Sifra Takain hidup berbareng orangtua disabilitas. Semangat hidupnya kembali bangkit setelah menjadi salah satu siswi di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sifra, sapaan akrabnya berbareng ayah dan ibunya, Maskrim Takain (39) dan Tapui Aksamina Lobang (40) selama ini tinggal di Desa Oeltua, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang. Kedua orangtuanya mengalami kebutaan alias tunanetra.
Kondisi itu dialami oleh orangtuanya sejak Sifra lahir 13 tahun lalu. Dia bercerita, ayah dan ibunya sebenarnya terlahir dengan bentuk nan normal tanpa kekurangan apapun. Namun, saat kecil, Maskrim, sang ayah menderita suatu penyakit nan menggerogoti tubuhnya hingga menyebabkan kebutaan. Tetapi, dia juga tidak tahu pasti nama penyakit tersebut.
"Organ dalamnya luka, tapi tidak tahu penyebabnya sampai luar badan juga luka. Terakhir sampai merambat di mata, jadinya buta. Kalau penyebab ibu buta, saya kurang tahu," kata Sifra.
Maskrim sempat dibawa ke master untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, upaya itu terlambat dilakukan lantaran penyakitnya sudah kronis.
"Dokter bilang sudah terlanjur parah dari dalam, jadi sudah terlambat. Dikasih obat, tapi tidak bisa (menyembuhkan)," ungkap Sifra.
Keadaan ini membikin kedua orangtuanya cukup kesulitan mendapatkan pekerjaan. Keluarga Sifra pun setiap hari hanya bisa beraktivitas membersihkan rumah opa dan omanya nan berada di satu desa.
Orangtua Sifra mencuci, menyapu, hingga menimba air dari sumur. Keduanya juga turut membantu menjaga gerai sembako milik opa dan omanya.
Dari seluruh pekerjaan itu, Soleman Takain, opa Sifra memberikan bayaran dalam corak duit maupun beras dan sembako lainnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. "Sehari-hari dapat duit dari opa. Kalau tidak dari opa, terima (bantuan) dari PKH (Program Keluarga Harapan)," ujar Sifra.
Selain mengandalkan support pemerintah dan keluarga, orang tua Sifra juga membuka upaya pijat refleksi di rumahnya. Penghasilan dari pijat tunanetra tidak menentu. Bahkan, terkadang jasa mereka tidak dibayar oleh pelanggan. Padahal Maskrim dan Aksamina tidak menetapkan nominal tarif maupun lama pijat.
"Kadang ada nan bayar Rp 50 ribu, kadang juga ada nan tidak bayar," jelas Sifra.
Kondisi bentuk kedua orangtuanya menjadi motivasi Sifra untuk bercita-cita menjadi seorang dokter. Ia mau kelak dapat membantu banyak orang sakit dalam mendapatkan penanganan medis.
"Mau jadi master agar bisa merawat orang nan sakit," ucap Sifra dengan penuh minta dan senyum nan merekah.
Kini, Sifra sedang mengejar mimpinya di SRMP 19 Kupang. Di sekolah berkonsep pondok ini, dia dapat menimba pengetahuan dengan tenang dan nyaman tanpa perlu mengkhawatirkan biaya.
Di sekolah tersebut, seluruh kebutuhan para siswa juga ditanggung oleh negara. Mulai dari seragam, sepatu, tas, makanan, hingga perlengkapan sekolah lainnya.
Berbagai akomodasi dengan kualitas nan mumpuni juga disediakan di Sekolah Rakyat, seperti perpustakaan, laboratorium sains, laboratorium komputer, lapangan olahraga, serta tempat ibadah.
Sifra mengaku senang bisa berguru di SRMP 19 Kupang lantaran bisa mempelajari banyak perihal baru, salah satunya mata pelajaran coding. Anak sulung dari tiga berkerabat ini juga aktif mengikuti beragam aktivitas ekstrakurikuler di sekolah. Mulai dari taekwondo, Pramuka, futsal, jurnalistik, hingga paduan suara.
"Terima kasih Bapak Presiden (Presiden Prabowo Subianto) lantaran sudah membuka Sekolah Rakyat bagi kami family nan tidak mampu," katanya.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·