Kekerasan Pemukim Israel di Tepi Barat: Masjid Dibakar, Warga Terusir

Sedang Trending 10 jam yang lalu
 Masjid Dibakar, Warga Terusir Anak Tepi Barat, Palestina.(Al Jazeera)

SITUASI di Tepi Barat, Palestina, nan diduduki semakin mencekam seiring meningkatnya serangan sistematis oleh pemukim terlarangan Israel. Dalam kejadian terbaru, tempat ibadah umat Islam menjadi sasaran utama pembakaran, menakut-nakuti nyawa penduduk sipil nan sedang beribadah.

Yasser Saqer Rashid, seorang penduduk Palestina-Amerika berumur 92 tahun, nyaris menjadi korban saat sedang membaca Al-Quran di Masjid al-Marah, Deir Dibwan. Ia mengisahkan gimana seorang pemukim menyiramkan unsur cair mudah terbakar ke jendela masjid.

"Dia mau membakar saya hidup-hidup," ujar Rashid kepada media. Rekaman pengawas menunjukkan para pemukim bermasker merusak ruangan dalam masjid sebelum membakar enam kendaraan milik penduduk setempat.

Pola Serangan nan Terkoordinasi

Serangan terhadap Masjid al-Marah bukan kejadian tunggal. Di kota tetangga, Burqa, Masjid al-Noor juga menjadi sasaran pembakaran serupa. Data dari Komisi Perlawanan Tembok dan Kolonisasi menunjukkan pola nan mengkhawatirkan:

  • Mei 2026: Tercatat 22 serangan terpisah terhadap situs religi Muslim.
  • Wilayah Terdampak: Hebron (14 serangan), diikuti Nablus, Jenin, Jericho, dan Ramallah.
  • Total Kekerasan: Sepanjang Mei 2026, terdapat 1.659 serangan oleh pasukan dan pemukim Israel, dengan 551 di antaranya dilakukan murni oleh pemukim.

Baca juga : Pemukim Israel Bakar Kendaraan dan Masjid di Tepi Barat

Catatan Krisis: Sejak dimulainya perang di Gaza, jumlah pemukim di Tepi Barat dan Jerusalem Timur telah melonjak dari 250.000 pada era 1990-an menjadi lebih dari 750.000 jiwa saat ini.

Dampak Kemanusiaan: Dari Rumah Menjadi Penjara

Kekerasan itu tidak hanya menyasar bangunan, tetapi juga menghancurkan kehidupan family Palestina. Sadeq Faqih, seorang pedagang di Beit Imrin, terpaksa mengubah rumah impiannya menjadi penjara dengan kawat berduri dan pelindung jendela besi setelah serangan pemukim pada April 2026.

Tragedi lebih dalam dialami istri Faqih, Abeer. Saat serangan terjadi, dia nan tengah mengandung tua terjatuh lantaran panik. Hal ini memicu kelahiran prematur bayi mereka, Saleh, nan sekarang kudu berjuang hidup di unit perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Ramallah akibat komplikasi paru-paru.

Baca juga: PBB Kekerasan Pemukim Israel di Tepi Barat Capai Rekor Tertinggi

Impunitas dan Kebijakan Negara

Meskipun bukti video sering kali tersedia, otoritas Israel jarang menghukum pemukim nan melakukan kejahatan terhadap penduduk Palestina. Amnesty International menyatakan bahwa pengusiran penduduk Palestina di Tepi Barat merupakan bagian dari strategi pemerintah Israel untuk pembersihan etnis, bukan sekadar tindakan oknum pemukim radikal.

Hingga saat ini, PBB mencatat lebih dari 117 desa dan organisasi di Tepi Barat telah mengalami pengungsian total maupun sebagian akibat teror pemukim. Di tengah eskalasi ini, para menteri sayap kanan Israel secara terbuka terus mendukung ekspansi pemukiman ilegal, nan dianggap sebagai halangan terbesar bagi solusi dua negara. (Al Jazeera/I-2)

Baca juga: Petani Tepi Barat Kecam Perusakan Infrastruktur Air oleh Militer Israel

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia