihat finansial dalam setahun terakhir menggunakan jasa penasihat finansial profesional.

Sebaliknya, sebanyak 73 persen responden mengatakan mereka mengandalkan riset sendiri di internet untuk mendapatkan info keuangan.

Ilustrasi Talenta Digital di bagian Artificial Intelligence (AI). Foto: Abid Raihan/kumparan

Associate Professor MIT Sloan School of Management Taha Choukhmane mengatakan masyarakat perlu berhati-hati dalam menggunakan AI sebagai sumber nasihat keuangan.

Menurut dia, AI dapat dimanfaatkan sebagai perangkat untuk memulai proses belajar. Informasi nan diperoleh kemudian dapat dibandingkan dengan sumber lain nan tepercaya.

“Saya mendorong orang untuk menggunakan AI untuk menjelaskan dan mendefinisikan,” kata Choukhmane.

Dia mencontohkan masyarakat dapat menggunakan AI untuk memahami konsep seperti pasar saham, reksa dana, hingga biaya indeks.

“Menggunakan AI untuk menjelaskan konsep-konsep ini bisa sangat berfaedah lantaran dapat memberdayakan orang untuk mendapatkan faedah maksimal dari metode-metode tersebut,” ujarnya.

Anak Muda Lebih Banyak Gunakan AI

Biaya menjadi salah satu aspek nan membikin masyarakat usia muda lebih memilih AI dibandingkan penasihat finansial profesional.

Riset melalui internet, bertanya kepada family dan teman, serta menggunakan AI dapat dilakukan dengan biaya nan relatif minim. Sementara itu, menggunakan jasa penasihat ahli memerlukan komitmen finansial nan lebih besar.

Survei menunjukkan sekitar seperempat Gen Z dan milenial nan mencari nasihat finansial dalam setahun terakhir menggunakan AI. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Gen X sebesar 16 persen dan baby boomer nan hanya 7 persen.

Namun, penggunaan jasa penasihat finansial ahli justru lebih banyak dilakukan oleh generasi nan lebih tua.

Hanya 14 persen Gen Z dan 21 persen milenial nan mencari pedoman finansial menggunakan jasa penasihat profesional. Persentasenya meningkat menjadi 34 persen pada Gen X dan 55 persen pada baby boomer.

Ilustrasi duit dolar Singapura Foto: AFP/Roslan Rahman

Choukhmane menjelaskan respons AI dapat berbeda tergantung pada pertanyaan nan diberikan pengguna. Karena itu, AI lebih cocok digunakan untuk membantu memahami istilah alias konsep finansial nan kompleks.

Dia juga menyarankan pengguna meminta AI mencantumkan referensi dari sumber tepercaya agar info nan diberikan dapat diverifikasi.

Meski dapat membantu proses riset, sejumlah master finansial tetap mempertanyakan tanggung jawab norma AI dalam memberikan nasihat keuangan.

Perencana finansial bersertifikat mempunyai tanggung jawab norma untuk memberikan rekomendasi nan sesuai dengan kondisi klien. Sementara itu, AI tidak mempunyai tanggungjawab tersebut.

Perencana finansial bersertifikat sekaligus pendiri Financial Wellness Strategies Bobbi Rebell menekankan keputusan akhir tetap berada di tangan pengguna.

“Tanggung jawab fidusia itu betul-betul ada. Tidak ada AI nan merupakan fidusia. AI tidak betul-betul mengetahui kehidupan Anda; AI tidak menanyakan semua pertanyaan kepada Anda,” kata Rebell.

Survei Gallup tersebut melibatkan 5.075 orang dewasa AS berumur minimal 21 tahun. Pengumpulan info dilakukan pada 20 Maret hingga 6 April 2026 menggunakan sampel dari panel berbasis probabilitas Gallup nan dirancang untuk mewakili populasi AS.

Margin kesalahan pengambilan sampel untuk keseluruhan responden dewasa AS sebesar plus alias minus 1,8 poin persentase.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan