Kejutan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Kejutan      Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SALAH satu kekuatan dan daya tarik sepak bola adalah kejutannya. Sampai sebelum wasit meniupkan peluit panjang, tidak pernah ada nan bisa diprediksi. Segala sesuatu bisa terjadi di lapangan hijau.

Seminggu setelah Piala Dunia 2026 bergulir, begitu banyak kejutan nan terjadi. Siapa nan menyangka Korea Selatan bisa mengalahkan Ceko 2-1. Bagaimana Jepang bisa bangkit dari ketertinggalan untuk memaksa Belanda bermain seri 2-2.

Kita juga memandang Arab Saudi nan bisa memaksa juara bumi dua kali, Uruguai, bermain seri 1-1. Terakhir Kongo, negara nan sedang dilanda pandemi Ebola, membikin Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan dari Portugal kudu puas dengan hasil seri 1-1.

Namun, cerita nan tidak habis-habisnya dibahas adalah ketika Tanjung Verde menahan juara bumi Spanyol 0-0. Bagaimana negara kepulauan mini di tengah Samudra Atlantik, sebelah barat Senegal, bisa menahan gempuran negara raksasa sepak bola bumi nan bergelimangan pemain bintang. Sampai pemain sekelas Lamine Yamal pun tidak bisa menjebol gawang mereka.

Para pendukung La Furia Roja menilai Tanjung Verde memainkan sepak bola negatif, melakukan strategi parkir bus. Namun, persoalannya, di tengah gempuran nan begitu dahsyat dan begitu banyak kesempatan matang nan didapatkan, kiper kawakan Vozinha selalu bisa berdiri untuk menepis semua bola nan hendak masuk ke dalam gawangnya.

Pelatih Argentina pada 1978, Cesar Luis Menotti, sering menyampaikan, dalam arena seperti Piala Dunia selalu ada empat kelompok. Pertama adalah tim pecundang nan biasa dimanfaatkan untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya. Kedua, tim kuda hitam nan tampil mengejutkan. Ketiga, tim penantang nan datang untuk menantang tim-tim juara. Dan, keempat, tim calon juara nan datang untuk mengukuhkan hegemoni sepak bola mereka.

Babak awal merupakan ancaman bagi tim calon juara. Karena semua tim mau membikin kejutan dan melakukan beragam langkah untuk bisa mengalahkan tim-tim besar. Mereka nan lengah di babak awal bisa angkat koper lebih dulu.

Prancis, Spanyol, dan Jerman pernah mengalami masa pahit seperti itu. Bahkan Jerman dua kali berturut-turut tersingkir di babak awal justru setelah mereka memenangi Piala Dunia nan keempat kalinya pada 2014 di Brasil.

Dengan 48 tim nan berkompetensi di Piala Dunia kali ini, perjalanan ke tangga juara semakin panjang. Apabila sebelumnya sang juara hanya perlu menjalani tujuh pertandingan selama sebulan, kali ini tim juara kudu bertanding delapan kali dalam waktu lima pekan.

Peluang bagi setiap tim untuk melaju ke babak knock-down dan melanjutkan kejutan menjadi lebih besar. Setiap tim nan bisa mengumpulkan 4 poin berkesempatan menjadi salah satu dari delapan ‘the best losers’ untuk berasosiasi dengan 24 tim terbaik nan berkuasa otomatis lolos ke babak 32 Besar.

Inilah nan membikin pertandingan kedua pekan ini bakal menjadi lebih menarik dan penuh kejutan. Semua bakal berupaya untuk tidak menjadi tim pertama nan kudu angkat koper dari gelanggang.

Tentunya kita berambisi Piala Dunia 2026 diwarnai dengan sejarah nan indah. Setidaknya tinta emas pertama sudah ditorehkan oleh mahabintang sepak bola Lionel Messi. Ia menjadi pemain paling paling tua nan bisa mencetak hattrick di arena Piala Dunia.

Di usia nan ke-38 tahun, Messi sudah tergolong pemain nan ‘uzur’. Pele memutuskan untuk gantung sepatu pada usia 36 tahun. Di era speed and power games seperti sekarang, usia menjadi aspek nan menentukan.

Namun, Messi menunjukkan bahwa dirinya adalah ‘the real greatest of all time’. Ia tidak perlu bergerak penuh selama 90 menit pertandingan. Tetapi, di saat diperlukan, dia tampil seperti macan nan lapar. Tiga gol nan dia ciptakan ke gawang Aljazair adalah gol-gol bagus nan menghibur pencinta sepak bola.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia