Kekerasan pada Perempuan dan Anak Meningkat, Benarkah Ini Pertanda Kegagalan?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi Gunung Es (Sumber foto: dibuat menggunakan Gemini AI untuk kebutuhan visualisasi, bukan kejadian nyata)

Meningkatnya nomor kekerasan terhadap wanita dan anak sering kali dibaca secara sederhana: sebagai tanda kegagalan. Narasi ini memang mudah diterima, tetapi sayangnya tidak sepenuhnya tepat. Bahkan, dalam konteks tertentu, langkah pandang tersebut justru berpotensi menyesatkan.

Cara pandang nan terlalu tergesa justru berisiko menutup satu kebenaran penting: meningkatnya nomor tidak selalu berfaedah meningkatnya kejadian. Bisa jadi, nan sedang kita saksikan hari ini adalah sesuatu nan jauh lebih fundamental—yakni keberanian nan akhirnya menemukan jalannya.

Kita perlu membedakan antara meningkatnya kejadian dan meningkatnya pelaporan. Dua perihal ini tidak selalu melangkah beriringan. Lonjakan nomor nan tercatat hari ini bisa jadi bukan lantaran kekerasan semakin masif, melainkan lantaran korban sekarang semakin berani untuk bersuara.

Selama bertahun-tahun, kekerasan terhadap wanita dan anak seumpama kejadian gunung es. nan terlihat di permukaan hanyalah sebagian mini dari realita nan sesungguhnya. Di bawahnya, tersimpan begitu banyak kasus nan tak pernah tercatat—terkunci oleh rasa malu, takut, ketergantungan ekonomi, stigma sosial, hingga minimnya akses terhadap layanan.

Selama ini, kekerasan terhadap wanita dan anak adalah realitas nan lama bersembunyi. Ia tidak hilang, hanya tidak terlihat. nan tampak hanya segelintir, sementara sisanya tenggelam dalam diam.

Hari ini, perlahan “es” itu mulai mencair.

Kesadaran masyarakat meningkat. Korban mulai memahami bahwa mereka mempunyai kewenangan untuk dilindungi. Lebih dari itu, mereka mulai tahu ke mana kudu melapor, dan nan terpenting, kepercayaan terhadap sistem mulai tumbuh. Orang tidak lagi sekadar tahu bahwa kekerasan itu salah, tetapi juga tahu ke mana kudu melapor—dan percaya bahwa laporan mereka tidak bakal diabaikan.

Ini bukan perubahan kecil. Ini adalah pergeseran budaya.

Perubahan ini tidak terjadi secara alami, melainkan hasil dari kerja panjang beragam pihak. Pemerintah memperbaiki layanan, menghadirkan sistem pengaduan nan lebih mudah diakses, serta memperkuat pendampingan norma dan psikologis. Aparat penegak norma mulai menunjukkan respons nan lebih sensitif terhadap korban. Di sisi lain, masyarakat sipil, akademisi, dan media turut mengangkat rumor ini secara lebih terbuka.

Yang tidak kalah penting, penguatan tersebut sekarang tidak lagi melangkah sendiri-sendiri. Jejaring kerja sama lintas sektor semakin solid. Pendekatan pentahelix—yang melibatkan pemerintah, akademisi, bumi usaha, komunitas, dan media—mulai menunjukkan akibat nyata. Kolaborasi ini menciptakan ekosistem nan lebih responsif, sekaligus memperluas jangkauan perlindungan.

Di titik inilah kita perlu menegaskan satu perihal penting: jangan sampai kita sibuk di hilir, tetapi lalai di hulu.

Pencegahan adalah hulu—di sanalah nilai ditanamkan, kesadaran dibangun, dan potensi kekerasan dicegah sejak awal.

Sementara penanganan adalah hilir—tempat negara dan seluruh komponen datang memastikan korban dipulihkan, dilindungi, dan mendapatkan keadilan.

Tanpa penguatan di hulu, hilir bakal terus dipenuhi. Namun tanpa kesiapan di hilir, keberanian korban untuk bersuara bakal kembali padam.

Dampaknya jelas: kepercayaan publik meningkat.

Ketika masyarakat merasa sistem datang dan bekerja, keberanian untuk melapor pun tumbuh. Dan di titik inilah, nomor nan meningkat justru dapat dibaca sebagai parameter kemajuan—bahwa tak bersuara mulai tergantikan oleh keberanian.

Namun demikian, perihal ini tidak boleh membikin kita lengah. Tingginya nomor tetap menjadi sirine bahwa kekerasan tetap terjadi dan memerlukan sistem pencegahan nan lebih inovatif dan penanganan nan lebih komprehensif. Karena itu, perspektif nan seimbang menjadi kunci: memandang nomor bukan hanya sebagai masalah, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperkuat sistem.

Tujuan kita bukan sekadar menurunkan nomor laporan, melainkan memastikan tidak ada lagi korban nan terpaksa diam. Sebab, dalam rumor ini, nan paling rawan bukanlah nomor nan tinggi—melainkan bunyi nan tidak pernah terdengar.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan